Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj, menerima Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian, saat berkunjung ke gedung PBNU pada Kamis.

Sayangnya, pertemuan itu justru dimanfaatkan Said Aqil untuk “curhat” mengadukan keburukan Ormas-ormas Islam. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), disebut Said sebagai Ormas anti nasionalisme.

Lalu Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dinilai anti tahlilan dan kerap menyebut bid’ah amalan warga NU.

Tak ketinggalan, Front Pembela Islam (FPI), juga disebut merusak citra Islam. Padahal sejatinya, antara FPI dan Nahdlatul Ulama cukup dekat, baik secara nilai maupun kultur. Namun, tetap saja tak bisa lepas dari sasaran “gunjingan” Said Aqil.

Mengenai Front Pembela Islam (FPI), Kiai Said menyampaikan bahwa gerakan ini bukan gerakan Wahabi atau ingin mendirikan negara Islam, tetapi misinya ingin menegakkan amar makruf nahi mungkar. Sayangnya apa yang dilakukan tidak terkoordinasi dengan aparat keamanan.

“Jadinya malah merusak citra Islam yang damai,” demikian seperti ditulis situs resmi Nahdlatul Ulama Kamis.

Menanggapi tuduhan tersebut, Ketua Umum FPI, KH Ahmad Shabri Lubis, menyikapinya dengan santai. Ia menganggap “ocehan” Said Aqil sebagai hal biasa.

“Wajarlah, sebagaimana orang liberal berkomentar terhadap musuh-musuhnya Amerika,” ucap Ustadz Shabri Lubis kepada Panjimas.com, Jum’at.

Ustadz Shabri -sapaan akrabnya- menganggap “curhat” Said Aqil ke Kapolri tentang FPI salah alamat. Sebab, Kapolri Jenderal Tito Karnavian cukup mengenal FPI sejak lama.

“Kapolri jauh lebih tahu FPI banget dari pada dia (Said Aqil, red.), jadi wajar aja kalau Agil Siroj suka berkomentar negatif seperti orang Amerika,” tegasnya.



Sumber : Panjimas.com

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.