KETUHANAN YANG MAHA ESA (2/3): Yang dimaksud "Tuhan Yang Maha Esa"

            Pancasila sebenarnya diletakan pada alinea pertama pembukaan UUD 1945, maka cara yang benar untuk memahaminya adalah membaca keseluruhan pembukaan secara sistematis ini artinya kalau kita ingin mengetahui maksud sesungguhnya "Ketuhanan Yang Maha Esa" maka seluruh pembukaan UUD 1945 harus dibaca secara utuh. Jika kita membaca secara utuh maka akan ditemukan kalimat pada alinea ketiga UUD 1945 yang berbunyi "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas,..." Iya, yang dimaksud oleh "Ketuhanan Yang Maha Esa" tiada lain adalah Allah yang Maha Kuasa.

             Selain melakukan tafsiran sistematis, secara historis Bung Hatta sendiri menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkan "Ketuhanan Yang Maha Esa" sambil menegaskan posisi sila pertama dalam Pancasila amatlah penting, sebagaimana diceritakan oleh Kasman Singodimedjo:

"Bung Hatta sendiri pada bulan Juni dan Agustus 1945 menjelaskan bahwa Tuhan yang Maha Esa itu ialah Allah, tidak lain kecuali Allah. Dan waktu beliau mengusulkan supaya ketuhanan itu dengan rumusan "Ketuhanan yang Maha Esa" dijadikan sila pertama (dan bukan seperti maunya Bung karno sebagai sila kelima dengan rumusan "ketuhanan"), maka Bung Hatta memberi penjelasan supaya Allah dengan Nur-Nya menyinarkan Nur-Nya itu kepada sila-sila yang empat lainnya dari Pancasila itu. Dan penjelasan Bung Hatta ini mau tidak mau memberi isi dari tafsiran historis (historische interpretatie) dari Pancasila itu sendiri. Dan tafsiran historis itu sesuai betul dengan tafsirannya "Ketuhanan Yang Maha Esa" menurut arti dan pengertian dari kata-kata Ketuhanan yang Maha Esa itu sendiri. Yakni bahwa Tuhan yang Maha Esa itu adalah Allah, Allahu Ahad, Allahu Somad, Allah yang Tunggal, dan dari Allah yang Esa itulah segala sesuatunya di alam semesta ini, dan siapapun juga bergantung dan tergantung. Dan itulah Allah yang tidak beranak (lam yalid) dan yang tidak diperanakan (wa lam yulad), pula tidak ada di alam semesta ini siapa pun dan apa pun yang sama atau mirip-mirip dengan yang Maha Esa (Allah) itu (wa lam yakun lahu kufuan ahad)."[1]


            Dari penjelasan diatas selain tentang maksud sila pertama, dapat terlihat posisi sila pertama dalam Pancasila memiliki kekhususan tersendiri dari sila-sila selanjutnya, setidaknya menurut founding fathers, karena ia merupakan sila terpenting dan menaungi sial-sila lainnya. Bahkan posisi penting sila tersebut ditegaskan kembali dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 29 ayat 1 yang berbunyi "Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa." Bukti-bukti diatas sesungguhnya cukup menyimpulkan kalau sebenarnya yang dimaksudkan "Ketuhanan yang Maha Esa" adalah Allah SWT

            Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Islam pahlawan Indonesia yang juga anggota BPUPKI dan PPKI, bila ditanya apa itu makna dari "Ketuhanan Yang Maha Esa" dijawab singkat yakni tauhid.[2] Jawaban ini, sejalan dengan perkataan Bung Hatta tadi dan ini sekali lagi dapat menjadi tafsir historis untuk memahami hakikat siapa sesungguhnya yang dimaksudkan oleh sila pertama Pancasila, sebagaimana yang dipahami juga oleh founding fathers.

            Tidaklah salah, dari berbagai indikasi dan pemahaman founding fathers sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, kalau dikatakan yang dimaksudkan "Ketuhanan yang Maha Esa" dan "Allah Yang Maha Kuasa" sebagaimana yang disebut pada alinea ketiga pembukaan UUD 1945, adalah konsep tauhid dalam Islam, karena lafazh Allah sangat identik dengan Islam, apalagi ketika disifati kata "Yang Maha Esa"

            Bukan tritunggal yang memiliki tiga entitas tapi satu dan satu tapi tiga wujud, bukan pula tuhannya orang yahudi yang sampai sekarang masih diperdebatkan penyebutannya apakah YHWH atau Yahweh, buka pula nama-nama lainnya, Dia Allah yang Maha Esa, yang tidak mempunyai anak, tidak pula diperanak, yang ke-Esaannya benar-benar murni tanpa ada sekutu, kawan, saudara, rekanan dan sejenisnya, hanya ada pada konsep tauhid milik Islam - [bersambung]


Oleh: Ali Alatas, SH
Ketua FMI (Front Mahasiswa Islam)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

[1] Panitia Peringatan  75 Tahun Kasman, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun,(Jakarta; Bulan Bintang, 1982), h. 124-125

[2] Adian Husaini, Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2009) h.148

Baca juga :
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.