SAYA  bukan NU, walaupun saya qunutan dan shalat tarawih dan witir 23 rakaat. Kenapa, karena saya tidak memiliki kartu anggota NU. Saya juga bukan Muhammadiyah, meskipun saya pernah tiga tahun mengecam pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Muhammadiyah Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Kenapa? karena saya tidak memiliki kartu anggota Muhammadiyah. Saya bukan anggota Front Pembela Islam, meskipun saya sering bertandang ke markasnya sebagai wartawan dan mendengarkan tausyiah agama yang disampaikan Habib Rizieq maupun ulama, kiai atau ustaz terkenal di sana. Kenapa? Karena saya tidak memiliki kartu anggota FPI.

Saya juga bukan anggota organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Kenapa? Karena saya tidak memiliki kartu anggota. Akan tetapi, saya mengagumi organisasi keislaman yang ada di Indonesia, kecuali Ahmadiyah dan Syiah yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Terlebih lagi dengan Achmad Musaddeq, apalagi Lia Edan (eh Eiden), yang jelas-jelas menista agama Islam dan sudah divonis pengadilan bersalah.

Saya juga bukan anggota partai politik tertentu. Meskipun sebagai warga negara saya berhak menyalurkan suara saya ke partai tertentu. Kenapa saya tidak menjadi anggotanya? Karena saya tidak memiliki kartu anggotanya. Oleh karena itu, jika ikut demo Membela AlQur'an, saya tidak akan mau ditunggangi apalagi dipengaruhi partai tertentu.

Saya juga bukan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena tidak pantas dari segi keilmuan saya apalagi ibadah saya yang masih sangat jauh  menjadi anggotanya. Menyandang sebutan  ulama itu berat, karena ulama pewaris nabi. Akan tetapi, saya sangat patuh terhadap fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI, kecuali fatwa yang menghalalkan paha kodok (saya tidak akan makan paha kodok sampai akhir hayat).

Sekali lagi saya sangat patuh terhadap fatwanya, terlebih lagi fatwa tentang penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. (Yang dikeluarkan MUI tidak sekedar fatwa atas hal ini, tetapi merupakan pendapat agama -- yang tingkatannya lebih tinggi dari fatwa). Akan tetapi, masyarakat tetap lebih mengenalnya sebagai Fatwa, sehingga dibentuklah Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GMPF MUI).

Karena saya patuh terhadap fatwa MUI tersebut, maka tidak ada alasan bagi saya lagi untuk tidak ikut turun membelanya.     Saya turun, karena  Al Qur'an adalah Kitab Suci saya. Karena dihina oleh seseorang yang bukan beragama Islam, saya wajib membelanya. Membela, bukan berarti membenci agama lain apalagi suku dan ras lain. Yang saya  benci hanya si penistanya, Ahok. Oleh karena itu, wajar saya juga menyuarakan agar Ahok dipenjara, seperti halnya Lia Eden, Achmad Musaddiq, Roy, Aswendo.

Oleh karena itu, saya harus senantiasa turun untuk membela Al Qur'an yang dihina seseorang. Saya turun bukan ikut-ikutan. Bukan karena ingin terkenal. Akan tetapi, ikut karena mengharap Ridho Allah Subhanahu wata'ala. Oleh karena saya bukan anggota ormas Islam mana pun, saya menjadi bebas. Tidak terikat dengan imbauan apalagi fatwa yang dikeluarkan ormas tertentu. Misalnya, ormas Islam A melarang anggotanya ikut demo. Saya merasa tidak ikut disitu. Apalagi larangan itu jelas salah. Mestinya, bunyinya adalah, "Peserta demo dilarang membawa nama ormas.... dan seterusnya."
Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang Nasrani dan kebetulah keturunan Cina. Mereka bilang, "Kan Ahok sudah minta maaf. Kenapa masih diributkan."

Pandangan munafik

Itulah pandangan yang senantiasa disebarkan oleh orang kafir dan orang munafik  yang tidak ikut membela Al Qur'an. Cara itu, jelas untuk mempengaruhi banyak pihak, agar tidak ada demo, agar tidak ada tekanan terhadap penegak hukum.

Jawaban saya dalam obrolan itu,"Memaafkan itu bisa. Akan tetapi proses hukum harus terus jalan. Misalnya, saya membunuh keluarga Bapak, lalu saya katakan tidak sengaja dan meminta maaf. Tentu tidak bisa. Proses hukum dulu. Soal Bapak nanti memaafkan, itu lain soal. Yang jelas, kalau sudah membunuh, menghina, harus diproses secara hukum dulu."

Obrolan pun akhirnya menjadi tidak karuan. Akan tetapi, obrolan kami itu hanya sebatas diskusi kecil. Selesai, ya biasa aja, meski saat ngobrol terkadang ada juga suara menegangkan.
Sekali lagi, saya harus ikut dalam aksi 2 Desember 2016 atau lebih dikenal Aksi Bela Islam Ketiga (212). Apalagi, aksi ketiga ini super damai, karena akan diisi dengan zikir, ceramah agama, shalat Jumat di sekitar Monas. Acara yang dimulai pukul 0.8.00 diharapkan berakhir pukul 13.00.

Saya harus ikut, seperti aksi sebelumnya. Haruskan saya kalah dengan saudara-saudara Muslim lainnya yang datang jauh-jauh, mulai dari Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jambi, Lampung, Bengkulu, Kalimantan, Sulawesi, NTB. Apalagi yang harus saya lakukan selain ikut, terlebih setelah membaca dan menyaksikan saudara-saudar yang dari Ciamis berangkat jalan kaki, karena aparat kepolisian sempat melarang bus agar tidak mengangkut peserta demo ke Jakarta.


Oleh H.Mangarahon Dongoran (Wartawan Senior)
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.