Terkini


FPI Online, Pandeglang - Dewan Pimpinan Wilayah Front Pembela Islam (DPW FPI) Pandeglang Banten hari ini Sabtu (13/2/2016) meresmikan sekaligus melantik 40 Dewan Pimpinan Ranting (DPRa) baru di Masjid Jami Nuruttawwa Banyu Asih Kadu Hejo Pandeglang Banten.

Pelantikan ini dihadiri langsung oleh Imam FPI Banten, KH. Buya Ahmad Qurthubi Jailani. Hadir pula beberapa pengurus DPD FPI Banten, pengurus DPW FPI Pandeglang, serta ratusan laskar dan simpatisan FPI. 

Menurut KH. Fachrurrozi, Ketua FPI Provinsi Banten, FPI sudah ada 34 DPC di setiap kecamatan di wilayah Pandeglang. Ia menuturkan bahwa Pandeglang sangat cocok dengan FPI.  

"Pandeglang memang daerah Seribu Kyai Sejuta Santri, sangat cocok dengan FPI." pungkasnya.

Red: Alfatih


FPI Online, Jakarta - Musibah kebakaran kembali melanda permukiman warga Petamburan III Tanah Abang Jakarta Pusat, Kamis (11/2/2016) malam sekitar pukul 22.15. Sebanyak 25 rumah warga dilaporkan ludes dilalap si jago merah.

Sebanyak 30 mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan kebakaran yang lokasinya hanya berjarak puluhan meter dari Markaz Pusat Front Pembela Islam.

Penyebab kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik. Namun demikian, penyebab pasti masih dalam penyelidikan. Belum pasti berapa angka kerugian yang diderita akibat kebakaran ini. 

Mengetahui ada kebakaran, Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, yang malam itu sedang dakwah di wilayah Jakarta, langsung meluncur ke lokasi. Beliau langsung instruksikan laskar FPI untuk segera buka Posko Relawan Kemanusiaan untuk membantu para korban serta menggalang bantuan.

Menurut Habib Ali Alhamid, Ketua Hilal Merah Indonesia (Salah satu sayap juang FPI) saat ini kebutuhan yang mendesak adalah makanan, pakaian, selimut, pampers, susu bayi, dan lain-lain.

“Untuk rekonstruksi rumah warga yang rusak berat kita butuh dana yang cukup besar. Beberapa rumah bahkan nampaknya harus dibangun kembali dari nol karena sudah sangat rapuh.” Katanya saat dihubungi FPI Online usai meninjau lokasi.

Karena itu, ia berharap kepada para dermawan untuk rela mengulurkan bantuannya meringankan penderitaan para korban.  (Alfatih)

------
Bagi Anda yang ingin menyalurkan bantuan, silahkan langsung datang ke Posko Kemanusiaan FPI di Jl. Petamburan III Tanah Abang Jakarta Pusat.

Atau bisa lewat Rekening Kemanusiaan FPI Bank Syariah Mandiri No. 7001440707 (Mohon konfirmasi setelah transfer ke Ustad Haris Ubaidillah 08170062507)


FPI Online, Ciamis - Front Pembela Islam Ciamis berhasil menggerebek dan menggagalkan peredaran puluhan drum minuman keras jenis tuak di Kampung Pulo Erang Kecamatan Lakbok Ciamis Selatan Jawa Barat, Kamis (11/2/2016). Sebanyak 73 drum berisi tuak disita dan diserahkan ke Polres Banjar.

Keberhasilan ini adalah berkat laporan salah seorang warga pada 3 hari sebelumnya. Kepada FPI ia menyampaikan kecurigaannya atas aktivitas salah satu rumah yang sejak seminggu terakhir ditengarai digunakan sebagai tempat produksi miras.

Berbekal informasi tersebut, FPI lalu mengirim beberapa laskar untuk melakukan investigasi serta mengumpulkan berbagai data. Dan benar saja, rumah tersebut memang digunakan sebagai gudang penampungan Nira yang difermentasi menjadi tuak.

Dari investigasi itu pula, FPI berhasil membaca adanya rencana pengiriman puluhan drum miras ke kota Bandung dengan menggunakan mobil box. Pengiriman miras inilah yang akhirnya berhasil digerebek dan digagalkan laskar FPI di tengah jalan.

Selain itu, komplotan ini ternyata juga masih menyisakan beberapa drum miras di rumah mereka. Namun dengan dibantu aparat kepolisian akhirnya semua barang bukti dan pelaku berhasil disita dan diamankan.

Red. Alfatih


"KOMPAS TV BERAT SEBELAH"
by Adif Sahab

Acara dialog Program Khusus yang membahas soal LGBT di Kompas TV tadi malam (Kamis, 11/2/2016) tampak sekali berlangsung berat sebelah memihak kelompok LGBT dan pro-(legalisasi) LGBT.

Dari 5 narasumber yang diundang 3 di antaranya dari pihak LGBT dan pro-LGBT (1 gay yang juga aktivis LGBT dan 2 orang pro-LGBT), 1 orang netral.

Dan hanya 1 orang yang mewakili pihak kontra-LGBT. Itupun yang mewakili kubu kontra-LGBT adalah politisi yang tidak begitu paham peta isu LGBT sehingga argumen-argumen yang ia kemukakan terlalu normatif dan subjektif. Tentu akan lain ceritanya jika yang diundang mewakili pihak kontra-LGBT adalah psikolog yang menganut paradigma bahwa homoseksualitas adalah penyakit kejiwaan dengan didukung data-data hasil riset sekaligus paham peta isu LGBT.

Ini masih ditambah dengan cara host Rosiana Silalahi memandu dialog yang amat terlihat kecondongannya kepada kubu LGBT dan pro-LGBT. Bisa diamati dari pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan kepada para narasumber.

Mengikuti bergulirnya dialog yang tidak berimbang ini bisa saja timbul persepsi bahwa mereka yang menolak LGBT hanyalah orang-orang kolot yang kurang piknik.

Tidak berhenti sampai di situ, acara sempat terjebak menjadi sentimentil ketika si aktivis gay menceritakan pengalamannya dan teman-temannya yang mendapat perlakuan tidak manusiawi. Saat ia bercerita dengan nada emosional nyaris menangis kamera meng-close-up wajahnya sebelum kemudian diakhiri tepuk tangan penonton -tentu dengan arahan floor director- lalu acara memasuki jeda iklan.

Yang juga menarik, 2 orang yang mewakili suara kubu pro-LGBT adalah perempuan berkerudung sedangkan si aktivis gay mengenakan peci.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa seolah ada pesan tersirat: tidak mengapa menjadi LGBT atau pendukung legalisasi LGBT sekaligus menjadi seorang yang religius.

Tentu saja tidak ada media yang netral, tapi jika kembali ke prinsip paling mendasar dalam dunia jurnalistik yaitu "cover both sides" kita bisa memepertanyakan apakah Program Khusus Kompas TV tadi malam sudah betul-betul memenuhi prinsip tersebut?

Atau hanya sekadar memenuhi "cover both sides" secara nominal dengan (sengaja?) mengundang orang yang tidak kompeten untuk mewakili kubu kontra? (Sebatas agar terkesan mematuhi prinsip "cover both sides" -padahal sebenarnya tidak)?

Jika para pegiat literasi media konsisten menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik saya pikir tayangan Kompas TV tadi malam juga harus mendapat perhatian. Itu kalau memang mau konsisten.[fb/portalpiyungan.com]


FPI Online, Purwakarta - Patung Arjuna yang berada di areal wisata Situ Wanayasa, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat terbakar. Patung itu kini hanya menyisakan dua kaki dan dudukan patung. Sementara kepala, badan, hingga kaki yang terbuat dari fiber sudah tak bersisa. 

Dari keterangan sejumlah saksi, terbakarnya patung tersebut terjadi pada Kamis (11/02) dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB. Belum jelas apa penyebabnya.

Pihak Kepolisian dari Resor Purwakarta yang mendapat laporan atas kejadian tersebut langsung melakukan olah tempat kejadian perkara di sekitar lokasi kejadian.

"Iya betul, sekarang kami lagi olah TKP," kata Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP Dadang Garnadi.

Meski demikian, polisi belum bisa memberikan keterangan secara gamblang apa yang menjadi penyebab terbakarnya patung tersebut. "Nanti saya kabari," ujar Dadang singkat.

Untuk kepentingan penyelidikan polisi telah melakukan identifikasi oleh Tim Inafis Polres Purwakarta dan memberikan garis polisi yang melingkar di sekitar patung yang sebelumnya berwarna putih itu.

Red: Farhan/SI/dbs


FPI Online, Jakarta - Sebagai umat Islam konsekuensinya harus menjalankan ajaran Islam, apabila tidak mengamalkan ajaran Islam sudah pasti kita tidak akan mendapatkan pertolongan Allah SWT. Demikian dikatakan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) KH Shabri Lubis saat berceramah di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa malam (9/2/2016).

"Dahulu umat Islam jumlahnya sedikit tetapi mampu mengalahkan berbagai musuh, bangsa-bangsa yang besar dan kuat ketika itu bisa ditaklukan oleh umat Islam. Kenapa, karena saat itu umat Islam mengamalkan al Islam, Alquran Assunnah dijalankan dengan baik," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu ajaran Islam adalah tentang kepemimpinan. "Allah sang pencipta langit dan bumi di dalam Alquran lewat belasan bahkan puluhan ayat mengabarkan agar umat Islam tidak mengangkat orang kafir sebagai pemimpin," kata Ustaz Shabri.

Banyaknya ayat yang mengatur tentang kepemimpinan, menjadikan masalah ini sangat penting bagi umat Islam. "Satu ayat saja sebetulnya sudah cukup tetapi ini sampai puluhan ayat, dan isinya sangat tegas," jelasnya.

Ia mencontohkan, salah satu firman Allah di dalam surat An Nisa ayat 144, yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”

"Ayat ini menjelaskan, seakan-akan kalau kita angkat pemimpin kafir kita telah menantang Allah untuk menyiksa kita. Mau kita menantang hukum Allah? jangan coba-coba saudara," kata Ustaz Shabri.

Ia menambahkan ayat lainnya dari surat At Taubah ayat 23, dimana Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.”

"Jika bapak kita sendiri saja tidak boleh jadi pemimpin, apalagi paman, kakak, adik atau sepupu. Semakin jauh hubungan semakin tidak boleh jika mereka tidak beriman kepada Allah dan RasulNya," jelas Ustaz Shabri.

Sumber: Suara Islam Online
Red: Farhan


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah banyak sekali Nash Syar'i yang memaparkan tentang JIHAD dalam arti perang di jalan Allah SWT.

Dan dalam memaknai nash-nash Jihad tersebut, umat Islam harus ekstra hati-hati agar tidak terjebak paham Radikal yang IFRAATH atau pun paham Liberal yang TAFRIITH.

RADIKAL  IFRAATH

Kaum Radikal dalam memaknai Nash-Nash Jihad memakai sikap IFRAATH yaitu penafsiran berlebihan, sehingga menggenalisir bahwa semua orang Kafir, tanpa terkecuali, wajib diperangi dengan keras, boleh dirampas hartanya dan dianiaya raganya serta dibunuh jiwanya. 

Padahal, Rasulullah SAW semasa hidupnya tidak memerangi semua Kafir, apalagi membunuh seluruh Kafir. Bahkan ada orang-orang Kafir yang sakit dibesuk oleh Nabi SAW, dan yang miskin dibantu, serta yang terzalimi ditolong.

Karenanya, para Ulama sepakat bahwa yang wajib diperangi dengan keras adalah KAFIR HARBI yaitu orang-orang Kafir yang memusuhi dan mengganggu serta menyerang dan memerangi umat Islam. 

Sedang KAFIR DZIMMI yaitu orang-orang Kafir yang hidup berdampingan dengan umat Islam dan tidak mengganggu, maka tidak boleh diperangi, apalagi dijarah dan dibunuh.

Jadi, Kaum Radikal telah GAGAL PAHAM dalam memaknai JIHAD.

LIBERAL TAFRIITH

Kaum Radikal dalam memaknai Nash-Nash Jihad memakai sikap TAFRIITH yaitu penafsiran pelecehan, sehingga memvonis bahwa semua Nash Jihad adalah provokatif dan intoleransi, bahkan menjadi sumber radikalisme dan terorisme, sehingga harus dianulir  karena tidak relevan dan sudah kadaluarsa.

Padahal, Nash-Nash JIHAD dalam ajaran Islam tidak ada unsur Radikalisme mau pun Terorisme. JIHAD dalam Islam merupakan langkah Bela Agama, Bangsa dan Negara untuk menebar rahmat dan berkah. 

Karenanya, para Ulama sepakat bahwasanya Jihad bukan Terorisme, dan Terorisme bukan Jihad, sehingga Mujahid bukan Teroris, dan Teroris bukan Mujahid. Dalam Islam bahwasanya Jihad memiliki syarat, rukun dan adab yang tidak boleh dilanggar.

Jadi, Kaum Liberal juga telah GAGAL PAHAM dalam memaknai JIHAD.

DAJJAL, MORAL DAN SIAL

Jika umat Islam mengikuti paham Radikal, maka dimana-mana akan terjadi kekacauan, karena mereka akan seenaknya membunuh dan menjarah semua orang Kafir dengan mengatas-namakan Jihad.

Dan jika umat Islam mengikuti paham Liberal, maka dimana-mana juga akan terjadi kekacauan, karena mereka atas nama HAM dan KEBEBASAN akan seenaknya melecehkan Allah dan Rasul-Nya, serta menistakan Islam dan Al-Qur'an, sehingga akan memancing kemarahan umat Islam yang istiqomah.

Radikal dan Liberal dalam memaknai ajaran Islam sama-sama mengikuti hawa nafsu, sehingga keduanya sama berfikir nakal dan berpaham brutal.

Radikal dan Liberal adalah pengikut Dajjal karena sama-sama Perusak Moral sekaligus sama-sama Pembawa Sial.

Jadi, Radikal dan Liberal sama bahayanya, sehingga keduanya harus diantisipasi dengan tegas dan jelas.

DERADIKALISASI DAN DELIBERALISASI

Melihat bahaya yang ditimbulkan oleh Radikal dan Liberal, maka Ulama dan Umara wajib merapatkan barisan untuk melakukan DERADIKALISASI dan DELIBERALISASI.

DERADIKALISASI adalah penyadaran umat agar tidak terjebak dalam paham RADIKAL. Dan DELIBERALISASI adalah penyadaran umat agar tidak terjebak dalam paham LIBERAL.

Selama ini, Pemerintah RI sangat getol menggelar program DERADIKALISASI, tapi sayangnya dengan cara menggalakkan LIBERALISASI, sehingga ibarat "Mencuci Tahi dengan Air Kencing".

Padahal, justru LIBERAL penyebab suburnya ladang RADIKAL. Bgmn tidak ?! Tatkala Liberal melecehkan Islam, maka banyak umat Islam yang kecewa dan marah, saat itulah Radikal masuk memprovokasi umat yang sedang emosi untuk melakukan tindakan brutal atas nama Jihad membela agama.

Jadi, mestinya program DERADIKALISASI dan DELIBERALISASI dilakukan secara bersamaan dan simultan serta berkelanjutan. 

Wallaahul Musta'aan ...

Habib Muhammad Rizieq Syihab

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.