Terkini



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :

Pertama, Prof.DR.Yusuf Al-Qordhowi Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, menyatakan bahwa istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam kurang tepat, karena kata Madzhab berkonotasi Fiqih, sedang Khilaf dalam Fiqih dianggap sudah selesai, dan tidak lagi menjadi penyebab perpecahan umat Islam, serta dalam masalah Fiqih sudah terbangun dengan baik saling pengertian di antara umat Islam. Menurutnya, istilah yang lebih tepat adalah At-Taqriib Bainal Firoqil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Firqoh Islam, karena kata Firqoh  lebih fokus kepada Aqidah, dan memang Khilaf dalam Aqidah inilah yang belum selesai, dan telah membuat umat Islam masih terpecah belah hingga kini, bahkan saling menyesatkan dan mengkafirkan antara Firqoh, sehingga perlu dibangun upaya Taqrib Antar Firqoh Islam.

Kedua, Prof.DR.Kamaluddin Nurdin Marjuni, MA, seorang Guru Besar Aqidah dan Filsafat asal Indonesia di USIM (Universitas Sains Islam Malaysia), mengkritisi istilah Taqriib yang artinya Pendekatan, menurutnya istilah Taqriib yang artinya Pendekatan berkonotasi penyatuan Madzhab, sehingga sering disalah-pahami oleh umat Islam sebagai upaya penyatuan Madzhab-Madzhab Islam menjadi satu Madzhab saja, atau pemaksaan suatu madzhab kepada pengikut madzhab yang lain. Karenanya, menurutnya yang lebih tepat adalah istilah Tasaamuh yaitu Toleransi, sehingga bisa dipahami sebagai upaya membangun saling pengertian dan saling menghargai serta saling menghormati antar pengikut madzhab, tanpa menyatukan madzhab-madzhab yang ada, apalagi memaksakan suatu madzhab kepada pengikut madzhab lain. Jadi, istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam seyogyanya diubah menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab Islam.

ISTILAH UNIVERSAL

Kedua Kritik tersebut sangat ilmiah dan argumentatif serta tulus untuk mewujudkan dan membangun Ukhuwwah Islaamiyyah di antara umat Islam dalam aneka perbedaan paham Fiqih mau pun Aqidah selama tidak keluar dari batasan Ushuluddin yang sangat prinsip dan mendasar baik dalam Aqidah, Syariat mau pun Akhlaq.

Karenanya, berangkat dari kedua kritik akademik tersebut, maka istilah yang patut dipilih disini adalah At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam. Disini kata Madzhab tetap dicantumkan, karena masalah Fiqih hingga kini masih sering dieksploitasi dan dimanipulasi untuk memecah belah umat Islam, sehingga tetap perlu secara terus menerus dibangun Dialog Antar Madzhab Islam. Apalagi masalah Aqidah, tentunya lebih penting dan teramat darurat untuk dibangun Dialog Antar Firqoh Islam.

Namun demikian, terlepas dari perbedaan dan kritik istilah di atas, maka istilah yang lebih universal adalah : At-Tasaamuh Bainal Muslimiin yaitu Toleransi Antar Umat Islam.

MEMBANGUN TOLERANSI

Dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam maka yang pertama harus dilakukan adalah menghidupkan Dialog Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, secara ilmiah dan berakhlaqul karimah. Dialog adalah Pintu Gerbang untuk menumbuhkan saling pengertian antar penganut Madzhab dan Firqoh Islam, serta menjadi media untuk menyampaikan pendapat suatu Madzhab atau Firqoh dan mendengarkan pendapat Madzhab atau Firqoh lain. 

Allah SWT telah membimbing Nabi-Nya untuk selalu membuka diri dalam berdialog dengan orang-orang kafir. Bahkan Allah SWT memberi petunjuk dan arahan kepada Rasulullah SAW bahwasanya berdialog dengan orang-orang kafir dalam rangka berda’wah harus dengan cara yang terbaik, sebagaimana firman-Nya SWT dalam QS.16.A-Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya :  ”Serulah (Ahlul Kitab) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah (debatlah / dialoglah) mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnysa Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Nah, jika berdialog dengan orang-orang kafir saja harus dengan cara yang Terbaik, apalagi berdialog dengan sesama muslim. Dialog Lintas Agama saja harus dengan cara yang ramah dan santun, apalagi Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, termasuk Dilaog dengan Syi’ah dan Wahabi.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Siapa yang membaca artikel ini, sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu membaca TIGA ARTIKEL sebelumnya pada tanggal 12 s/d 14 Jan 2015, yaitu : Pertama tentang ISLAM, dan kedua tentang KAFIR, serta ketiga tentang KLASIFIKASI KAFIR. Sebab artikel ini dan ketiga artikel tersebut saling berkaitan, sehingga membacanya secara utuh akan memberi pemahaman yang komprehensif.

NABI PEMBAWA DAN PENEBAR RAHMAT

Dalam QS.21.Al-Anbiya : 107, Allah SWT menyatakan kepada Nabi Muhammad SAW :

ومآأرسلناك إلا رحمة للعالمين 

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) RAHMAT bagi semesta alam".

Rasulullah SAW adalah RAHMAT dari Allah SWT bagi Semesta Alam yang meliputi alam Manusia, Malaikat, Jin, Hewan dan Tumbuhan , serta seluruh isi Langit dan Bumi.

Karenanya, jika Syariat Nabi Muhammad SAW dilaksanakan dengan baik dan diterapkan sebagaimana mestinya, maka jangankan manusia, bahkan hewan dan tumbuhan pun tak akan pernah terzalimi.

ISLAM AGAMA KEDAMAIAN

Islam adalah agama Cinta dan Kasih Sayang. Ajaran Islam sangat mendorong upaya penciptaan 
kedamaian dan keamanan serta kenyamanan hidup bagi seluruh umat manusia.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari hadits ke-2.966 dan Shahih Muslim hadits ke-3.276, yang bersumber dari Abdullah b Abi Aufa RA, bahwasanya Rasulullah SAW di tengah istirahat dalam perjalanan pulang dari suatu Misi Jihad, berceramah di hadapan para Shahabatnya, rodhiyallaahu 'anhum :

"يا أيها الناس لاتتمنوا لقاء العدو ، واسألوا الله العافية . فإذا لقيتموهم فاصبروا ، واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف ".

"Wahai manusia, janganlah engkau berangan-angan bertemu musuh, tapi mohonlah kepada Allah ketenangan / keselamatan. Namun jika kamu terlanjur bertemu mereka (musuh), maka sabarlah (tegar pantang mundur). Dan ketahuilah bahwasanya Surga itu ada di bawah kilatan pedang."

Dari HADITS SHAHIH di atas sangat jelas sekali bahwasanya Rasulullah SAW mengajarkan :  Jangan ciptakan perang, tapi ciptakan tenang. Jangan cari lawan, tapi cari kawan. Jangan buat kerusuhan, tapi buatlah kedamaian. KECUALI,  jika musuh tidak dicari tapi datang sendiri, dan musuh tidak diundang tapi datang menyerang, maka umat Islam wajib melawan dan haram melarikan diri. Dan sesungguhnya Surga menanti mereka yang dengan sabar dan tegar membela agama Islam secara ikhlas karena Allah SWT.

Karenanya, umat beragama apa pun bisa hidup aman dan nyaman di tengah umat Islam, selama mereka jadi warga yang baik dan tidak mengganggu umat Islam.

HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

Dalam QS.49.Al-Hujuraat : 13, Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Dengan ayat ini jelas bahwa Islam menganjurkan agar umat manusia dari segala suku dan bangsa agar saling mengenal, bukan saling bermusuhan. Namun pada saat yang sama Islam tetap mengingatkan bahwasanya manusia termulia di sisi Allah SWT adalah yang paling bertaqwa.

10 PILAR TOLERANSI

Dan dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan antar umat manusia, apa pun agamanya, maka Islam telah meletakkan tidak kurang dari 10 (sepuluh) PILAR TOLERANSI, yaitu sebagai berikut :

1. Tidak boleh ada pencampur-adukkan agama Islam dengan agama apa pun.

2. Tidak boleh ada paksaan terhadap siapa pun  untuk masuk ke dalam agama Islam.

3. Kewajiban DA'WAH dengan Hikmah dan Mau'izhoh Hasanah serta Dialog dengan cara terbaik, tanpa melupakan kewajiban HISBAH dengan tegas dan JIHAD dengan keras sesuai aturan Syariat Islam.

4. Tidak ada larangan berbuat baik dan bersikap adil kepada umat agama lain.

5. Tidak ada larangan bermu'amalah dalam urusan sosial ekonomi kemasyarakatan
dengan orang di luar Islam.

6. Tidak ada larangan memanfaatkan tenaga non muslim untuk kemaslahatan umat Islam.

7. Kewajiban Penegakan Keadilan untuk semua umat manusia.

8. Larangan berbuat Zhalim terhadap Manusia mau pun Hewan dan Tumbuhan.

9.Larangan mencaci maki dan mencerca serta menghina dan menodai suatu agama, termasuk mengganggu atau menghalangi ibadah suatu umat beragama.

10. Kewajiban Penegakan Akhlaq Karimah sekali pun dalam situasi perang melawan Kafir.

Siapa yang ingin menyimak lebih dalam tiap-tiap pilar di atas lengkap dengan Dalil dan penjelasannya, silakan baca Buku penulis yang berjudul "Wawasan Kebangsaan - Menuju NKRI Bersyariah" Bab Kesatu Pasal TOLERANSI halaman 75 - 89 terbitan SUARA ISLAM.

BATASAN TOLERANSI

Di samping kita perlu mengenal dan memahami 10 (sepuluh) Pilar Toleransi, maka kita harus juga menyoroti Batasan Toleransi yang tidak boleh dilanggar oleh setiap muslim, yaitu :

A. Jangan campur aduk Ibadah / Aqidah, antara lain :

    1. Jangan sekali-kali mengatakan semua agama sama dan benar.

    2. Jangan sekali-kali memuji atau membela kesesatan agama di luar Islam.

    3. Jangan masuk ke rumah ibadah agama lain untuk ikut kegiatan keagamaannya.

   4. Jangan ikut merayakan Hari Raya agama lain, walau pun hanya sekedar mengucapkan selamat.

   5. Jangan gelar Doa Bersama dengan Kafir, sehingga muslim mengaminkan Doa Kafir kepada Tuhannya.
  
B. Jangan campur aduk Syariah / Hukum, antara lain :

    1. Jangan melakukan perkawinan Islam dengan Kafir.

    2. Jangan ada saling mewarisi antara Muslim dan Kafir.

    3. Jangan jadikan Kafir sebagai Pemimpin bagi umat Islam di negeri-negeri muslim.

   4. Jika bermu'amalah dengan Kafir, maka jangan sekali-kali terlibat dengan Riba atau hal lain yang diharamkan dalam Syariat Islam.

    5. Jangan sekali-kali membantu orang Kafir untuk menzholimi Muslim dengan alasan apa pun.

Dengan demikian, Toleransi dalam ajaran Islam ada batasan yang tidak boleh dilanggar, sehingga tidak kebablasan.

Ayo ... , kita bangun Toleransi yang Syar'i !

Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... !!!



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

MENGKAFIRKAN KEKAFIRAN

Mengkafirkan kekafiran adalah Kewajiban Agama, tapi tidak berarti mencerca dan mencaci makinya. Mengatakan orang kafir sebagai KAFIR adalah Ketentuan Ilahi, tapi tidak berarti harus memusuhinya, apalagi memerangi dan membunuhnya.

Orang Kafir ada yang wajib diperangi, tapi ada juga yang haram diperangi. Karenanya, umat Islam wajib mengetahuinya agar mampu membedakan mana yang harus diperangi dan mana yang tidak boleh diperangi.

EMPAT GOLONGAN KAFIR

Islam mengklasifikasikan orang kafir menjadi 4 (empat) golongan, yaitu :

1. KAFIR HARBI : yaitu orang kafir yang memusuhi dan memerangi Islam dan umatnya.

2. KAFIR DZIMMI : yaitu orang kafir yang hidup di Negeri Muslim dan menjadi warga yang baik.

3. KAFIR MU'AHID : yaitu orang kafir di Negari Kafir yang punya perjanjian dengan Negeri Muslim untuk tidak saling mengganggu, bahkan justru bekerja sama dalam berbagai bidang untuk maslahat rakyat masing-masing negeri.

4. KAFIR MUSTA'MAN : yaitu orang kafir yang mendapat HAK DIPLOMATIK atau SUAKA POLITIK di Negeri Muslim.

Dari keempat Golongan Kafir tersebut di atas, hanya golongan KAFIR HARBI saja yang WAJIB DIPERANGI untuk membela dan mempertahankan Islam dari gangguannya. Sedang tiga golongan kafir yang lainnya HARAM DIPERANGI, bahkan wajib diperlakukan dengan baik dan adil.

KAFIR MAKHLUQ TERBURUK

Kafir yang mana pun dinyatakan oleh Allah SWT sebagai Makhluq Terburuk, dan akan masuk Neraka Jahannam, serta kekal di dalamnya, sebagaimana firman-Nya SWT dalam QS.98.Al-Bayyinah ayat 6 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang Musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk."

Kekafiran adalah seburuk-buruknya perbuatan, sehingga siapa saja yang melakukannya akan menjadi seburuk-buruknya makhluq. Bagaimana tidak terburuk ?  Allah SWT yang menciptakan manusia dan menjamin rizqinya serta mengaruniakan aneka macam nikmat-Nya, lalu si manusia mengingkari Allah SWT dan menentangnya, serta menyembah Tuhan selain-Nya atau mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya.

Itulah karenanya, Luqmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya tentang bahaya kekafiran dan kemusyrikan, sebagaimana Allah SWT menceritakannya dalam QS.31.Luqman ayat 13 :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Namun demikian, sungguh pun Orang Kafir dinyatakan sebagai Makhluq Terburuk dalam soal Aqidah, namun tidak berarti dalam hubungan mu'amalat sosial kemasyarakatan tidak ada orang kafir yang berbuat baik.

Pengklasifikasian orang kafir menjadi empat golongan, justru untuk membedakan mana orang kafir yang jahat dan mana yang tidak jahat dalam soal mu'amalat hubungan antar sesama umat manusia, sehingga umat Islam tidak salah memperlakukan mereka, 

PILAR TOLERANSI

Dan dalam rangka menjaga keharmonisan hubungan antar umat manusia yang lintas agama dan suku serta budaya, maka Islam telah meletakkan tidak kurang dari 10 (sepuluh) PILAR TOLERANSI yang akan kita uraikan dalam artikel mendatang.

Sampai jumpa di artikel
berikutnya ... 

Insya Allah ...



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Anggaran Dasar FPI Bab II pasal 5 tentang Asas, Aqidah dan Madzhab menyatakan :

1. Organisasi FPI berasaskan Islam.

2. Organisasi FPI beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

3. Organisasi FPI bermadzhab Aqidah Asy'ari dan bermadzhab Fiqih Syafi'i".

Karenanya, setiap pengurus FPI wajib memastikan bahwa ajaran Aswaja terlembagakan dalam tubuh FPI.

Dan setiap Aktivis FPI wajib menjadikan FPI sebagai RUMAH BERSIH ASWAJA, yaitu bersih dari Liberal mau pun Syiah dan Wahabi atau pun firqoh-firqoh Non Aswaja lainnya.

101 PRINSIP KEASWAJAAN FPI

FPI sebagai BENTENG SUNNI ASY'ARI SYAFI'I telah meletakkan prinsip-prinsip keaswajaan yang sangat mendasar, antara lain :

1. Meyakini Rukun Agama yang tiga yaitu : Iman, Islam dan Ihsan.

2. Meyakini Rukun Iman yang enam dan Rukun Islam yang lima serta Rukun Ihsan yang satu.

3. Meyakini bahwa Agama Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq.

4. Meyakini bahwa Taat kepada Allah SWT bersifat Mutlak, sehingga apa saja yang ditetapkan Allah SWT wajib dipatuhi tanpa sedikit pun keraguan.

5. Meyakini bahwa Taat kepada Rasulullah SAW juga bersifat Mutlak, sehingga apa saja yang ditetapkan Rasulullah SAW wajib dipatuhi tanpa sedikit pun keraguan.

6. Meyakin bahwa Taat kepada Ulama dan Umara bersifat Muqoyyad yaitu terikat kepada Taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

7. Meyakini kewajiban Taat kepada Ulama dan Umara selama mengajak Taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

8. Meyakini keharaman Taat kepada Ulama dan Umara jika mengajak Ma'siat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

9. Menolak TRILOGI Tauhid yang MEMILAH Uluhiyyah, 'Ubudiyyah dan Asmaa was Shifaat, karena Tauhid itu satu tidak berbilang dan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga tidak bisa Kaum KAFIR dan MUSYRIK disebut AHLI TAUHID Rububiyah tanpa 'Ubudiyah, apalagi jika pemilahan tersebut ditujukan untuk mengkafirkan sesama muslim.

10. Menolak segala bentuk Tajsim yaitu menjasmanikan Allah SWT dalam bentuk.

11. Menolak segala bentuk Tasybih yaitu menyerupakan Allah SWT dengan makhluq,

12. Menerima Tafwidh Sifat Allah SWT yaitu menyerahkan Makna dan Hakikat Sifat Allah SWT kepada Allah SWT.

13. Menerima Ta'wil Sifat Allah SWT yaitu menafsirkannya dengan makna Majazi manakala makna Haqiqi mustahil.

14. Menerima Tafwidh dan Ta'wil Sifat Allah SWT dengan tujuan Tanzih yaitu mensucikan Allah SWT dari Tajsim dan Tasybih.

15. Menolak Itsbat Sifat Allah SWT dengan makna Zhohir, apalagi makna Haqiqi, karena keduanya mengantarkan kepada Tajsim dan Tasybih.

16. Menjadikan Al-Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma' dan Al-Qiyas sebagai Sumber Hukum.

17. Meyakini bahwa redaksi dan makna Al-Qur'an datang dari Allah SWT.

18. Meyakini bahwa redaksi dan makna Hadits Nabawi datang dari Rasulullah SAW.

19. Meyakini bahwa makna Hadits Qudsi datang dari Allah SWT, sedang redaksinya datang dari Rasulullah SAW.

20. Meyakini bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah bukan makhluq.

21. Meyakini bahwa tulisan huruf Al-Qur'an dalam Mushhaf dan suara Qori yang membaca Al-Qur'an adalah makhluq.

22. Meyakini bahwa proses pewahyuan Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril AS.

23. Meyakini bahwa penyampaian dan periwayatan Al-Qur'an dari generasi ke generasi secara Mutawatir, sehingga tidak ada keraguan tentang otentisitas Al-Qur'an sebagai Wahyu Allah SWT.

24. Meyakini bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah yang terjamin keasliannya, sehingga tidak ada satu pun kekuataan makhluq yang mampu mengurangi dan menambahkan atau pun merubah dan memalsukannya.

25. Meyakini bahwa Al-Qur'an adalah Kitab Suci terakhir yang diturunkan Allah SWT, sehingga setelah Al-Qur'an tidak ada lagi Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT.

26. Meyakini bahwa Ayat Suci di atas Ayat Konstitusi, sehingga penerapan Ayat Suci adalah Harga Mati yang tidak bisa ditawar, karena tunduk dan patuh kepada Ayat Suci bersifat mutlak.

27. Meyakini bahwa Al-Qur'an hanya boleh dibaca dengan Qiraat yang Mutawatiroh dan dengan Langgam yang Mu'tabaroh.

28. Mengimani Rasulullah Muhammad SAW sebagai Rasul Terakhir  dan Penutup Para Nabi, sehingga setelah Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi Rasul atau pun Nabi baru yang diutus Allah SWT.

29. Mengimani Rasulullah Muhammad SAW sebagai Manusia Terbaik dan Suri Tauladan yang sempurna dalam setiap sektor kehidupan.

30. Meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah Ma'shum sehingga terpelihara dari Dosa Besar mau pun Dosa Kecil.

31. Meyakini bahwa Rasulullah SAW pasti dapat rahmat Allah SWT dan pasti masuk Surga-Nya serta pasti melihat-Nya.

32. Meyakini bahwa semua hadits Nabi SAW, baik Mutawatir mau pun Ahad, selama shahih atau pun hasan, wajib dijadikan Dalil Syar'i dalam Aqidah, Syariat dan Akhlaq.

33. Meyakini adanya Pertanyaan Munkar dan Nakir, Siksa dan Nikmat Kubur, Kebangkitan dan Padang Mahsyar, Mizan dan Shirath, Surga dan Neraka, serta Bertemu dan Melihat Allah SWT, adalah bagian dari Aqidah Islam

34. Meyakini adanya  Mu'jizat Nabi dan Karomah Wali serta Ilmu Laduni sebagai anugerah dan karunia Allah SWT.

35. Meyakini bahwa Nabi SAW diisra'-mi'rajkan oleh Allah SWT dengan Ruh dan Jasad.

36. Meyakini bahwa Nabi SAW di malam Isra' Mi'raj dengan izin Allah SWT telah bertemu dan melihat Allah SWT dengan cara yang hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW yang mengetahuinya.

37. Menyintai seluruh Ahli Bait Nabi SAW termasuk Kedua Orang-tuanya, dan para Istrinya serta Keturunannya yang beriman.

38. Meyakini bahwa kedua orang tua Nabi SAW, yaitu Abdullah dan Aminah, bukan musyrik atau pun kafir, melainkan sebagai Ahli Fatroh yang tidak dihisab dan tidak diazab, bahkan kelak akan masuk Surga.

39. Menyintai seluruh Shahabat Nabi SAW dan memuliakannya serta menjadikannya sebagai panutan umat Islam,

40. Meyakini bahwa yang masuk Islam pertama dari kalangan wanita adalah KHADIJAH, dan dari kalangan pria adalah ABU BAKAR, serta dari kalangan anak-anak adalah ALI, lalu dari kalangan Hamba Sahaya adalah BILAL, rodhiyallaahu 'anhum.

41. Meyakini bahwa semua UMMAHATUL MU'MININ adalah wanita-wanita mulia pilihan Allah SWT untuk menjadi isteri-isteri Rasulullah SAW yang baik dan setia.

42. Mengakui keabsahan Kekhilafahan Khulafa Rasyidin yang lima yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Al-Hasan, rodhiyallaahu 'anhum.

43. Meyakini bahwa Shahabat Nabi SAW yang terbaik secara berurut adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, rodhiyallaahu 'anhum.

44. Menerima riwayat hadits para Shahabat Nabi SAW tanpa terkecuali, karena semua Shahabat adil dalam periwayatan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

45. Meyakini hubungan baik antara Ahlul Bait dan para Shahabat Nabi SAW, sehingga memaklumi perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka

46. Menahan diri untuk tidak membahas perselisihan dan pertikaian yang terjadi di antara Ahlul Bait mau pun para Shahabat Nabi SAW, kecuali untuk menangkal penyesatan penafsiran sejarah yang menumbuhkan kebencian terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat.

47. Menerima bahwa Tsaqolain adalah Dua Pusaka Peninggalan Nabi SAW yaitu : Pertama, Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam pengamalan, karena As-Sunnah merupakan penjelas isi kandungan Al-Qur'an. Dan kedua, Ahli Bait Nabi SAW yang merupakan penjaga dan pembela Al-Qur'an dan As-Sunnah sepanjang zaman.

48. Meyakini keberadaan Keturunan Rasulullah SAW sebagai Ahli Bait hingga saat ini, bahkan hingga datangnya Imam Mahdi di akhir zaman yang juga merupakan Keturunan Nabi SAW.

49. Meyakini kedatangan Imam Mahdi dari Dzuriyah Nabi SAW yang akan memimpin dunia dengan Adil dan Bijaksana.

50. Meyakini turunnya Nabi 'Isa AS di akhir zaman sebagai umat Nabi Muhammad SAW dan Pembela Islam.

51. Meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang kamil (sempurna) sehingga tidak boleh ada penambahan atau pun pengurangan, apalagi perubahan, terhadap ajaran Islam.

52. Meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang syamil (lengkap) sehingga ajarannya mencakup Aqidah dan Ibadah serta Muamalah di semua sektor kehidupan umat manusia.

53. Meyakini bahwa Hukum Islam adalah Hukum yang teradil dan terbaik, sehingga tidak ada satu pun produk hukum yang lebih baik dari Hukum Islam.

54. Meyakini bahwa agama yang benar hanya Islam, sedang selain Islam tidak benar, tapi tidak boleh menghina agama lain.

55. Menjunjung tinggi Pilar-Pilar Toleransi Antar Umat Beragama sebagaimana telah digariskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

56. Meyakini bahwa Firqoh Najiah yang benar dan selamat hanya Ahlus Sunnah wal Jama'ah, tapi tidak boleh mengkafirkan firqoh di luar Aswaja kecuali yang terang dan nyata kekafirannya.

57. Mengakui bahwa Madzhab Aqidah Aswaja meliputi Asy'ari dan Maturidi, sedang Madzhab Fiqih Aswaja meliputi Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali.

58. Mengakui adanya Thoriqoh Sufiyah yang tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sehingga tidak melanggar Syariat Islam.

59. Mengakui bahwa semua Madzhab Islam, baik Aswaja mau pun Non Aswaja, adalah bersaudara, sehingga wajib membangun Toleransi Antar Madzhab untuk saling menjaga Ukhuwwah Islamiyyah.

60. Mendukung penggalakan Dialog Lintas Agama dan Lintas Madzhab untuk menda'wahkan Islam secara baik dalam rangka menciptakan Kedamaian Dunia sebagai bukti Islam yang Rahmatan Lil 'Aalamiin,

61. Menolak segala bentuk Agitasi dan Adu Domba antar Madzhab mau pun antar Agama, termasuk adu domba Syariat dan Adat, juga adu domba Arab dan 'Ajam.

62. Menolak segala bentuk Perang yang tidak dibenarkan secara Syariat Islam.

63. Menolak segala bentuk Pemurtadan dan Penyesatan terhadap umat Islam dimana pun dan kapan pun serta dengan alasan apa pun,

64. Menolak SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), agar tidak ada pencampur-adukan agama dalam bentuk apa pun.

65. Meyakini bahwa Shalat Lima Waktu adalah Kewajiban Agama yang tidak boleh dijama' atau diqashar kecuali ada 'Udzur Syar'i yang dibenarkan Syariat.

66. Meyakini bahwa Shalat Jum'at, pemakaian Jilbab, memerangi kebodohan, menanggulangi kemiskinan, menegakkan keadilan, dan melawan kezoliman, adalah Kewajiban Agama.

67. Meyakini bahwa Dzikir Berjama'ah merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

68. Meyakini bahwa Mengangkat Tangan dalam Doa merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

69. Meyakini bahwa Ziarah Kubur merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya, apalagi Ziarah Kubur Rasulullah SAW dan Ahlul Bait serta Shahabat, juga Ziarah Kubur para Auliya' dan Ulama Sholihin.

70. Meyakini bahwa Tabarruk merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

71. Meyakini bahwa Tawassul merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

72. Meyakini bahwa Bekam dan Ruqyah serta Thibbun Nabawi lainnya untuk pengobatan Jasmani mau pun Rohani dengan Ayat dan Dzikir serta Sholawat dan Doa merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

73. Meyakini bahwa Talqin Mayyit Muslim merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

74. Meyakini bahwa Hadiah Pahala Doa, Bacaan Al-Qur'an, Sedekah, Puasa dan Haji, serta yang sejenisnya buat Mayyit Muslim sampai dan manfaat.

75. Meyakini bahwa Kenduri setelah kematian untuk mendoakan mayyit dan menghibur keluarga mayyit selama tidak menimbulkan mudharat hukumnya boleh, bahkan baik.

76. Meyakini bahwa Bid'ah adalah sesuatu yang tdk pernah dilakukan Nabi SAW, jika bertentangan dg Syariat disebut Bid'ah Sayyi-ah yg harus ditolak, sdg jika tdk bertentangan dg Syariat disebut Bid'ah Hasanah yang boleh diterima.

77. Meyakini bahwa Peringatan Hari Besar Islam seperti Tahun Baru Islam, Maulid Nabi dan Isra Mi'rajnya, adalah boleh, bahkan bisa menjadi Syiar untuk Da'wah Islam.

78. Meyakini bahwa Adzan Dua kali dalam panggilan Shalat Jum'at adalah boleh, karena dilakukan oleh Sayyiduna Utsman RA dan tidak ditolak oleh Jumhur Shahabat Nabi SAW.

79. Meyakini bahwa Shalat Sunnah Tarawih yang disepakati Empat Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali adalah 20 (dua puluh) raka'at.

80. Meyakini keutamaan Sholawat atas Nabi SAW dan kebolehan membaca Sholawat dengan aneka susunan yang dibuat para Sholihin dari kalangan Ulama Salaf mau pun Kholaf.

81. Meyakini keutamaan memberi gelar Sayyiduna dan gelar kemuliaan lainnya kepada Rasulullah SAW.

82. Meyakini kebolehan pemberian gelar kehormatan untuk Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW, serta Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in, mau pun Ulama dan Zu'ama yang sholihin.

83. Meyakini bahwa Perdukunan, Sihir, Khamar (Apa saja yang mabukkan / menghilangkan akal), Judi, Riba, Menjarah, Merampok, Menipu, Mencuri, Korupsi, Zina, Selingkuh, Melacur, Pornografi, Pornoaksi, Nikah Mut'ah dan LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual dan Transgender) serta Membunuh tanpa hak, Menganiaya dan Premanisme, hukumnya adalah Haram.

84. Meyakini bahwa Medan Juang Islam terdiri dari Da'wah, Hisbah dan Jihad, yang ketiganya wajib diisi oleh Ahlinya dan harus disinergikan sehingga saling melengkapi dan juga saling menyempurnakan.

85. Meyakini bahwa Da'wah harus dilaksanakan dengan santun lembut, ramah tamah, arif bijak,  penuh hikmah dan kesuri-tauladanan.

86. Meyakini bahwa Hisbah sebagai Amar Ma'ruf Nahi munkar harus dilakukan dengan tegas, tapi tetap harus cerdas dan didahului dengan Da'wah.

87. Meyakini bahwa Jihad fii Sabilillah sebagai Perang Suci di jalan Allah SWT harus ditegakkan dengan keras, tapi tetap beradab dan berkakhlaqul-karimah, serta didahului dengan Da'wah.

88. Meyakini bahwa perang dalam Islam bukan untuk ciptakan lawan dan keonaran, tapi semata-mata hanya untuk ciptakan kedamaian dan tegakkan keadilan dalam menuju Ridho Allah SWT.

89. Meyakini bahwa Da'wah adalah Pintu Gerbang Utama bagi Hisbah dan Jihad, sehingga tidak ada Hisbah mau pun Jihad tanpa didahului dengan Da'wah.

90. Meyakini kewajiban memperjuangkan penerapan Syariah dan penegakan Khilafah sesuai Manhaj Nubuwwah.

91. Meyakini bahwa Islam adalah agama Langit yang datang dari Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Semesta, sehingga dimana pun Islam hadir akan selalu menjadi pribumi dan tidak akan pernah menjadi pendatang.

92.  Menolak Arabisasi mau pun 'Ajamisasi Islam, tapi memperjuangkan Islamisasi Arab dan 'Ajam, karena Islam untuk seluruh umat manusia.

93. Meyakini bahwa ajaran Islam bukan Budaya Arab atau pun Budaya 'Ajam, tapi ajaran Islam punya pengaruh kuat, sehingga telah membudaya dalam kehidupan bangsa Arab mau pun 'Ajam.

94. Meyakini bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) harus sejalan dengan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

95. Menolak Sistem Demokrasi Barat dan memperjuangkan Sistem Islam yang menjunjung tinggi Musyawarah.

96. Menolak Sistem Ekonomi Sosialis mau pun Kapitalis, tapi memperjuangkan Sistem Ekonomi Islam yang bersih dari Riba dan Ketidak-adilan.

97. Menolak Kesetaraan Gender, tapi memperjuangkan Keserasian Gender atas dasar keadilan sebagaimana yang diajarkan Islam.

98. Mendukung perjuangan Tathbiq Syariah di seluruh negeri-negeri Islam, karena Tathbiq Syariah adalah Kewajiban Agama.

99. Mendukung perjuangan penegakan Khilafah Islamiyyah 'Alamiyyah karena Kekhilafahan Islam adalah Kewajiban Agama.

100. Meyakini bahwa umat Islam wajib memilih pemimpin muslim dan haram memilih pemimpin non muslim.

101. Meyakini kewajiban Al-Walaa wal Barroo' yaitu memberikan totalitas kepatuhan kepada Hukum Allah SWT dan melepaskan diri dari segala Hukum Thoghut.

102. Meyakini bahwa secara Wurud / Tsubut, semua Nash Mutawatir bersifat Qoth'i, sedang Nash Ahad bersifat Zhonni.

103. Meyakini bahwa secara Dilalah, semua Nash yang Monotafsir bersifat Qoth'i, sedang Nash yang Multitafsir bersifat Zhonni.

104. Meyakini bahwa semua ayat Al-Qur'an dan Hadits Mutawatir dari segi Wurud / Tsubut bernilai Qoth'i, sedang dari segi Dilalah ada yang Qoth'i dan ada yang Zhonni.

105. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Qoth'i secara Wurud / Tsubut dan Dilalah merupakan masalah USHULUDDIN.

106. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Zhonni secara Wurud / Tsubut dan Dilalah merupakan masalah FURU'UDDIN.

107. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Qoth'i secara Wurud / Tsubut, tapi Zhonni secara Dilalah juga merupakan masalah FURU'UDDIN.

108. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Zhonni secara Wurud / Tsubut, tapi Qorh'i secara Dilalah merupakan masalah USHUL MADZHAB.

109. Meyakini bahwa Aswaja adalah golongan yang I'tidaal (Adil), Inshoof (Netral), Tawassuth (Pertengahan), Tawaazun (Seimbang) dan Tasaamuh (Toleran).

DOA & HARAPAN

Disana masih banyak lagi ciri-ciri Aswaja yang telah diuraikan oleh para Ulama Aswaja yang Salaf mau pun Khalaf. Dan semua ciri Aswaja wajib menjadi ciri keaswajaan FPI.

Insya Allah, FPI akan senantiasa menjadi RUMAH BERSIH ASWAJA, dan sekaligus selalu menjadi BENTENG SUNNI ASY'ARI SYAFI'I.

Aamiiin ...

FPI ONLINE - Alhamdulillah, Benteng Sunni Asy'ari Syafi'i - Pesantren Alam dan Agrokultural MARKAZ SYARIAH (MS) di Puncak Syariat - Mega Mendung - Bogor - Jawa Barat akan memulai Tahun Ajaran Baru 2015 / 2016 pada bulan September yang akan datang.

MS ikut Kurikulum SALAFIYYAH & buka PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dengan Paket A, B dan C bagi yang ingin mendapatkan ijazah SD, SMP dan SMA.

Infaq Rp 1 juta per bulan untuk makan minum dan kesehatan serta semua buku pelajaran yang disiapkan pihak pesantren TANPA uang bangunan mau pun pendaftaran baru / ulang.

Tiap Santri diajarkan bertani dan berkebun dengan BAGI HASIL 50 : 50, separuh keuntungan buat pesantren dan separuh lagi buat Santri, sehingga tiap Santri ada penghasilan.

SYARAT :
1. Izin Orang Tua / Wali Santri.
2. Bisa Baca Tulis Al-Qur'an.
3. Jenis Kelamin Pria 
4. Sehat Jasmani Rohani.
5. Isi Formulir & Ikut Seleksi.
6. Wajib Muqim. 
7. Taat Tata Tertib MS.
8. Usia minimal 10 Tahun
9: Mulai Belajar 1 Agustus 2015
10. Infaq Rp 1 juta / bulan

Pendaftaran :
Habib Muhsin bin Alwi Alattas
+62 812 98286469
+62 857 18602435

Pengasuh dan Pembina :
Habib Muhammad Rizieq Syihab



FPI ONLINE - Setelah Lambang PKI dengan sengaja dimunculkan sejumlah pemuda di Kota Jember dan Kota Pamekasan secara berturut-turut pada hari Jum'at dan Sabtu, 14 dan 15 Agustus 2015. Kini, Logo PKI tersebut muncul kembali pada Perayaan HUT RI ke-70 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dan Kota Payakumbuh Sumbar.

PKI DI JAKARTA

Pada hari Senin 17 Agustus 2015 pagi telah ditemukan Logo PKI, gambar Palu Arit, di arena permainan Skate Board Teater Imax Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) - Jakarta.

Berdasarkan kesaksian David (23), seorang pelatih skate board, bahwa logo tersebut sudah lama dilihatnya. Ada rekaman video yang pernah dibuat David, gambar tersebut sudah ada sejak 28 Juli 2015. 

Namun Logo PKI yang dibuat dengan menggunakan cat semprot tersebut baru disadari keberadaannya pada 17 Agustus 2015 oleh seorang satpam TMII, Rusdi Musliman (45). 

Kepala Polsek Cipayung - Jakarta Timur, Komisaris Cecep Subagia mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki kasus ini. "Siapa pelakunya masih kita cari karena orang di sekitar lokasi enggak ada yang tahu. Tapi, penyelidikan tetap kita lanjutkan," kata Cecep, saat dihubungi wartawan, Selasa (18/8/2015). 

Dari hasil pengecekan polisi di lokasi, gambar tersebut telah dihapus saat petugas datang. Namun Polisi tetap akan melanjutkan penyelidikannya, sebagaimana dihimpun beritanya oleh Kompas.com.

PKI DI SUMBAR

Pada hari Selasa, 18 Agustus 2015 Pemerintah Kota Payakumbuh - Sumatera Barat merayakan HUT Kemerdekaan RI ke 70.

Saat digelar pawai, Panitia HUT RI tersebut dengan sengaja menampilkan peserta yang membawa logo Palu Arit lambang PKI di tengah pawai HUT RI tersebut 

Alasan ditampilkannya lambang Palu Arit tersebut karena di antara tema yang diangkat panitia pada saat pawai kemerdekaan adalah partai peserta Pemilu Pertama tahun 1955.

Betulkah alasannya sesederhana itu ? 

WASPADA PKI

Tatkala PKI sedang jadi issue nasional sehingga menjadi sorotan masyarakat, maka alasan penampilan Logo PKI dalam Pawai HUT RI di Payakumbuh tersebut patut dipertanyakan.

Andaikata pun PKI tidak sedang jadi issue nasional, penampilan Logo PKI di tengah masyarakat tetap tidak boleh sembarangan.

Penampilan Logo PKI hanya boleh dalam proses pembelajaran masyarakat tentang PENGKHIANATAN dan KEBIADABAN PKI, seperti pembuatan Film Pengkhianatan G30S / PKI atau penerbitan cetakan atau buku
tentang sejarah KEZALIMAN PKI.

Imam Besar FPI, Hb. Muhammad Rizieq Syihab menyatakan di Jakarta : "Penampilan Logo PKI dalam Pawai HUT RI tidak bisa dibenarkan, karena melanggar TAP MPRS No XXV Tahun 1966 dan KUHP Pasal 107 a s/d e, sehingga aparat berkewajiban untuk memeriksanya."

Sumber: www.habibrizieq.com



Hari ini, tujuh belas tahun yang lalu, tanggal 17 Agustus 1998, FPI dideklarasikan di Pondok Pesantren Al-Umm - Ciputat, oleh para Habaib dan Ulama bersama ribuan umat Islam, dalam acara Tabligh Akbar Tasyakkuran Kemerdekaan RI ke-53.

Milad FPI kali ini yang digelar di Markaz FPI Jl. Petamburan, Tanah Abang - Jakarta Pusat, sangat istimewa, selain dihadiri oleh para Imam FPI dari berbagai propinsi, juga dihadiri oleh para Habaib dan Ulama serta pejabat  dari berbagai kalangan.

Acara dimulai dengan Shalat Shubuh berjama'ah yang diimami oleh Ketua Umum FPI, KH. Ahmad Sobri Lubis, lalu dilanjutkan dengan pembacaan Munajat yang dipimpin oleh Ust. Asep salah satu pengajar di Pesantren Alam Agrokultural MARKAZ SYARIAH di Mega Mendung - Bogor.

Selanjutnya, sambutan pertama disampaikan oleh Ketua panitia Milad FPI ke-17, KH Zainuddin Ali, lalu dilanjutkan dengan sambutan Ketua Majelis Syura FPI, KH. Syeikh Misbahul Anam At-Tijani.

Dalam sambutannya KH. Zainuddin Ali menjelaskan tema Milad kali ini adalah "ISLAMKAN NUSANTARA." Tema ini sengaja diambil untuk melawan propaganda kelompok liberal dibalik jargon "Islam Nusantara" yang meresahkan dan memecah belah umat.

Lalu KH. Misbahul Anam At-Tijani, mengatakan dalam sambutannya bahwa Kemerdekaan Republik Indonesia adalah berkat perjuangan para ulama, para kyai, para habaib dan para santri.

"Kita tidak mau kemerdekaan yang direbut dengan darah para ulama ini dikotori oleh PKI dan Liberal." Tegas beliau disambut terikan takbir ribuan jamaah.

Kyai Misbah juga berpesan agar FPI yang kini sudah berusia 17 tahun agar senantiasa mengikhkaskan niat dalam setiap perjuangannya. FPI harus selalu menjadi pelayan umat dan pembela agama.

SAMBUTAN PARA IMAM

Setelah itu, satu per satu Imam FPI dari berbagai propinsi menyampaikan sambutannya secara berturut-turut : Tengku Abi Lampisang (Imam FPI Aceh), KH. Buya Ahmad Qurthubi Jailani (Imam FPI Banten), KH. Ma'shum Hasan (Imam FPI Jawa Barat) dan Hb. Muhsin b Zaid Alattas (Imam FPI DKI Jakarta).

Tengku Abi Lampisang mengatakan bahwa tidak ada masalah yang tidak selesai dengan syariat Islam. Beliau bersyukur bahwa kini Aceh sudah mulai diberlakan syariat Islam. Hal ini adalah berkat rahmat Allah SWT serta perjuangan panjang rakyat Aceh.

"Selanjutnya adalah giliran Anda di daerah masing-masing untuk meng-Islamkan Nusantara!" Pungkas beliau.

Berikutnya dari Imam FPI Banten, KH. Ahmad Qurthubi Jailany. Beliau menjelaskan bahwa bagi Mujahid ada keutamaan yang besar dari sisi Allah yaitu berupa ampunan bagi semua dosa-dosanya, baik dosa kecil maupun dosa besar. Beliau juga menandaskan bahwa Banten siap menyusul Aceh dalam penegakan Syariat Islam.

Disambung dengan Imam FPI Jawa Barat, KH. Maksum Hasan. Beliau menegaskan agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan serta menegakkan amar makruf nahi munkar dengan ikhlash hanya untuk mencari Ridho Allah SWT.

Selanjutnya giliran Imam FPI DKI Jakarta, Habib Muhsin bin Zaid Alatas. Beliau menegaskan bahwa menegakkan agama Allah dengan tegas tidak serta merta bisa dituduh sebagai kekerasan. Ketegasan tidak identik dengan kekerasan.

AQAD NIKAH

Dalam Milad FPI kali ini, Imam Besar FPI Hb. Muhammad Rizieq Syihab, menikahkan putri keduanya, Syarifah Humaira Syihab, dengan Sayyid Muhammad b Husein Alattas, seorang Sarjana Syariat lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo - Mesir.

Aqad Nikah diawali dengan Tilawatil Qur'an dan Khutbah Nikah yang dibawakan oleh Prof. DR. Said Agil Al-Munawwar. Sedang Tausiyah Pernikahan disampaikan oleh Prof. DR. Hb. Abdullah Baharun, Rektor Universitas Al-Ahgaf, Hadramaut - Yaman.

Dalam Tausiyahnya, Hb.Abdullah memaparkan tentang Keunggulan Keluarga Islam di atas keluarga di luar Islam, sambil menyindir pandangan Liberal yang bertentangan dengan Islam. Selanjutnya beliau mengaskan tentang pentingnya persaudaraan Islam dan bahaya Takfir antar sesama muslim.

Hadir dalam acara Milad yang sekaligus Aqad Nikah tersebut : Hb. Abdurrahman b Syeikh Alattas (PP Al-Masyhad - Sukabumi), Hb. Soleh Alaydrus (PP Darul Hadits - Malang), Hb. Hamid Nagib BSA (PP Al-Khoiroot - Bekasi), Hb. Naufal Al-Kaaf (PP Darul Habib - Sukabumi), Hb. Umar Abdul Azizi Syihab (PP Rubathul Muhibbiin - Palembang), Hb. Hamid Al-Habsyi (PP Ar-Riyadh - Palembang), Hb. Abdurrahman Al-Habsyi (Islamic Center Indonesia - Kwitang), Hb. Zein b Sumaith (Robithoh 'Alawiyah), Abdulhamid (Singapura), Mr. Othman (Malaysia), KH. Abdurrasyid Syafi'i (PP Asy-Syafi'iyyah), KH Ma'shum (PP Al-Ishlah - Bondowoso), KH Abu Jibril (MMI), KH M. Al-Khaththath (FUI), KH Syarifuddin Dardiri (FTJ - Kebumen), KH Fakhrurrozi (Gubernur Rakyat Jakarta), Ust. Solmed (Da'i), Jenderal (Purn) Fakhrurrozi, Anwar Fuadi (Artis), dan lain-lain.

Beberapa undangan datang terlambat karena sulitnya masuk ke lokasi akibat peserta Milad FPI yang membludak, antara lain : H. Kemas Abdulhalim (Tokoh Palembang), Syeikh Ali Jabir (Saudi), Jend (Purn) Kivlan Zein dan H. Achadiyat Asisten I Propinsi Jawa Barat dan H. Agus Kesbangpol Jawa Barat.

PULANG BARENG

Usai acara ceramah dan Aqad Nikah, Panitia Milad FPI menggelar acara PULANG BARENG, arak-arakan ribuan kendaraan bermotor membelah sepanjang jalan Slipi - Cawang - Slipi.

Saat start arak-arakan, datang Bang H. Rhoma Irama bergabung di paling depan dengan mobil sound system yang mengangkut para Pimpinan Teras DPP FPI, sambil sepanjang jalan terus menerus mengumandangkan Shalawat dan Lagu-Lagu Kebangsaan seperti : Indonesia Raya, Hari Merdeka dan maju Tak Gentar, yang dipimpin oleh KH. Ja'far Shiddiq dan Ust. Syahid Joban serta Hb. Hanif Alattas.

Menariknya, Sang Pengantin Pria ikut arak-arakan bersama para Habaib dan Ulama, sehingga menjadi arakan pengantin terpanjang selama ini.

TEMA MILAD FPI

Tema Milad FPI ke-17 adalah ISLAMKAN NUSANTARA dengan mengangkat isu-isu aktual dan faktual, seperti : GANYANG PKI dan LIBERAL, TUNTASKAN TRAGEDI TOLIKARA, TEGAKKAN SYARIAT ISLAM, dan sebagainya.

Dalam ceramah penutup, Imam Besar FPI Hb. Muhammad Rizieq Syihab, menegaskan kembali bahwa FPI adalah Pembela Agama, Bangsa dan Negara, sekaligus tetap akan berjuang menuju NKRI BERSYARIAH.

Subhaanallaahi wal Hamdulillaahi wa Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar ...

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.