الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita kesehatan fisik dan rohani, sehingga kita dapat menjalankan ibadah puasa tahun ini secara optimal.

Puasa sesungguhnya tidak sekedar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Namun, diatas semua itu puasa adalah upaya menahan anggota badan dari perbuatan dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah puasa hanya menahan makan dan minum tetapi sesungguhnya puasa juga menahan dari perbuatan sia-sia dan Ar Rafats" (HR.Ahmad)

Hadits ini mengisyaratkan agar kualitas puasa kita tidak hanya puasa lahir, yang banyak dilakukan oleh orang-orang awam dan jahil. Namun, kualitas puasa kita hendaknya seperti puasa orang-orang sholeh, yang kesempurnaanya bisa diwujudkan dengan enam perkara berikut ini.

Pertama, Menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT

اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ اِبْلِيْسَ لَعَنَهُ اللّهُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللّهِ آتَاهُ اللّهُ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ اِيْمَانًا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِى قَلْبِهِ .

"Pandangan itu adalah salah satu anak panah beracun diantara anak panah Iblis yang dilaknat Allah. Barang siapa yang meninggalkan pandangan tersebut karena takut kepada Allah, maka Allah SWT akan memberinya iman yang akan dia dapati kelezatannya dalam hatinya" (HR.Al Hakim)

Kedua, Menjaga lisan dari perkataan yang diharamkan

Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, perkataan keji, kasar, pertengkaran dan perdebadatan. Kemudian mengendalikannya dengan diam, menyibukannya dengan dzikrullah dan tilawah Al-Quran. Inilah yang disebut puasa lisan

Nabi SAW bersabda :

اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan tidak juga berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa ( HR.Bukhari&Muslim)

Sufyan Atsauri Berkata, “ Ghibah dapat merusak puasa”

Mujahid berkata, “Dua hal dapat merusak puasa : “ Ghibah dan Dusta”

Ketiga, Menahan pendengaran dari hal-hal yang diharamkan

Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal tercela. Setiap yang diharamkan untuk dikatakan, berarti diharamkan pula untuk didengarkan. Oleh sebab itu, Allah SWT menyamakan orang yang mendengarkan kebohongan dan orang yang memamakan barang yang haram. Seperti firman Allah SWT :

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. (Al Maidah : 42)

Di ayat lain Allah SWT berfirman

لَوْلاَ يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّوْنَ وَالاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الإِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَ

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? (Al Maidah : 63)

Jadi kita dilarang mendengarkan perkataan kotor, tercela, dan haram. Terutama pada saat kita menjalankan ibadah puasa. Karena semua ini dapat menggugurkan pahala puasa dan melipatgandakan dosa

Keempat, Menahan anggota badan dari berbagai dosa

Menahan anggota badan dari berbagai dosa, misalnya menahan tangan dan kaki dari hal-hal dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya kita berpuasa dengan menahan makanan yang halal, sementara kita berbuka puasa dengan makanan yang haram. Orang yang berpuasa seperti ini laksana orang yang membangun istana, tetapi ia menghancurkan seluruh negeri. Nabi bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus,” (HR. Ibnu Majah)

Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa dengan makanan yan haram. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang menahan diri dari makanan yang halal, tetapi berbuka dengan “memakan daging manusia” (yakni melakukan ghibah yang diharamkan). Ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menjaga anggota badanya dari berbagai dosa

Kelima, Tidak memperbanyak makanan pada saat berbuka

Tidak memperbanyak makanan pada saat berbuka hingga memenuhi perut, meskipun makanan itu halal. Bagaimana puasa kita bisa berfungsi untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat, jika kita pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk menganti makanan yang tidak boleh kita makan di siang hari?

Sebagaimana sama kita ketauhi, tujuan puasa ialah menundukkan hawa nafsu untuk memperkuat jiwa mencapai ketakwaan. Dengan berpuasa, diharapkan kita dapat mengendalikan dan mendayagunakan berbagai potensi yang ada pada diri kita untuk kebaikan. Namun jika kita berbuka puasa secara berlebih-lebihan, kita akan kesulitan untuk merealisasikan tujuan ini.

Esensi dan rahasia puasa ialah melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarana setan untuk kembali kepada keburukan. Namun hal itu tidak akan tercapai, kecuali dengan pengurangan makanan.

Keenam, Hendaknya setelah berbuka, hatinya berada diantara cemas dan harap

Setelah berbuka puasa, hendaknya kita berada dalam kondisi antara cemas dan harap. Sebab kita tidak tahu apakah puasa kita diterima, sehingga termasuk golongan orang yang didekatkan kepada Allah atau ditolak, sehingga termasuk orang-orang dimurkai? Hendaklah hati kita dalam keadaan demikian diakhir setiap ibadah

Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri bahwa ia melewati suatu kaum yang tengah tertawa terbahak-bahak, lalu ia berkata : " Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena perlombaan melakukan ketaatan bagi makhluk-Nya. Kemudian ada orang-orang yang berlomba hingga menang dan ada pula orang-orang yang tertinggal lalu kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa-tawa di saat orang-orang berpacu meraih kemenangan.”

Itulah enam perkara yang dapat merealisasikan kesempurnaan ibadah puasa kita. Di mana kita tidak boleh hanya berpuasa dengan anggota badan saja dengan menahan dari makan, minum, dan jimak, sedang anggota badan lainnya tidak ikut berpuasa, karena tetap melakukan dosa.

Oleh : KH.Syahid Joban
Bid.Dakwah DPP FPI

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.