FPI Online, Jakarta - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab memanfaatkan momentum Simposium Nasional yang digelar di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, Rabu (1/6) untuk mengklarifikasi terkait keikutsertaan FPI dalam simposium tersebut.

"Ada yang mengatakan, kenapa FPI ikut simposium, FPI kan anti Pancasila, FPI kan radikal, FPI kan anarkis, dan seterusnya. Oleh karena itu momentum ini akan saya manfaatkan untuk menjawabnya," ujar Habib Rizieq dihadapan peserta simposium yang banyak dihadiri tokoh dan purnawirawan TNI.
Dalam kesempatan itu ia menjelaskan bagaimana pandangan FPI tentang Islam dan Pancasila.

Menurutnya, Islam adalah aqidah sedangkan Pancasila adalah ideologi. Aqidah datang dari sumber ilahi, tidak bisa ditawar dan sudah merupakan harga mati yang menjadi keyakinan, sedangkan ideologi adalah sumber insani datang dari ide-ide manusia.

"Islam sebagai aqidah menolak semua ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Lalu apakah Pancasila bertentangan dengan Islam?"

"Andaikata bertentangan, wajib bagi kami sebagai umat Islam untuk menolaknya. Tetapi jika tidak bertentangan, maka tidak ada alasan bagi kami sebagai warga negara untuk menolaknya," terangnya.

Ia menjelaskan, secara garis besar ideologi di dunia ini terbagi tiga kelompok, yang pertama ideologi yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan berkuasa mengatur urusan dunia dan akhirat.

Kedua, ideologi yang mengakui Tuhan itu ada tapi tidak mengakui kekuasaan Tuhan untuk mengatur kehidupan dunia, Tuhan hanya dianggap untuk urusan akhirat saja. Lalu yang ketiga, ideologi yang menolak keberadaan Tuhan apalagi kekuasaan Tuhan.

"Lalu Pancasila masuk kelompok mana? kalau ideologi yang ketiga itu sudah jelas yaitu atheisme, komunisme, lenimisme dan marxisme. Sedangkan ideologi kedua adalah sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan."

"Kalau kita memperhatikan UUD 45,  ditegaskan bahwa Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan pada pasal 29 ayat 2 ada jaminan dari negara bahwa tiap pemeluk agama bebas melaksanakan ajaran agamanya sesuai keyakinan masing-masing. Dengan demikian Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan harus diasuh oleh umat Islam," jelas Habib Rizieq.

"Maksudnya diasuh adalah umat Islam selaku mayoritas di negeri ini harus menjaga Pancasila jangan sampai ditafsirkan dengan berbagai macam cara untuk diselewengkan. Dengan itu, kita bisa melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa," tambahnya.

Jadi dasar negara Indonesia itu jelas berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga segala bentuk perbuatan dan semua jenis pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan, tidak boleh ada di seluruh wilayah NKRI.

"Juga yang namanya komunisme, atheisme, lenimisme, marksisme itu tidak boleh ada di NKRI. Termasuk sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) yang difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tidak boleh,"

"Kemudian bentuk-bentuk perbuatan seperti korupsi, riba, miras, judi, prostitusi, kriminal, bahkan terorisme itu juga bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan sehingga tidak boleh ada di NKRI," tandas Habib Rizieq.
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.