Terkini

FPI Online, Riau - Sejumlah Laskar Front Pembela Islam Kabupaten Pelalawan Riau pada Rabu sore (2/9) terlihat sibuk membagikan ratusan masker kepada pengemudi kendaraan bermotor yang melintas. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian FPI atas terjadinya bencana kabut asap di Riau dan sekitarnya. Aksi serupa juga dilakukan oleh DPW FPI Kota Pekanbaru pada Jum’at pagi tadi (4/9)

Aksi simpati seperti ini rencananya juga akan dilakukan oleh DPW dan DPC FPI di kota-kota lainnya yang daerahnya terkena dampak kabut Asap. Ketua DPD FPI Riau, Ustad R. Ade Hasibuan sudah menginstruksikan agar segera membuka Posko Bencana Asap.

Hasil pantauan alat ISPU menunjukkan polusi udara di sekitar daerah Rumbai, Kota Pekanbaru, dalam level berbahaya dari pagi hingga pukul 11.00 WIB dengan kadar 477 Psi (Pollutant Standart Index).

Kondisi polusi asap berbahaya juga terjadi di Kabupaten Siak, yakni di Minas mencapai 392 Psi, Kabupaten Bengkalis di daerah Libo mencapai 304 Psi, dan Kabupaten Rokan Hilir di daerah Bangko mencapai 350 Psi.

Kemudian Kabupaten Kampar di daerah Petapahan menunjukkan polusi udara mencapai 270 Psi atau kondisi sangat tidak sehat. Kemudian polusi dalam level tidak sehat berada di area Duri Field dan Duri Camp Kabupaten Bengkalis yang masing mencapai 163 dan 148 Psi, dan Kota Dumai polusi mencapai 157 Psi yang artinya juga tidak sehat.

Diduga penyebab dari kebakaran hutan ini adalah pembakaran lahan yg sangat luas secara ilegal. baik dilakukan oleh masyarakat maupun oleh perusahaan-perusahaan Asing. Parahnya, hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. [Hdd/dbs]



FPI Online - Senin, 27 Juli 2015, Rapat Pimpinan DPP FPI di Jakarta sepakat membentuk POSKO TOLERANSI sebagai LSM yang bergerak di bidang Advokasi dan Litigasi untuk Anti Diskriminasi, Intimidasi dan Intoleransi.

MAKNA LAMBANG

POSKO TOLERANSI mengambil lambang Tiga Lengan yang saling berpegangan. Tiga menunjukkan gotong royong tidak sendiri, dan saling berpegangan isyarat pentingnya persatuan dan kebersamaan. Dan dalam bentuk segitiga adalah ciri khas Lambang FPI, sehingga dalam prinsip perjuangan POSKO TOLERANSI harus selaras dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil 'Aalamiin.

TIGA WARNA Hijau, Merah dan Kuning, merupakan isyarat bahwasanya ada perkara yg wajib toleransi (HIJAU) seperti hubungan antar umat beragama, tapi ada juga yang tidak boleh toleransi (MERAH) seperti pencampur-adukan agama, dan ada juga yang mesti hati-hati terhadap penyalah-gunaan toleransi (KUNING).

SEPARASI WARNA dari Muda menjadi Tua Mengisyaratkan perjuangan POSKO TOLERANSI mulai dari cara yang paling halus dan lembut hingga cara yang tegas dan lugas.

Warna-Warni hanya dengan TIGA WARNA DASAR Hijau, Merah dan Kuning untuk menunjukkan kemajemukan, tapi tanpa Warna Pelangi, karena Pelangi sering digunakan sebagai Lambang LGBT.

MEKANISME PELAPORAN

Bagi umat Islam yang hendak melapor ke POSKO TOLERANSI agar melengkapi Data dan Dokumen serta Foto yang memperkuat laporannya, agar secara hukum memenuhi syarat untuk diproses.

Hal-hal yang perlu dilaporkan, antara lain :

1. Semua peraturan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang melarang umat Islam menjalankan ibadah dan syariatnya.

2. Semua perlakuan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mempersulit umat Islam dalam pengurusan apa saja terkait ibadah mau pun hajat hidupnya.

3. Semua tindakan aparat mau pun warga di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mengganggu umat Islam atau menodai ajaran Islam.

4. Semua kejadian dan peristiwa di Daerah Mayoritas Non Muslim yang merugikan umat Islam mau pun ajaran agamanya.

5. Semua aturan dan tindakan serta kejadian yang menyuburkan Intoleransi dan Diskriminasi serta Intimidasi terhadap umat Islam di Daerah Mayoritas Non Muslim, sekecil apa pun.

STRUKTUR PENGURUS

Ketua : Mirza Zulkarnaen, SH, MH ( 085217787861 ), Email : zulkarnaen.mirza@yahoo.com
Wakil ketua  1 : Aziz Yanuar, SH, MM ( 085310869063 )
Wakil Ketua 2 : Ustadzah Lulu Assegaf ( 081381481481 )
Sekretaris : Slamet Ma’arif, S.Ag, MM ( 081511777313 )
Bendahara : M. Ruhu Nussa, SH ( 081310009763 )

Kordinator Wilayah
1. Sulawesi : Sugiyanto ( 081245414906 ) Ponco ( 082331859923 )
2. Maluku : Ikhwan Tuan Kota, SH, MH ( 08159793937 )
3. Papua  : Anderson Maege ( Ust Ahmad Maege ) ( 081344564488 ): Ust. Fadlan Qoromitan ( 081319142952 )
4. Bali : I Bagus Mayura ( 08128989809 )
5. Sumut : Matsuni Kaloko ( 081283353498 )
6. NTT : Ust Ishaq Dapu Peang ( 081315949992 )
7. Kalbar : Sayyid Kurniawan 0813 4527 6118 & Ust. Syahroni 081333172998
8. Kaltim : Ust. Didit 081346437255

POSKO TOLERANSI akan bentuk Koordinator Wilayah di semua Daerah di seluruh Indonesia, termasuk Kalteng dan Kaltara serta lainnya.

Info selanjutnya silakan hubungi Sekretariat POSKO TOLERANSI.



Assalamualaikum Wr. Wb.
Bismillahirohmannirrohiim

Sehubungan dengan makin berkembangnya wacana permintaan maaf Negara kepada PKI dan menguatnya gerakan sosial politik yang berazaskan pada ideologi komunisme, maka kami Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam dengan ini menyampaikan beberapa pandangan dan aspirasi sebagai berikut :

Pertama : bahwa saat ini Front Pembela Islam mensinyalir terdapat upaya – upaya pemutarbalikan fakta yaitu dengan menjadikan PKI (Partai Komunis Indonesia) beserta anggota dan simpatisannya adalah merupakan korban kejahatan oleh Negara, TNI dan Umat Islam. Pandangan dan serbuan informasi yang memposisikan PKI beserta anggota dan simpatisan adalah korban telah disebarluaskan secara massif, sistematis dan terstruktur melalui berbagai sarana, mulai dari media massa, baik cetak maupun elektronik. Upaya rekonstruksi sejarah keganasan dan kebiadaban PKI ini, bahkan mulai masuk kedalam kurikulum pendidikan dengan menghapus berbagai mata pelajaran yang menggambarkan kekejaman PKI.

Saat ini, informasi yang disebarkan adalah seolah – olah PKI dan kaum komunis bersikap pasif dan hanya merupakan kambing hitam politik  semata, tanpa menyebut satupun aksi – aksi sepihak dari PKI beserta simpatisannya dalam melakukan terror kepada rakyat Indonesia dan ulama. Agenda utama rekonstruksi sejarah dengan memposisikan PKI sebagai pelaku kejahatan menjadi seolah PKI korban kejahatan, adalah untuk melegalkan ideolog komunis berkembang di Indonesia dan membangkitkan kekuatan politik komunis baik dalam bentuk Partai maupun organisasi massa. Hal ini adalah tentu sangat membahayakan  bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kedua :  bahwa saat ini, para anggota PKI beserta simpatisan dan keluarganya tengah melakukan konsolidasi kekuatan melalui berbagai cara dan sarana, yang diantaranya adalah melalui Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP 65) maupun Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Yayasan komunis yang berkedok kemanusiaan ini jelas dan terang benderang memiliki agenda untuk merekonstruksi sejarah serta melakukan gerakan politik yang berbasiskan ideologi komunisme yang dikamuflase sebagai ideologi MDH (Materialisme Dialektika Historis), dan juga melakukan regenerasi dan kaderisasi guna menyebarluaskan ideologi komunisme dikalangan anak muda. Hal ini berarti kaum Komunis di Indonesia kembali menggunakan taktik gerakan bawah tanah atau kamuflase politik dalam menyebarkan Ideologi Komunis sekaligus membangun kekuatan politik mrelalui mantel kemanusiaan.

Ketiga : bahwa para anggota PKI beserta simpatisan dan keluarganya saat ini tengah berjuang untuk mencuci dosa sejarah PKI melalui pintu masuk atau menunggangi Komisi Kebenaran dan  Rekonsiliasi, melalui sarana politik hukum ini, para anggota PKI beserta simpatisan dan keluarganya dan kaum neo komunis, berusaha untuk memperoleh posisi politik serta melakukan politik balas dendam terhadap TNI dan umat Islam. Dalam dokumen YPKP 65, jelas termuat agenda politik bahwa Komisi Kebenaran dan Rekonsialiasi ini adalah cara paling halus yang digunakan oleh eks anggota PKI, keluarga maupun simpatisannya guna menghidupkan kembali Ideologi komunis dan membangkitkan kembali PKI. Dengan menunggang agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini kaum Komunis Indonesia tengah menampilkan Komunisme yang berwajah humanis untuk menarik simpati rakyat dan memanipulasi umat.

Titik tolak kaum komunis dalam agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini adalah semata – mata mengungkap peristiwa pasca pembunuhan 6 jenderal, tanpa mengungkap peristiwa tahun tahun sebelumnya, dimana PKI merajalela melakukan terror politik bahkan menbunuh rakyat, umat Islam dan Ulama serta  lawan politiknya. Peristiwa pasca pembunuhan 6 Jenderal inilah yang menjadi tujuan kaum komunis untuk  disebut sebagai “kebenaran” dengan mengabaikan kebenaran sejarah perilaku teror dan pembunuhan politik PKI beberapa tahun sebelumnya. Sementara istilah Rekonsiliasi yang dimaksud oleh kaum komunis Indonesia adalah diterimanya serta dilegalkannya ajaran komunisme serta diihidupkannya kembali Partai Politik Komunis di Indonesia. 

Keempat : bahwa gerakan mengembalikan ideologi komunisme dan pemutarbalikan sejarah ini  memanfaatkan kelemahan pemerintahan saat ini, yaitu dengan memanfaatkan sindrom popular demokratik yang tengah menghinggapi para elit politik nasional. Pemanfaatan sindrom popular demokratik yang menjangkiti para elit politik saat ini sangat sejalan dengan agenda kaum komunis internasional yang tengah menjalankan taktik politik “Komunisme Popular Demokratik” untuk menyembunyikan watak dan karakter Totaliter dari idelogi komunis.

Kelima : bahwa dengan memanfaatkan rezim politik “ elektoral popular demokratik” saat ini, kaum komunis Indonesia melakukan infiltrasi ke seluruh lini pemerintahan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, baik nasional maupun level politik elektoral lokal. Hal ini tentu saja akan menjadi bom waktu bagi masa depan politik Indonesia dan merupakan ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam jangka panjang.

Keenam :  Front Pembela Islam berpendapat bahwa upaya – upaya eks anggota PKI maupun keluarganya beserta pengikut ideologi komunisme di Indonesia untuk ngotot memaksakan keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi melalui proses legislasi, hanya akan menguras energi bangsa dan menjebak kehidupan berbangsa dan bernegara kepada persoalan masa lalu yang akan menghalangi kemajuan kehidupan bangsa dan bernegara. Potensi gesekan antar komponen masyarakat maupun benturan fisik di level grass root akan membelenggu rakyat dari kemajuan dan kembali membuka luka lama umat Islam yang menjadi korban teror dan pembunuhan politik yang dilakukan oleh PKI. 

Berdasarkan hal hal diatas maka, Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam mendesak Presiden Republik Indonesia :

1. Menolak rencana permintaan maaf oleh Presiden Republik Indonesia kepada keluarga PKI atau simpatisannya.

2. Agar Presiden Republik Indonesia bersikap tegas terhadap kebangkitan ideologi dan gerakan yang berbasiskan komunisme dengan menggunakan UU No. 27 Tahun 1999 Jo Pasal 107a – 107e KUHP.

3. Menarik RUU KKR dari proses legislasi di DPR karena telah terbukti merupakan agenda dari kaum komunis dan ditunggangi oleh oknum – oknum eks anggota PKI untuk menyebarkan ideologi komunisme serta menyandera bangsa Indonesia dalam perangkap perselisihan masa lalu dan ajang balas dendam kaum komunis terhadap TNI serta Umat Islam.

Demikian kami sampaikan surat ini agar dapat menjadi perhatian.

Jakarta, 22 Syawal 1436 H /  8 Agustus 2015

Hormat Kami
Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam

KH. Shabri Lubis              H. Hasanudin
Ketua Umum       Sekretaris Umum



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rhm (wafat : 1.132 H) dalam kitab "Tatsbiitul Fu-aad" membahas tuntas tentang sikap Kaum Roofidhoh (-Jamaknya : Rowaafidh-) yang selalu melecehkan Shahabat Nabi SAW dengan "dalih" membela Ahli Bait Nabi SAW, dan Kaum Naashibah (-Jamaknya : Nawaashib-) yang sering melecehkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" membela Shahabat Nabi SAW.

Dan dalam juz 2 halaman 227 kitab tersebut, Imam Al-Haddad rhm menyatakan tentang Roofidhoh dan Naashibah :

" بعرة مقسومة نصفين "

"Kotoran Unta yang dibelah dua."

"Roofidhoh" dan "Nawaashib" adalah musuh bebuyutan, sepanjang sejarah tidak pernah akur, bagaikan air dan minyak, tidak pernah bisa bersatu. Satu sama lainnya saling mengkafirkan, bahkan hingga kini kedua belah pihak saling bernafsu untuk memerangi dan membunuh pihak lainnya. 

Lihat saja "Konflik Berdarah" di Iraq dan Syria saat ini, yang telah menjadi "Tragedi Kemanusiaan" yang sangat memilukan dan menyayat hati muslim mana pun yang menyintai "Wihdah Islaamiyyah".

Bagi Roofidhoh bahwa Nawaashib lebih berbahaya daripada Yahudi mau pun Nashrani. Dan bagi Nawaashib justru Roofidhoh lah yang lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nashrani. 

Baik Roofidhoh mau pun Nawaashib sama-sama anti Dialog dan Anti Toleransi Antar Madzhab Islam. Mereka selalu menolak bahkan merusak semua upaya pemersatuan umat Islam
sepanjang zaman.

Mereka lebih suka perang sesama muslim daripada perang melawan Zionis dan Salibis Internasional. Mereka lebih suka membunuh sesama muslim daripada memerdekakan Palestina dan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Israel.

Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun ...

SYIAH dan ROOFIDHOH

Memang tidak semua Syiah adalah Roofidhoh, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Syi'ah bersikap Roofidhoh.

Harus kita akui bahwa di kalangan Ulama Syiah tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Syiah tersebut tenggelam dalam fanatisme Awam Syiah yang cenderung bersikap Roofidhoh.

Fanatisme Awam Syiah tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Syi'ah dan berbagai pernyataan Ulama mereka sendiri yang menghina Shahabat Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA. Bahkan isteri Nabi SAW seperti Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA pun tak luput dari penghinaan mereka.

Salah satunya, lihat saja kitab "Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah" karya Syeikh Ni'matullaah Al-Jazaa-iriy yang isinya dipenuhi dengan hinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW. Bahkan dia mengkafirkan Nawaashib, dan menuduh semua Aswaja yang tidak mengutamakan Sayyiduna Ali RA di atas semua Shahabat sebagai Nawaashib yang Kafir.

Dalam kitab tersebut juz 2 halaman 307 disebutkan :

إنهم كفار أنجاس بإجماع علماء الشيعة الإمامية ،  وإنهم شر من اليهود والنصارى ،  وإن من علامات الناصبي تقديم غير علي عليه في الإمامة ." 

"Sesungguhnya mereka (-Nawaashib-) adalah Kafir dan Najis dengan Ijma' Ulama Syiah Imamiyyah. Dan sesungguhnya mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dan sesungguhnya daripada tanda-tanda seorang Naashibah adalah mendahulukan selain Ali di atasnya dalam Imamah."

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Syiah secara terang-terangan menghina para Shahabat dan Isteri Nabi SAW, seperti :

1. Jalaluddin Rahmat dalam buku "Shahabat dalam Timbangan Al-Qur'an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan" hal. 7, dan catatan kaki buku "Meraih Cinta ilahi" hal. 404 - 405 dan 493, serta buku "Manusia Pilihan yang disucikan"  hal. 164 - 166.

2. Emilia Renita AZ dalam buku "40 Masalah Syiah" hal.83.

3. Haidar Barong dalam buku "Umar dalam Perbincangan" di hampir semua bab.

Selain itu, masih ada lagi IJABI (Ikatan Jama'ah Ahlul Bait Indonesia) yang dinakhodai oleh Jalaluddin Rahmat cs yang sering melecehkan Shahabat Nabi SAW dalam aneka seminar dan pertemuan. Bahkan sering melecehkan Islam dengan membela aneka Aliran Sesat seperti Ahmadiyah, sehingga patut disebut sebagai "Syiah Liberal".

Syiah Roofidhoh memang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif menunjukkan kebenciannya kepada Shahabat Nabi SAW, khususnya Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, beserta kedua putri mereka yaitu Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA,

Saking bencinya kepada Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, kalangan Roofidhoh membuat "Doa Dua Berhala" yang isinya melaknat habis kedua Shahabat Mulia Nabi SAW tersebut.

Bahkan mereka haramkan siapa pun dari kalangan mereka diberi nama Abu Bakar atau Umar, atau nama putri keduanya yaitu Aisyah atau Hafshoh.

Karenanya, Aswaja sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya "Syiah Roofidhoh" adalah firqoh yang sesat menyesatkan. 

Apalagi "Syiah Ghulat" yang menabikan atau menuhankan Sayyiduna Ali RA, dan menganggap para Imam mereka sebagai Utusan atau Titisan Tuhan, serta memvonis Al-Qur'an kurang dan tidak asli lagi, maka Aswaja sepakat bahwa Syiah Ghulat adalah Kafir dan Murtad, bukan lagi termasuk Islam.

Ada pun "Syiah Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Ghulat dan bukan Roofidhoh. Mereka adalah saudara muslim yang harus dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

RIWAYAT HADITS SYIAH

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Syiah pasti Ghulat dan pasti Roofidhoh, sehingga semuanya pasti Kafir dan Murtad atau Sesat. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja. 

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Syiah", tapi bukan dari kalangan Ghulat yang Kafir, sehingga jika "mereka" dikafirkan juga, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu sangat berbahaya, karena bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Syiah dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan buka pernyataan  Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syi'ah" dalam kitab "Mizaanul I'tidaal" juz 1 hal.29 No.2 pada ulasan "Perawi Syiah" bernama "Abaan bin Taghlib" , dan juz 1 hal.53 No.86 pada ulasan "Perawi Syiah" yang bermama "Ibrahim bin Al-Hakam".

Semua pernyataan Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syiah" dinukilkan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Lisaanul Miizaan" juz 1 hal.103 -104. 

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab-kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Ibrahim bin Yazid, Salim bin Abil Ja'di, Al-Hakam bin 'Utaibah, Salamah bin Kuhail, Zubaid bin Al-Harits, Sulaiman bin Mihran, Ismail bin Zakaria, Khalid bin Makhlad, Sulaiman bin Thorkhon dan Sulaiman bin Qorom. Mereka semua adalah Syiah, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

WAHABI dan NAASHIBAH

Memang tidak semua Wahabi adalah Naashibah, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Wahabi bersikap Naashibah.

Memang di kalangan Ulama Wahabi tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Ahli Bait Nabi SAW dalam bentuk apa pun, untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Wahabi tersebut juga tenggelam dalam fanatisme Awam Wahabi yang cenderung bersikap Naashibah.

Fanatisme Awam Wahabi tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Wahabi dan berbagai pernyataan Ulama panutan mereka sendiri yang menghina Ahli Bait Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Ali RA dan isterinya Sayyidah Fathimah RA serta kedua putranya Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA.

Salah satunya, lihat saja kitab "Minhaajus Sunnah" karya Syeikh Ibnu Taimiyyah sang panutan dan rujukan kalangan Wahabi, yang isinya dipenuhi dengan penghinaan terhadap Ahli Bait Nabi SAW. 

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa imannya Sayyidah Khadijah RA tidak manfaat buat umat Islam. Dan bahwa Sayyidah Fathimah RA tercela seperti orang munafiq. Serta Sayyidina Ali RA seorang yang sial dan selalu gagal, serta berperang hanya untuk dunia dan jabatan bukan untuk agama, dan juga perannya untuk Islam tidak seberapa. 

Ada pun Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA tidak zuhud dan tidak berilmu, serta tidak ada keistimewaannya. Lalu soal pembunuhan Sayyiduna Al-Husein RA hanya masalah kecil, lagi pula dia salah karena melawan Khalifah Yazid yang benar. Dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Ad-Durorul Kaaminah" juz 1 hal.181 - 182 saat mengulas tentang Ibnu Taimiyyah menyatakan :

"ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم ."

"Dan di antara mereka (-para Ulama-) ada yang menisbahkannya (-Ibnu Taimiyyah-) kepada Nifaq, karena ucapannya tentang Ali sebagaimana telah disebutkan."

Dan dalam kitab "Lisaanul Miizaan", Sang Begawan Hadits ini menyimpulkan :

"كم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي ."

"Berapa banyak sikap berlebihan (Ibnu Taimiyyah) dalam merendahkan perkataan Roofidhoh terkadang mengantarkannya kepada pelecehan Ali."

Sikap berlebihan Ibnu Taimiyyah pada akhirnya mengantarkannya ke penjara pada tahun 726 H hingga wafat di tahun 728 H. Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakannya di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab Aswaja, yaitu :

1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.

2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.

3. Mufti Syafi'i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.

4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab "Fataawaa As-Subki" juz 2 halaman 210 menegaskan :

"وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور".

"Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma' Ulama dan Umara."

Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap "Takfiir", sebagaimana diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab "Siyar A'laamin Nubalaa" juz 11 Nomor 2.898 pada pembahasan tentang Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm.

Namun, sayangnya Wahabi saat ini banyak yang tetap berpegang kepada sikap berlebihan Ibnu Taimiyah yang justru sebenarnya sudah diinsyafinya. Bahkan banyak kalangan Wahabi saat ini yang bersikap "Khawaarij" yang cenderung "Takfiirii" yaitu suka mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka. 

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Wahabi secara terang-terangan menyatakan bahwa Madzhab Asy'ari adalah bukan Aswaja, bahkan Firqoh sesat menyesatkan, antara lain :

1. Yazid Abdul Qadir Jawaz dalam buku "Mulia dengan Manhaj Salaf" bab 13 hal. 519 - 521.

2. Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku "Risalah Bid'ah" bab 19 hal. 295 dan buku "Lau Kaana Khairan lasabaquunaa ilaihi" bab 6 hal. 69.

3. Hartono Ahmad Jaiz dalam buku "Bila Kyai Dipertuhankan" hal.165 - 166.

Selain mereka, masih ada Mahrus Ali yang mengaku sebagai Mantan Kyai NU melalui lebih dari sepuluh buku karangannya secara eksplisit menyesatkan aneka amaliyah NU yang bermadzhab Asy'ari Syafi'i.

Karenanya, Aswaja pun sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya Khawaarij mau pun Naashibah adalah firqoh yang sesat menyesatkan. Jadi, Wahabi yang berpaham Khawaarij dan bersikap Nawaashib juga merupakan firqoh yang sesat menyesatkan.

Ada pun "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Khawaarij Takfiirii dan bukan juga Nawaashib. Mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Apalagi mereka masih berpegang kepada sumber hadits yang sama dengan Aswaja, seperti Muwaththo' Malik dan Musnad Ahmad serta Kutubus Sittah, yaitu : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami' At-Tirmidzi, Sunan An-Nasaa-i, Sunan Abi Daud dan Sunan Ibni Maajah, dan kitab-kitab Hadits Aswaja lainnya.

RIWAYAT NAWAASHIB

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Wahabi pasti Khawaarij Takfiirii atau pasti Nawaashib, sehingga semuanya pasti sesat menyesatkan, apalagi sampai mengkafirkan mereka. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja.

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Khawaarij" dan "Perawi Nawaashib", sehingga jika "mereka" dikafirkan, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu juga sangat berbahaya, karena juga bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Khawaarij dan Nawaashib dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan baca kitab "Al-'Itab Al-Jamiil 'alaa Ahlil Jarhi wat Ta'diil" karya As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dengan tahqiq Sayyid Hasan bin Ali As-Saqqoof seorang Ahli Hadits dari Yordania dan ada juga dengan tahqiq DR.Alwi bin Hamid Syihab seorang Dosen Hadits di Universitas Hadromaut - Yaman.

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab- kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Umar bin Sa'ad, Zuhair bin Mu'awiyah, Ibrahim bin Ya'qub, Ishaq bin Suwaid,  Tsaur bin Yazid, Hariiz bin Utsman, Hushoin bin Numair, Khalid bin Abdullah, Ziyad bin Jubair dan Ziyad bin 'Alaaqoh. Mereka semua adalah Nawaashib para pembenci Ahli Bait Nabi SAW, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Selain itu, masih ada "Perawi Khawaarij" dari berbagai sektenya seperti Ibaadhiyyah, Azaariqoh, Haruuriyyah dan Ash-Shufriyyah, antara lain : Jaabir bin Zaid, Juray bin Kulaib, Syabats bin Rib'i dan 'Imraan bin Hiththoon. Dan ada juga "Perawi Murji-ah" yaitu Khalid bin Salamah dan "Perawi Qadariyyah" yaitu Tsaur bin Zaid. Mereka semua adalah Non Aswaja, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adill), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

SYAIR IMAM SYAFI'I

Imam Syafi'i RA dalam "Diiwaan" nya pada halaman 20, menyusun beberapa Bait Syair untuk menyindir Roofidhoh yang selalu menuduh para pecinta Sayyiduna Abu Bakar RA sebagai Nawaashib, dan sekaligus juga menyindir Nawaashib yang selalu menuduh para pecinta Ahli Bait Nabi SAW sebagai Syiah Roofidhoh. 

Berikut syairnya :

إذا نحن فضلنا عليا فإننا
               روافض بالتفضيل عند ذي الجهل
وفضل أبي بكر إذا ما ذكرته
               رميت بنصب عند ذكري للفضل
فلا زلت ذا رفض ونصب كلاهما
                بحبيهما حتى أوسّد بالرمل

Jika kami memuliakan Ali maka sesungguhnya kami ..

Menurut orang bodoh adalah Rowaafidh lantaran memuliakannya.

Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakar ...

Maka aku dituduh Naashibah lantaran memuliakannya.

Maka aku akan tetap selalu menjadi Roofidhoh dan Naashibah sekaligus ...

Dengan menyintai keduanya hingga aku berbantalkan pasir (mati).

ASWAJA

Ahlus Sunnah  wal Jama'ah yang disingkat "Aswaja" adalah bukan Syiah dan bukan juga Wahabi, serta bukan Roofidhoh dan bukan juga Nawaashib.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rhm (w : 973 H) dalam kitab "Az-Zawaajir 'an Iqtiroofil Kabaa-ir" halaman 82 mendefinisikan Aswaja sebagai berikut :

"المراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجماعة الشيخ أبو الحسن الأشعري و أبو منصور الماتريدي ."

"Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang dianut oleh dua Imam Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah yaitu Syeikh Abul Hasan Al-Asy'ari san Abu Manshur Al-Maaturiidii."

Dan Imam Al-Murtadho Az-Zabiidii rhm (wafat : 1.205 H) dalam kitab "Ittihaafus Saadah Al-Muttaqiin" juz 2 hal. 6 menyatakan :

"إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية ."

"Jika disebut Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara mutlaq, maka yang dimaksud adalah Kaum Asy'ari dan Kaum Maaturiidii."

Hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanafi mengikuti Madzhab Aqidah Maaturiidi, karena Imam Abu Manshur Al-Maaturiidii rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Abu Hanifah rhm dalam Madzhab Aqidah Maaturiidiyyah yang dibangunnya.

Dan hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Maliki dan Syafi'i, serta sebagian Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanbali mengikuti Madzhab Aqidah Asy'ari, karena Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad, rohimahumullaah, dalam Madzhab Aqidah Asy'ariyyah yang dibangunnya.

Sebagian Ulama Hanbali mengklaim sebagai pengikut Madzhab Aqidah Ahli Hadits dan Atsar yang "dinisbahkan" kepada Imam Ahmad rhm. Mereka mengklaim sebagai Aswaja yang paling asli dan sejati. Kini, pengikut aliran ini banyak mendapat "label" sesuai aneka sebab kaitannya, antara lain :

1. Atsari : Karena mengklaim sebagai pengikut Ahli Atsar.

2. Salafi : Karena mengklaim sebagai Madzhab paling Salaf.

3. Wahabi : Karena menjadikan Pemikiran Tauhid Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab sebagai rujukan utama.

4. Khawaarij : Karena sering menyalahkan semua umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka.

5. Takfiirii : Karena sering mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka.

6.  Nawaashib : Karena sering merendahkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" bela Shahabat Nabi SAW, bahkan paling suka berteriak mengkafirkan dan memusyrikkan Ibu dan Ayah Nabi SAW.

7. Musyabbih : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menyerupakan-Nya dengan Makhluq.

8. Mujassim : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menjasmanikan Dzat Allah SWT dalam bentuk jasad Makhluq.

KESIMPULAN 

Syiah dan Wahabi bukan "Agama", tapi "Firqoh", sehingga tidak tepat istilah "Agama Syiah" dan "Agama Wahabi", bahkan istilah tersebut terlalu "Lebay".

"Syiah Roofidhoh" dan "Wahabi Nawaashib" adalah Firqoh sesat menyesatkam yang sangat berbahaya, sehingga wajib diwaspadai oleh segenap Aswaja, dan harus dibendung penyebarannya, serta mesti dilawan penistaannya terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat Nabi SAW.

Sedang "Syiah Moderat" dan "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Ada pun Aswaja adalah Madzhab Pecinta Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW serta Para Salaf yang Sholihin. 

Dan Aswaja adalah Madzhab yang selalu terbuka untuk Peradaban Dialog yang berbasis Ilmu dan Akhlaq, dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai  Madzhab mau pun Firqoh.

Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

Alhamdulillaah, Aswaja adalah "Firqoh Naajiyah" yang berjalan di atas jalan Rasulullah SAW dan Ahlil Baitnya serta Para Shahabatnya

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Fakta yang tidak bisa dipungkiri, bahwa pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta sejak akhir tahun 1970 an hingga kini telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Saudi.

Dan pemerintah Republik Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta sejak awal tahun 1980 an pasca Revolusi Iran hingga kini, juga telah membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas dan Hauzah (-sejenis pesantren-) di Iran.

Tentu pembagian bea siswa dari Saudi mau pun Iran sangat terpuji dan patut disyukuri, karena sangat membantu para pelajar Indonesia untuk melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi. Hanya saja yang menjadi problem adalah manakala sebagian besar para pelajar tersebut "didoktrin" dengan madzhab dan pemikiran yang tidak dianut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Di Saudi banyak pelajar Indonesia di-Wahabi-kan, lalu saat pulang kembali ke Tanah Air mereka membawa misi peng-Wahabi-an umat Islam  Indonesia.

Begitu juga di Iran, hampir semua pelajar Indonesia di-Syiah-kan, lalu saat pulang kembali ke Tanah Air mereka membawa misi peng-Syiah-an umat Islam Indonesia.

Akhirnya, para pelajar tersebut menjadi Misionaris Madzhab Wahabi mau pun Syiah di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Sunni Asy’ari Syafi’i.

MISIONARIS SYIAH, WAHABI DAN LIBERAL

Gawatnya, ketika di kalangan para Misionaris Madzhab tersebut mulai ada ”oknum-oknum” yang berani menyesatkan, bahkan mengkafirkan "Madzhab Asy'ari" sebagai Madzhab Mayoritas yang sudah ada lebih dulu dari mereka di Indonesia, maka Konflik Horisontal antar madzhab pun tidak bisa dihindarkan.

Dan yang lebih gawat lagi, jauh sebelum itu hingga kini, negara-negara Barat pun telah lebih dulu membagikan bea siswa kepada ribuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke berbagai Universitas di Amerika dan Eropa. Tentu kita bangga dan berbesar hati serta berterima kasih manakala para pelajar tersebut di Barat menuntut ilmu di fakultas-fakultas Kedokteran, Tekhnologi dan Sains Modern serta yang sejenisnya.

Namun ironisnya, tidak sedikit dari para pelajar tersebut yang menuntut ilmu di fakultas Islamic Studies (Diraasaat Islaamiyyah) yang ada di berbagai Universitas Amerika dan Eropa.

Disana mereka mempelajari Islam kepada para Dosen "Orientalis" dari kalangan Yahudi dan Nashrani, atau kepada kaum "Oksidentalis" yaitu para Dosen Muslim yang sudah terkontaminasi dengan pemikiran kaum Orientalis.

Akhirnya, saat pulang kembali ke tanah air mereka menjadi Misionaris Liberal yang membawa Misi Liberalisasi agama Islam di Indonesia.

Tentu ke depan, untuk menghadapi kedatangan 1001 Doktor Wahabi lulusan Saudi, dan 1001 Doktor Syi’ah lulusan Iran, serta 1001 Doktor Liberal lulusan Barat, yang menjadi "Misionaris Madzhab" di tengah masyarakat Indonesia merupakan tantangan berat bagi kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) Indonesia.

Apalagi manakala mereka kembali ke Tanah Air sebagai "Cendikiawan" yang diback-up oleh kekuatan asing, lalu mereka masuk melalui jalur akademik untuk menyebarkan madzhab pemikiran mereka di kampus-kampus berbagai universitas. Ditambah lagi banyak dari mereka yang masuk ke jalur Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

TANTANGAN BERAT ASWAJA

Tantangan Aswaja Indonesia akan semakin berat manakala Gerakan Misionaris Madzhab tersebut ditunggangi oleh Agenda Politik Global.

Misalnya, Kerajaan Saudi Arabia yang bertikai dengan Republik Iran menggerakkan Misionaris Wahabi-nya di seluruh dunia untuk memprovokasi Aswaja agar memerangi Syi’ah secara fisik, sehingga terjadi penyerangan sporadis terhadap penganut Syi’ah di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Begitu juga sebaliknya, Republik Iran menggerakkan Misionaris Syi’ah-nya di seluruh dunia untuk memprovokasi Aswaja agar memerangi Wahabi secara fisik, sehingga terjadi penyerangan sporadis terhadap penganut Wahabi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Jika demikian persoalannya, maka pertikaian Wahabi dan Syi’ah lebih berwarna "politis" ketimbang "ideologis". Saudi dan Iran memang sudah sejak lama bertarung memperebutkan dominasi politik dan hegemoni kekuasaan di Timur Tengah khususnya dan di Dunia Islam pada umumnya.

Lebih gawatnya, tatkala Amerika dan Eropa menggerakkan Misionaris Liberal-nya untuk meng-ADU DOMBA Umat Islam di berbagai belahan Dunia untuk kepentingan politik global mereka.

Karenanya, tidak sedikit kaum muslimin yang terprovokasi, sehingga terjadi perang dan pertumpahan darah antara Sunni dengan Syi’ah, Sunni dengan Wahabi, dan Wahabi dengan Syiah, bahkan antara Sunni dengan Sunni, Wahabi dengan Wahabi, dan Syi’ah dengan Syi’ah.

Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji’uun ...

STRATEGI ASWAJA

Menghadapi ancaman dan tantangan yang demikian berat, maka Aswaja perlu segera mengambil langkah-langkah strategis untuk merapatkan barisan dan menyatukan semua potensi kekuatan.

Ke depan tidak bisa tidak Aswaja akan berhadap-hadapan dengan mereka "Face to Face", mulai dari kontak dalil melalui Dialog, bahkan mungkin hingga kontak fisik melalui Perang Konvensional.

Ingat : Saat MUSYRIKIN Quraisy mau pun KAFIRIN Ahlul Kitab mengajak Rasulullah SAW berdialog, beliau hadapi dengan Dialog. Namun saat mereka menghunus pedang memerangi Nabi SAW, maka beliau sambut dengan pedang juga.

Artinya, hadapi musuh dengan seimbang : Lawan Imu dengan Ilmu, Hujjah dengan Hujjah, Logika dengan Logika, Kitab dengan Kitab, Dalil dengan Dalil, Ekonomi dengan Ekonomi, Politik dengan Politik, Siasat dengan Siasat, dan Senjata dengan Senjata.

Itulah karakter Strategi Aswaja.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

KARAKTER ASWAJA

Aswaja harus selalu waspada agar tidak menjadi alat politik dari pihak mana pun, Wahabi atau pun Syi’ah, apalagi Liberal. Aswaja harus tetap pada ciri dan karakter khasnya, yaitu : Muhaayid (Netral) dan I’tidaal (Adil), Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), serta juga Tasaamuh (Toleran).

Penghargaan yang tinggi patut diberikan kepada Universitas Al-Azhar di Cairo – Mesir, karena telah membuka aneka fakultas dari aneka ragam Madzhab Islam untuk para mahasiswanya. Setiap mahasiswa yang belajar di Al-Azhar disalurkan langsung oleh pihak Universitas ke fakultas madzhab yang sesuai dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, sehingga saat kembali pulang ke negerinya tidak membawa Misi Madzhab baru dan tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab. Para pelajar Indonesia misalnya, langsung disalurkan oleh pihak Universitas Al-Azhar untuk mengikuti fakultas yang bermadzhab Syafi’i, karena Indonesia dikenal di dunia sebagai Negeri Sunni Asy’ari Syafi’i.

Penghargaan yang tinggi juga patut diberikan kepada Guru Besar kami yang mulia dan tercinta Alm. Prof. DR. As-Sayyid Muhammad b Alwi Al-Maliki Al-Hasani rhm di Mekkah, karena walau pun beliau sebagai seorang Ulama Besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Imam Malik rhm, namun beliau tetap mengajar Madzhab Syafi’i kepada ribuan muridnya yang berasal dari Nusantara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Patani di Selatan Thailand dan Sulu mau pun Mindanau di Selatan Philipina, sesuai madzhab yang tersebar di negeri mereka, sehingga para murid beliau tidak menjadi sumber Konflik Horisontal Antar Madzhab di negerinya masing-masing.

Karenanya, akan sangat arif dan bijak jika Saudi dan Iran serta Dunia Islam lainnya mengikuti langkah Universitas Al-Azhar – Mesir dan meneladani apa yang telah dicontohkan para Ulama Sunni, yang tidak memaksakan suatu madzhab kepada para mahasiswa dan santrinya, bahkan membekali mereka dengan madzhab yang dianut oleh negerinya masing-masing, agar di kemudian hari mereka bisa menjadi pemersatu umat Islam, bukan menjadi sumber konflik yang memecah belah kaum muslimin.

UNDANG UNDANG ANTI MISIONARIS MADZHAB

Sudah seyogyanya, Madzhab Minoritas di suatu negeri harus "Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas di negeri tersebut harus "Tahan Diri", sehingga keharmonisan hubungan antar Madzhab Islam bisa terjamin dan berjalan baik. Jika hal tersebut bisa terwujud, maka hubungan antar madzhab di tengah masyarakat Islam bisa berjalan secara alami, sehingga tidak terlalu diperlukan peran serta negara, kecuali hanya untuk turut menjaga keharmonisan tersebut.

Namun, jika Madzhab Minoritas "Tidak Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas "Tidak Tahan Diri",  tentu akan mengundang konflik serius antar Madzhab Islam tersebut, sehingga sangat diperlukan peran serta negara untuk meredam konflik. Dalam kondisi seperti ini, maka perlu dipertimbangkan adanya Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab dalam negara tersebut.

MENCEGAH KONFLIK

Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab tidak dimaksudkan untuk melarang keberadaan suatu Madzhab di suatu negeri dan tidak pula ditujukan untuk menindasnya, akan tetapi hanya untuk melarang penyebar-luasan suatu madzhab di wilayah madzhab lain untuk menghindarkan Konflik Horisontal antar penganut madzhab yang ada di negeri tersebut.

Di Saudi sebagai Negara Wahabi sudah sejak lama melarang penyebaran madzhab apa pun di luar Wahabi, namun Saudi tetap memperkenankan bahkan melindungi warganya yang Non Wahabi. Dan Saudi pun tidak pernah melarang warga Syiah sekali pun untuk tinggal di Saudi dan menunaikan Haji dan Umroh serta Ziarah ke Madinah.

Di Iran sebagai Negara Syiah juga sejak Revolusi melarang penyebaran madzhab apa pun di luar Syiah, namun Iran tetap memperkenankan bahkan melindungi warganya yang Non Syiah.

Dengan demikian, di Saudi  mau pun Iran sudah berlaku sejak lama aturan yang substansinya adalah Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab yang melarang penyebaran madzhab apa pun di luar madzhab yang dianut oleh kedua negara tersebut.

Begitu pula di Malaysia dan Brunei sebagai negara Aswaja Asy’ari Syafi’i sudah berjalan Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab, sehingga kalangan Syiah dan Wahabi diperkenankan dan dilindungi hidup di Malaysia dan Brunei, namun dilarang menyebar-luaskan paham dan ajarannya.

INDONESIA NEGARA ASWAJA

Nah, Indonesia perlu belajar kepada Saudi, Iran, Malaysia dan Brunei tentang pengadaan dan pemberlakuan Undang-Undang Anti Misionaris Madzhab. Dan Indonesia sebagai Negara Sunni Asy’ari Syafi’i harus berani melarang penyebaram paham dan ajaran apa pun di luar ajaran Aswaja, seperti Syiah dan Wahabi, apalagi Liberal.

Setidaknya di Indonesia mesti ada aturan hukum tentang Larangan Penghinaan terhadap Ahul Bait dan Shahabat Nabi SAW, sehingga siapa pun yang melanggarnya harus diberikan sanksi yang berat, misalnya dipenjara sekurang-kurangnya lima tahun atau hingga ia bertaubat.

Berbahaya sekali jika pemerintah RI membiarkan interaksi Antar Madzhab tanpa aturan, apalagi tatkala Madzhab Minoritas "Tidak Tahu Diri", dan Madzhab Mayoritas "Tidak Tahan Diri".

Bayangkan saja akibatnya : umat Islam Indonesia yang Asy'ari Syafi'i selama ini cinta Ahlul Bait termasuk ayah bunda Nabi SAW, dan sudah tebiasa dengan amaliyah Tawassul, Tabarruk, Ziarah Kubur, Marhabanan dan peringatan Hari Besar Islam. Lalu tiba-tiba muncul "Wahabi Ekstrim" yang memusyrikkan ayah bunda Nabi SAW dan membid'ahkan bahkan mengkafirkan amaliyah Aswaja tersebut. Tentu kalangan Aswaja akan marah, dan itu bisa menimbulkan Konflik Horisontal. Faktanya, beberapa tahun lalu di NTB ada Pesantren Wahabi yang dirusak massa lantaran masalah tadi.

Bayangkan juga akibatnya : umat Islam Indonesia yang Asy'ari Syafi'i selama ini cinta para Shahabat Nabi SAW, bahkan sudah terbiasa "Tarodhdhiy" yaitu membaca "Rodhiyallaahu 'anhu" untuk Shahabat. Lalu tiba-tiba muncul "Syiah Ekstrim" yang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif memcaci maki para Shahabat Nabi SAW, bahkan mengkafirkannya. Tentu kalangan Aswaja akan marah, dan itu bisa menyebabkan Konflik Horisontal. Faktanya, di Sampang - Madura ada Pesantren Syiah yang dirusak massa lantaran masalah tadi.

Nah, kalau hal seperti ini dibiarkan terus, maka ke depan bisa menjadi penyebab "Tragedi Kemanusiaan" yang sangat mengerikan, berupa Perang Sektarian antar Madzhab Islam, saling serang dan bakar, saling bunuh dan sembelih, seperti yang terjadi di Iraq dan Syria.

Na'uudzu Billaahi Min Dzaalik ....

Semoga Allah SWT menyatukan umat Islam dan menyelamatkannya dari fitnah adu domba, serta memenangkannya atas semua musuh-musuhnya.

Aaamiiiin .... !



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Upaya membangun Peradaban Dialog untuk mewujudkan Toleransi Antar Umat Islam selama ini memiliki Tantangan dan Halangan yang cukup berat, antara lain :

1. Adanya ”kelompok ekstrim” dari berbagai kelompok Islam yang suka mengkafirkan sesama muslim yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga mereka selalu menolak upaya wihdah atau taqrib atau tasaamuh antar madzhab Islam, bahkan dialog pun mereka tolak, karena mereka hanya menganggap madzhabnya saja yang Islam, sedang selainnya kafir.

2. Adanya ”ketidak-tulusan” dari sementara kelompok Islam dalam membangun peradaban dialog, sehingga ada di antara mereka yang menjadikan upaya Wihdah dan Taqrib hanya sebagai peluang untuk menyebar-luaskan paham kelompoknya di tengah kelompok yang lain. 

3. Adanya ”kepentingan politik” lokal mau pun global yang sering melakukan menejment konflik antar madzhab melalui operasi intelijen.

4. Adanya ”kesalah-pahaman” terhadap istilah Wihdah dan Taqrib, sebagian orang menganggap bahwa upaya Wihdah atau Taqrib merupakan upaya menyatukan madzhab atau menghilangkan suatu madzhab dan menggiring kaum muslimin ke madzhab tertentu.

5. Kurangnya ”sosialisasi” hasil-hasil Mu’tamar Antar Madzhab ke tingkat akar rumput, sehingga masyarakat awam masih banyak yang tidak paham tentang etika pergaulan lintas aliran dalam Islam yang disepakati oleh Ulama mereka.

SEPULUH SOLUSI

Berangkat dari hasil Mu’tamar Antar Madzhab di ‘Amman dan Dauhah, dan dengan memperhatikan aneka tantangan tersebut di atas, maka minimal ada Sepuluh Solusi yang bisa ditawarkan untuk membangun At-Tasaamuhu bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Tolerasni Antar Madzhab dan Firqoh Islam, yaitu :

1. Semua Madzhab Islam wajib sepakat dalam masalah-masalah Qoth’iyyaat yaitu masalah-masalah Ushuluddin, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Qoth’i, baik secara Wurud mau pun Dilalah.

2. Wajib menghormati perbedaan pendapat dalam masalah-masalah Zhonniyyat yaitu masalah-masalah Furu’uddin atau Ushul Madzhab, baik terkait Aqidah, Syariah mau pun Akhlaq, yang berdiri di atas dalil Zhonni, baik secara Wurud mau pun Dilalah atau keduanya.

3. Semua Madzhab Islam harus sepakat bahwa setiap masalah dalam agama Islam, baik dalam masalah Ushuluddin mau pun Furu’uddin, begitu juga Ushul Madzhab, harus memiliki Dalil Syar’i yang mu’tabar, sehingga bisa dipertanggung-jawabkan secara syar’i. 

4. Jangan ada pengkafiran dalam masalah apa pun, kecuali kekafiran yang nyata dan terang serta disepakati oleh semua Ulama tentang kekafirannya, seperti mengingkari Keesaan Allah SWT, meyakini ada Nabi Baru setelah Nabi Muhammad SAW, menyatakan Al-Qur'an kurang tidak sempurna, menolak kewajiban Sholat Lima Waktu, dan lain sebagainya daripada Ushuluddin.

5. Jangan melecehkan Muqoddasaat Madzhab, yaitu sesuatu yang diagungkan atau dimuliakan suatu madzhab.

6. Jangan ada Missionaris Madzhab tertentu di  wilayah / negeri madzhab yang lain, sehingga tidak boleh ada upaya pen-syiah-an atau peng-wahabi-an negeri Sunni, dan sebaliknya tidak boleh ada pen-sunni-an negeri Syiah atau negeri Wahabi.

7. Jangan ada penindasan terhadap suatu madzhab minoritas di mana pun, sehingga semua Madzhab Islam minoritas tetap boleh hidup di negeri madzhab lain yang mayoritas, walau pun madzhab minoritas tersebut tidak boleh dikembangkan atau disebar-luaskan di negeri madzhab lain yang mayoritas tersebut.

8. Menggalakkan Dialog Ilmiah antar Madzhab dan Firqoh Islam secara elegan dan berakhlaqul karimah, dan mengganti istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam smenjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam.

9. Dialog Antar Madzhab dan Firqoh Islam dilakukan dengan Ikhlas dan Tulus tanpa Taqiyah atau kepura-puraan.

10. Sosialisasikan hasil Dialog hingga tingkat akar rumput semua madzhab.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam atau Pendekatan Antar Madzhab Islam dikritisi oleh Dua Pemikir Islam abad ini :

Pertama, Prof.DR.Yusuf Al-Qordhowi Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, menyatakan bahwa istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam kurang tepat, karena kata Madzhab berkonotasi Fiqih, sedang Khilaf dalam Fiqih dianggap sudah selesai, dan tidak lagi menjadi penyebab perpecahan umat Islam, serta dalam masalah Fiqih sudah terbangun dengan baik saling pengertian di antara umat Islam. Menurutnya, istilah yang lebih tepat adalah At-Taqriib Bainal Firoqil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Firqoh Islam, karena kata Firqoh  lebih fokus kepada Aqidah, dan memang Khilaf dalam Aqidah inilah yang belum selesai, dan telah membuat umat Islam masih terpecah belah hingga kini, bahkan saling menyesatkan dan mengkafirkan antara Firqoh, sehingga perlu dibangun upaya Taqrib Antar Firqoh Islam.

Kedua, Prof.DR.Kamaluddin Nurdin Marjuni, MA, seorang Guru Besar Aqidah dan Filsafat asal Indonesia di USIM (Universitas Sains Islam Malaysia), mengkritisi istilah Taqriib yang artinya Pendekatan, menurutnya istilah Taqriib yang artinya Pendekatan berkonotasi penyatuan Madzhab, sehingga sering disalah-pahami oleh umat Islam sebagai upaya penyatuan Madzhab-Madzhab Islam menjadi satu Madzhab saja, atau pemaksaan suatu madzhab kepada pengikut madzhab yang lain. Karenanya, menurutnya yang lebih tepat adalah istilah Tasaamuh yaitu Toleransi, sehingga bisa dipahami sebagai upaya membangun saling pengertian dan saling menghargai serta saling menghormati antar pengikut madzhab, tanpa menyatukan madzhab-madzhab yang ada, apalagi memaksakan suatu madzhab kepada pengikut madzhab lain. Jadi, istilah At-Taqriib Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Taqrib Antar Madzhab Islam seyogyanya diubah menjadi At-Tasaamuh Bainal Madzaahibil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab Islam.

ISTILAH UNIVERSAL

Kedua Kritik tersebut sangat ilmiah dan argumentatif serta tulus untuk mewujudkan dan membangun Ukhuwwah Islaamiyyah di antara umat Islam dalam aneka perbedaan paham Fiqih mau pun Aqidah selama tidak keluar dari batasan Ushuluddin yang sangat prinsip dan mendasar baik dalam Aqidah, Syariat mau pun Akhlaq.

Karenanya, berangkat dari kedua kritik akademik tersebut, maka istilah yang patut dipilih disini adalah At-Tasaamuh Bainal Madzaahib wal Firoqil Islaamiyyah yaitu Toleransi Antar Madzhab dan Firqoh Islam. Disini kata Madzhab tetap dicantumkan, karena masalah Fiqih hingga kini masih sering dieksploitasi dan dimanipulasi untuk memecah belah umat Islam, sehingga tetap perlu secara terus menerus dibangun Dialog Antar Madzhab Islam. Apalagi masalah Aqidah, tentunya lebih penting dan teramat darurat untuk dibangun Dialog Antar Firqoh Islam.

Namun demikian, terlepas dari perbedaan dan kritik istilah di atas, maka istilah yang lebih universal adalah : At-Tasaamuh Bainal Muslimiin yaitu Toleransi Antar Umat Islam.

MEMBANGUN TOLERANSI

Dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam maka yang pertama harus dilakukan adalah menghidupkan Dialog Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab dan Firqoh Islam, secara ilmiah dan berakhlaqul karimah. Dialog adalah Pintu Gerbang untuk menumbuhkan saling pengertian antar penganut Madzhab dan Firqoh Islam, serta menjadi media untuk menyampaikan pendapat suatu Madzhab atau Firqoh dan mendengarkan pendapat Madzhab atau Firqoh lain. 

Allah SWT telah membimbing Nabi-Nya untuk selalu membuka diri dalam berdialog dengan orang-orang kafir. Bahkan Allah SWT memberi petunjuk dan arahan kepada Rasulullah SAW bahwasanya berdialog dengan orang-orang kafir dalam rangka berda’wah harus dengan cara yang terbaik, sebagaimana firman-Nya SWT dalam QS.16.A-Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya :  ”Serulah (Ahlul Kitab) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah (debatlah / dialoglah) mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnysa Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Nah, jika berdialog dengan orang-orang kafir saja harus dengan cara yang Terbaik, apalagi berdialog dengan sesama muslim. Dialog Lintas Agama saja harus dengan cara yang ramah dan santun, apalagi Dialog Lintas Madzhab dan Firqoh Islam, termasuk Dilaog dengan Syi’ah dan Wahabi.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.