بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد

Al hamdulillah berkat karunia dari Allah kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan, semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Amin Ya Robbal ‘Alamin

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyampaikan tema yang sangat penting, yaitu bagaimana menjaga keutuhan pahala ibadah puasa, sebab alangkah ruginya seseorang jika sudah mengerjakan amal ibadah namun tidak mendapatkan pahala.

Nabi Muhammad SAW Bersabda :

َ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ

"Hendaknya kamu berkomitmen terhadap puasa, karena sesungguhnya puasa merupakan ibadah yang tiada tandinganya" (HR.An-Nasai)

Dalam hadits ini, Rasulullah SAW berpesan agar kita bersunggung-sungguh dalam melaksanakan ibadah puasa dan menjaga keutuhan pahala setelah kita menunaikannya. Karena keunggulan puasa yang tidak tertandingi ibadah lainnya adalah aspek perolehan pahala. Rasulullah SAW bersabda,

مَا مِنْ حَسَنَةٍ عَمِلَهَا ابْنُ آدَمَ إِلَّا كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Tidak ada kebaikan yang dikerjakan anak Adam kecuali akan ditulis untuknya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Allah -SWT berfirman: 'Kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya ( HR.an-Nasai).

Berdasarkan hadits ini, sebagian besar ulama berpendapat bahwa pahala puasa itu lebih dari tujuh ratus kali lipat. Oleh karena itu, kita harus menjaga keutuhan pahala ibadah puasa kita dengan melakukan langkah-langkah berikut.

Pertama, Tidak menggugurkan pahala ibadah dengan kekufuran dan kesyirikan

Jangan sampai kita menggugurkan seluruh amal ibadah dan keislaman kita dengan melakukan dosa-dosa yang bisa menggugurkan syahadat kita, diantaranya adalah kesyirikan. Allah SWT Berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Barangkali ada yang berkata : “ sungguh tidak bisa dinalar, apabila ada seseorang yang telah melakukan amaliah ibadah di bulan ramadhan secara maksimal, tapi setelah ramadhan ia melakukan kesyirikan atau dosa-dosa lain yang menggugurkan keislaman.”

Namun kalau kita perhatikan, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Karena pada akhir-akhir ini, seringkali pemerintah daerah melakukan kegiatan kemusyrikan berkedok budaya. Seperti mengarak kereta kencana yang diberikan sesajen dan kepala kerbau kemudian diarak keliling kota untuk mengharap keberkahan nyi roro kidul. Dan banyak diantara kita mengikuti ritual mengikuti acara tersebut. Tentu saja hal ini dapat merusak dan menggugurkan keislaman kita karena masuk ke wilayah I’tiqodi dan keyakinan. Kalau kita mengikuti acara tersebut, berarti kita telah menyerupai mereka dalam masalah akidah. Rasulullah SAW bersabda.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Barangsiapa yang meniru satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, Tidak menggugurkan pahala ibadah kita dengan melakukan dosa-dosa.

Jangan sampai kita menggugurkan pahala amal ibadah dengan bersikap sombong dan riya’ setelah melakukannya. Para ulama salaf mengatakan, “seandainya kamu melakukan suatu dosa di malam hari, lalu kamu bersedih di pagi harinya, hal itu lebih baik daripada kamu melakukan suatu kebaikan di malam hari, lalu pagi harinya kam menyombongkan diri dengan kebaikan tersebut”.

Jangan sampai kita menggugurkan pahala sedekah dan infaq dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan orang yang kita beri sedekah. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Baqarah:264).

Ketiga, Tidak menyia-nyiakan pahala ibadah dengan perbuatan maksiat.

Dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, berarti kita telah mengumpulkan dosa meskipun sebelumnya kita telah berhasil mengumpulkan pahala di sisi Allah. Sangatlah berbahaya apabila dosa-dosa yang kita lakukan justru jauh lebih besar dan berat daripada pahala yang telah kita kumpulkan. Allah berfirman :

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُه فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ وَ اَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُه فَاُمُّه هَاوِيَةٌ

"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Haawiyah. (QS. Al-Qaari’ah : 6-9]

Justru yang dianjurkan adalah mengiringi perbuatan dosa dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya. Rasulullah SAW bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ, و أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

"Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan jelek itu" ( HR.Tirmidzi).

Keempat, Tidak memindahkan pahala ibada kepada orang lain dengan menyakitinya.

Jika kita menyakiti seseorang, maka pahala kebaikan kita justru akan berpindah kepadanya. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

'Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu? Para sahabat menjawab, 'Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.' Rasulullah SAW bersabda, 'Orang yang muflis (bankrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) melaksanakan shalat, menjalankan puasa dan menunaikan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa
) dengan mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta ini dan menumpahkan darah si ini serta memukul si ini. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka, lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim, Turmudzi & Ahmad).

Itulah pemaparan singkat mengenai kewajiban menjaga keutuhan pahala amal ibadah setelah kita berhasil melakukannya. Jangan sampai pahala yang sudah kita raih, hilang atau berpindah kepada orang lain karena dosa dan kesalahan kita.


Oleh: KH.Syahid Joban
Bid.Dakwah DPP FPI
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.