Saya tidak kenal Buni Yani. Saya tidak tahu siapa dia. Katanya, dia pernah jadi wartawan, sekolah ke Amerika Serikat dan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Pusat.

Karena mengunggah pidato Basuki Tjahya Purnama saat di Kepulauan Seribu, Buni Yani pun semakin terkenal, meski pun ia juga ikut dipolisikan oleh pendukung Basuki alias Ahok. Padahal, berdasarkan keterangan Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Ari Dono Sukmanto, video unggahan itu asli setelah dilakukan uji forensik.

Saya tidak mau terlalu banyak mengulas masalah hukum dalam tulisan saya ini. Karena saat ini semua sudah ditangani penegak hukum. Akan tetapi, saya hanya mencoba mengatakan, jangan sampai kasus Buni Yani yang dipolisikan cepat penanganannya dan (ini tidak diharapkan) ia ditahan.
Padahal, Ahok ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Pasal 156 a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).Akan tetapi, tidak ditahan.

Sebagai wartawan senior, saya mengajukan jempol kepada Buni Yani. Meski sudah menjadi dosen, ia cukup jeli mencari sudut pandang dalam suatu peristiwa. Dalam bahasa jurnalistik, Buni Yani mampu mengangkat sebuah persoalan yang lolos dari pengamatan wartawan. Padahal, seorang wartawan dituntut agar jeli dalam menggali informasi, mencari lead berita yang tajam, sehingga menyentak pembaca.

Saya mengibaratkan kejeliannya itu dengan wartawan yang memotret anggota DPR RI Adrian Napitupulu yang diduga sedang tidur. (Meskipun Adrian yang mantan aktivis itu menyanggahkan bukan tidur). Pun juga Buni Yani saya bandingkan dengan wartawan yang memotret anggota DPR RI yang sedang bersidang mengunggah video porno pada HP-nya, sehingga anggota tersebut harus berhenti.

Saya juga masih teringat, di masa Orde Baru, wartawati foto sempat dimarah-marahi oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab), Jenderal LB Moerdani (almarhum), karena ia memoto sang jenderal sedang mengikat sepatu.

Pun juga almarhum Tarman Azam (mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digertak Presiden Soeharto, hanya karena menanyakan sumber pendanaan pembangunan rumah veteran di Bekasi. Meski pertanyaan dan jawabannya tidak menjadi berita. (Maklum jaman orde baru pers dikekang).

Saya juga teringat dengan pertanyaan seorang wartawan ketika Menteri Penerangan Harmoko memberikan keterangan ramainya pemberitaan lemak babi di makanan kaleng. Menurut Harmoko sudah ada label halal. Wartawan itu bertanya, "Apakah yang tidak berlabel halal berarti tidak halal, atau haram." Harmoko dengan nada meninggi mengancam wartawan tersebut agar ditegur Pemimpin Redaksinya. Padahal, wartawan tersebut bukan bekerja di media yang bernafaskan Islam.

Memang betul, apa yang disampaikan Buni Yani tidak dilakukan melalui media resmi, tetapi lewat media sosial (medsos) berupa facebook-nya. Andaikan wartawan yang meliput di Kepulauan Seribu itu jeli, saya yakin berita yang diturunkan bukanlah tentang budidaya ikan. Tetapi, tentang Almaida ayat 51 yang disampaikan Ahok dalam acara tersebut.

Ya, itulah kejelian yang harus dimiliki seorang wartawan, terutama pemula di lapangan (selain mendapat arahan dari redaktur atau kantornya, wartawan muda juga harus sering berdiskusi sesama teman sejawat). Telinga wartawan harus peka mendengarkan apa yang disampaikan sumber berita. Terkadang, ada sumber berita yang hanya menyampaikan informasi (terutama pada masa orde baru). Bukan untuk diberitakan. Sekarang juga saya kira masih ada. Akan tetapi, untuk mengakalinya, seorang wartawan harus pintar melempar informasi tersebut ke pihak lain.
Misal, ketika ramai-ramai penutupan bank di tahun 1998 dan 1999. Ketika itu, saya mendapatkan info dari seorang pengusaha yang dekat dengan pemerintah, yang menyebutkan akan ada bank yang digabung. "Tapi, jangan dari saya. You bisa cek yang lain," katanya.

Ketika saya cek, betul ada pertemuan tentang itu. Tapi, yang saya wawancara mengatakan, belum. Meski pada akhirnya bank yang disebut sumber saya tersebut benar di gabung (marger).
Kembali ke Buni Yani. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, sebagai orang yang pernah bekerja di media, ia masih jeli membaca sebuah peristiwa yang pantas diangkat (meski ia lakukan lewat medsos).

Kedua, Buni Yani telah mengangkat kesadaran umat Islam atas pernyataan Basuki tersebut. Andaikan dia tidak mengunggahnya (meski katanya yang pertama mengunggah adalah Pemprov DKI Jakarta), tentu pernyataan Basuki tentang Almaidah 51 itu dianggap biasa-biasa saja.

Kejelian Buni Yani, telah membuat melek mata umat Islam, di bawah bimbingan para ulama, kiai, ustaz, habib dan sebutan lainnya terhadap tokoh Islam. Buni Yani telah membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan pendapat MUI (oleh masyarakat lebih dikenal fatwa MUI). Padahal, tingkatan pendapat lebih tinggi, karena mengundang semua komisi di MUI untuk membahasnya. Kalau fatwa, itu bisa hanya satu komisi, yaitu Komisi Fatwa MUI.

Buni Yani telah mampu menyatukan umat Islam di berbagai pelosok Indonesia. Coba lihat, saat Demo Aksi Bela Islam I dan II, mereka tidak lagi melihat organisasi. Tetapi, memutih, terutama Aksi Bela Islam II yang diperkirakan mencapai 2 juta lebih, meski aparat mengatakan sekitar 30.000 sehingga petugas yang disiagakan hanya 18.000.

Meski ada satu dua yang membawa bendera organisasi islamnya, tetapi semua pendemo menyatu. Tidak ada lagi NU, Muhammadiyan, Persis, FPI, HTI dan ormas lainnya, tetapi menyatu dalam Islam yang ingin membela Al Qur'an.

Mereka yang berdemo datang dari berbagai daerah, mulai dari NTB, Sulawesi, Kalimantan, Aceh. Apalagi dari Jakarta dan sekitarnya dan wilayah lainnya di Pulau Jawa. Jadi, mereka datang tidak ada urusan dengan politik apalagi disangkut-pautkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, karena Basuki termasuk salah satu calon. Mereka datang dengan biaya sendiri, hanya ingin menuntut keadilan dan penegakan hukum terhadap penista Al Qur'an. Mereka ingin membela Al Qur'an. "Di dunia kalian harus membela Al Qur'an,  di akhirat, kalian dibela Al Qur'an."

Oleh H. Mangarahon Dongoran (Wartawan Senior)
Label: , ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.