Terkini

Oleh: Alfian Tanjung

FPI Online, Jakarta - Rezim Jokowi sangat welcome dengan Musuh Islam juga musuh negara yakni PKI, agaknya, hutang budi dan hutang janji akan segera dipenuhi pada saat kampanye pilpres.

Diantara janji sang Presiden adalah akan menuntaskan persoalan HAM masa lalu, artinya Jokowi telah menunjukkan wajah aslinya dia adalah pendukung comebacknya PKI, melalu tangan Luhut Binsar Panjaitan dan Agus Wijoyo (anak angkat Jenderal Soetoyo) yang diberi otoritas sebagai Gubernur Lemhanas.

Sementara Gerombolan PKI memulai dengan HUT RI ke 70 pada tahun 2015, dengan mengibarkan bendera PKI di Jawa Timur, Jakarta dan Sumatera Barat.

Ditahun 2016 ada Empat agenda PKI yakni Belok Kiri Fest, Simposium PKI, Pemutaran Film Pulau Buru Tanah Air Beta dan HUT PKI yang ke 102 (menurut kader PKI domestik ke 96). Karena penamaan PKI baru disosialisasikan tanggal 23 Mei 1920, semuanya dipuncaki dengan permohonan maaf pemerintah pada PKI, sebuah peran antagonis dan dagelan yang tidak lucu, Ada negara yang meminta maaf pada pihak yang pernah memberontak pada pemerintahan yang sah.

Jokowi memerintahkan LBP untuk mencari kuburan korban PKI, INGAT! PKI telah membantai sejak 1945, 1946, 1962, 1963, 1964, 1965 sampai 1968 PKI, apa yang dialami oleh Gerombolan PKI merupakan resiko dari SIAPA MENABUR ANGIN AKAN MENUAI BADAI. Artinya sikap memutarkan balikkan fakta sejarah akan membuat satu gerakan pengganyangan PKI akan kembali bergerak, dan itu merupakan kepastian sejarah.

Jokowi telah menyiapkan killing ground untuk dirinya dan para pemimpi PKI, Kenapa demikian?
Umat Islam akan dan pasti Bersatu, NU dengan Bansernya, Muhammadiyah dengan KOKAMnya, PII dengan Brigadenya dan KAPPI, HMI dengan KAMInya, Laskar Santri, Laskar Masjid, ditambah dengan FPI, Taruna Muslim, BARAK, KOBAR, GBN, FAK, FAKI, AAK, dan satuan perlawanan lainnya, TNI semua angkatan dan POLRI jelas akan membuktikan sumpah prajurit dan sumpah bhayangkara mereka bahwa PKI adalah musuh negara.

Artinya, Jokowi dan Gerombolan PKI anda jangan bermimpi untuk membuat PKI sang pengkhianat bangsa untuk hidup kembali. Dengan demikian sangat jelas dan terang benderang siapapun yang secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan membangun kembali PKI dia akan mengulangi nasib yang sama, yakni akan terkubur dalam kubur yang sama, sebelum terulang hal yang sama, hentilkanlah cara-cara yang hanya akan berujung dengan Prahara, huru-hara serta pertumpahan darah yang pemicunya adalah PKI yang mencoba untuk menyiapkan Kudetanya yang ke-3.

SEJARAH INDONESIA TIDAK MEMBERI RUANG, PELUANG DAN POSISI UNTUK KAUM ANTI TUHAN, ANTI KEMANUSIAAN, PENENTANG ALAM, ANTI DEMOKRASI DAN IDIOLOGI USANG. PKI PASTI AKAN DIGILAS OLEH KAUM BERTAUHID DENGAN KEYAKINAN PENUH PADA TUHAN YANG MAHA ESA YAITU ALLAH SWT YANG SENANTIASA MEMBERI RAHMAT-NYA.

*Founder Indonesia Communist Center (ICC)

FPI Online, Jakarta - Kondisi Ibukota Jakarta dibawah kekuasaan bengis Gubernur Ahok yang menggusur warga miskin, berbuat sewenang-wenang, kasar dan suka memaki membuat keprihatinan Umat Islam dan para alim ulama di daerah.

Para Alim Ulama yang tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA) mengeluarkan seruan untuk membantu ummat Islam Jakarta yang sedang menghadapi kezaliman pemimpin non muslim yang sangat arogan.

Berikut ini seruan Aliansi Ulama Madura (AUMA) untuk membantu ummat Islam Jakarta yang sedang menghadapi kezaliman pemimpin non muslim yang sangat arogan Ahok dan para pendukungnya. Dikutip dari situs NU Garis Lurus:

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sehubungan dengan adanya musibah yang menimpa saudara-saudara kita ummat Islam di “Jakarta”,
Kami Aliansi Ulama Madura (AUMA) memberitahukan kepada segenap ummat Islam, bahwa membantu dan membela mereka adalah wajib fardlu ‘Ain sesuai dengan kemampuan, paling tidak dengan do’a seperti Qunut Nazilah yang tertera dibawah ini, apalagi dengan semacam Istighatsah dan do’a bersama di Masjid, Musholla dan Majlis-Majlis Ta’lim.

( قنوت نازلة أتاس مصيبة جاكرتا )

أَللَّـهُـمَّ انْـصُــرِ اْلإِسْــلاَمَ وَالْمُسْــلِـمِيْنَ فِيْ “جاكرتا” وَفِيْ جَـمِيْعِ الْـعَـالَـمِ، عَـلَى أَعْــدَائِـهِمْ (Ahok) وَأَعْوَانِهِمْ مِــنَ الْكَـفَـرَةِ وَالْـمُشْــرِكِـيْنَ وَالْـمُـلْـحِـدِيْنَ، أَللَّهُمَّ دَمِّـرْهُــمْ تَدْمِيْرًا، وَصَلىَّ اللهُ عَـلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّّدٍ، وَعَـلَى آلِــهِ وَصَـحْـبِهِ وَسَــلَّمَ، وَالْـحَـمْـدُ ِللهِ رَبِّ الْـعَـالَـمِـيْنَ.

Artinya: “Ya Allah! Berilah kemenangan bagi Agama Islam dan ummat Islam di Jakarta dan di alam semesta, untuk mengalahkan para musuh-musuhnya (Ahok) dan pendukung-pendukungnya yang terdiri dari orang-orang kafir, musyrik dan Mulhidin, Ya Allah hancurkanlah mereka dengan sehancur-hancurnya”.[portalpiyungan]

FPI Online, Jakarta - Belakangan ini diberbagi media sosial ramai memperdebatkan pemberitaan tentang tingkah laku "Islam Nusantara" yang menyanjung Hary Tanoe Bos MNC Group berceramah di masjid dan pesantren, disambut dengan hadroh, santriwati berebut salaman dengan mencium tangannya.

Di lain hari mereka begitu bersemangat menolak dakwah dari seorang habaib yang sudah jelas beragam Islam yaitu ketika Habib Sholeh Al-Jufri  memberikan pengajian umum di Masjid Agung Al-Munawarah Tulungagung, mereka datang sebanyak lima truck berseragam Banser dan GP Anshor membubarkan acara Isra Wal Miraj Nabi Muhammad SAW yang mengundang penceramah Habib Sholeh Al-Jufri dari Ponpes Darul Mustofa, Solo.

Kunjungan Hary Tanoe bermula di Pondok Pesantren Al Tsaqafah milik Said Aqil Siraj di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Minggu (13/03/2016). Setelah pertemuan di hari tersebut Hary Tanoe diperkenalkan ke sejumlah pimpinan pesantren lainnya dan diperkenankan bercerah di Masjid juga bersalaman dengan para santri dan santriwati.

Pemandangan ini menjadi miris karena mereka yang selama ini menamakan diri sebagai penebar "Islam Nusantara" begitu akrab dan bisa bermesraan dengan non muslim tapi mereka menentang dakwah seorang ulama yang sangat santun Habib Sholeh Al-Jufri piminan Majelis Rasulullah ketika akan berceramah pada peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Jum'at (22/4/2016) di Masjid Agung Al-Munawarah Tulungagung.

Tanggapan Ketua Ansor Garis Lurus KH. Jakfar Shadiq
“GP Ansor Tulungagung salah sasaran. Habib Sholeh Al Jufri dari Solo adalah Ketua Majelis Rasulullah. Beliau secara rutin tiap bulan mengisi pengajian dimasjid kemajoran Surabaya yang mana masjid tersebut dibawah naungan PCNU Surabaya. Beliau juga secara rutin mengisi pengajian dipondok -pondok dan masjid -masjid NU di Madura. Kami Ansor NU GL atau Ansor Aswaja GL sangat kecewa dengan sikap Ansor Tulungagung. Ana pengurus PW GP Absor Jatim sejak 1999 – 2014.

FPI Online, Jakarta - Sekjen Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustaz Bachtiar Nasir menentang keras kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) terkait penggusuran di Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Ulama yang kebetulan berasal dari Luar Batang ini, tidak rela kampung halamannya digusur dengan semena-mena oleh Ahok. 
 
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini tanah di DKI Jakarta mayoritas dikuasai oleh segelintir orang, dan itu dilakukan secara "legal" lewat aturan yang dibuat penguasa. 
 
"Masuk akal gak sih gara-gara anda taat hukum, akhirnya tanah di Jakarta 70 persen dikuasai oleh segelintir orang, ini yang disebut taat hukum. Lewat perda, lewat undang-undang, inilah hukum di negeri ini. Negara dirampok masih saja bilang ini hukum," ujar Ustaz Bachtiar Nasir dalam sebuah video ceramahnya yang dikutip Suara Islam Online, Kamis (28/4/2016).
 
Menurutnya, yang membuat negara ini merdeka dan luasnya tidak terkira adalah karena luasnya jiwa dan keikhlasan para pendiri bangsa ini, luasnya keberanian mereka untuk bangsa ini sehingga setiap jengkal tanah ini dibayar darah dan nyawa.
 
"Padahal dahulu belum ada jenderal, tetapi sekarang khususnya TNI Angkatan Darat dan Polri, kok mau dipakai Ahok atas nama undang-undang dan peraturan. Apa tidak melihat reklamasi itu mau kemana? kata Ustaz Bachtiar.
 
"TNI dan Polri melakukan itu karena taat aturan kan, ikuti saja terus aturan itu, habis lama-lama Jakarta ini. Silahkan saja ikuti aturan, anda jadi anak manis saja, akan habis Indonesia," tambahnya.
 
"Seandainya Diponegoro, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol dahulu taat aturan pada saat itu, jadi berjuang gak? terus ada Indonesia?" tanyanya.
 
Oleh karena itu, kata Ustaz Bachtiar, kita harus melawan hukum dengan hukum yang lebih tinggi, hukum yang lebih kuat. Ia berpesan agar jangan pernah takut dengan penguasa manapun selama kita yakin bahwa Allah satu-satunya penguasa di muka bumi ini.
 
Sumber : Suara-Islam.online

FPI Online, Jakata - Warga Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, akhirnya bisa bernapas lega. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, mengabulkan seluruh gugatan warga terkait lokasi sodetan Kali Ciliwung. 
Panitera pengganti PTUN, Eni Nuraeni, membenarkan kemenangan warga Bidara Cina tersebut. "Ya pada sidang kemarin, hasil amar putusannya majelis hakim mengabulkan seluruh gugatan warga Bidara Cina," ujar Eni kepada awak media di PTUN, Rabu (27/4/2016).
Adapun sejumlah pertimbangan majelis hakim dalam amar putusan tersebut antara lain, pihak tergugat, Pemprov DKI Jakarta tidak hadir saat persidangan. Meski demikian, berkas salinan putusan tersebut belum bisa dipublikasikan.
"Ya itu (tergugat tidak hadir) salah satu poin pertimbangannya. Salinan belum bisa dipublikasikan," ujar dia.
Eni menyebut, berkas putusan itu belum ditandatangani oleh majelis hakim. "Karena belum ditandatangani oleh Majelis Hakim," tuturnya.
Seperti diketahui, warga Bidara Cina mengajukan gugatan dengan nomor 59/G/2016/PTUN-JKT. Gugatan tersebut terkait dengan penetapan lokasi sodetan Kali Ciliwung yang berubah tanpa sepengetahuan warga.
Dalam pembacaan putusan di PTUN Jakarta, Senin 26 April 2016, majelis hakim memenangkan warga Bidara Cina karena menganggap SK Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama terkait penetapan lokasi untuk pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur telah melanggar asas-asas pemerintahan yang baik.
Atas kemenangan warga ini, kuasa hukum warga Bidara Cina, Yusril Ihza Mahendra pun langsung menyindir Ahok.
"Ahok menyadari ketika kami membela masyarakat di Bidara Cina (Jakarta Timur), dia kan kalah sama kita. Sementara ini sudah 1-0," kata Yusril yang kini juga menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta.
Sementara itu atas kekalahan telaknya melawan warga Bidara Cina di PTUN ini, Ahok enggan mengomentarinya. "Biasa aja," kata Ahok di Balai Kota, Rabu (27/4/2016).
Meski kalah di PTUN, Ahok mengatakan, sodetan Ciliwung-Kanal Banjir Timur (KBT) tetap berlanjut. "Jalan aja," kata Ahok. 
Sumber : Suara-Islam.online

FPI Online, Jakarta - Kasus pembelian lahan Sumber Waras nampaknya mulai kehilangan arah. KPK yang pernah memanggil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beberapa waktu lalu tidak menunjukkan hasil signifikan.
Padahal data pelanggaran yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Kuangan (BPK) ataupun lainnya menunjukkan telah ada pelanggaran. Gerakan Tangkap Ahok (GTA) pun tidak tinggal diam. Mereka yang menurut informasi akan melakukan demo di depan KPK berharap kasus tersbut segera diselesaikan.
Mereka pun mengeluarkan tuntutan, di antaranya KPK harus menuntaskan penanganan Sumber Waras. “Mendesak KPK agar serius dalam menangani kasus korupsi berjamaah pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras,” demikian yang terlampir dalam undangan.
GTA juga meminta kepada KPK, melihat bukti-bukti yang ada, Ahok sudah dapat dijadikan tersangka. “Segera tetapkan Ahok sebagai tersangka, karena terlibat korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, yang menyebabkan kerugian negara sebanyak Rp. 191 Milyar.”
Bila tuntutan itu tidak diamini oleh KPK, maka gerakan ini meminta lima pimpinan KPK untuk segera mengundurkan diri. “Apabila tuntutan ini tidak segera ditindak lanjuti oleh ke lima Pimpinan KPK, maka kami atas nama Gerakan Tangkap Ahok (GTA) meminta ke lima Pimpinan KPK untuk mundur dari jabatanya.”
Sebelumnya telah banyak membuka bahwa adaya beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta di dalam membeli lahan tersebut. Misalkan saja yang kentara ialah tidak sesuainya antara tanah dengan alamat tanah yang dibeli.

Sumber : Voa-Islam.com



KPK harus tuntaskan KORUSI TRALALA TRILILI yang merugikan negara trilyunan rupiah dalam Reklamasi Teluk Jakarta. Periksa dan Tangkap semua pihak yang terlibat, baik Pengusaha mau pun Pejabat, baik Eksekutif mau pun Legislatif, TANPA TERKECUALI, walau pun harus ada 1001 Tersangka, jebloskan semuanya ke Penjara.

KPK tidak boleh kalah dengan Korupsi ... !!!

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.