FPI Online, Purwakarta - Pimpinan Lembaga Dakwah Manhajus Sholihin KH. Muhammad Syahid Joban mengecam kebijakan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mempersilahkan warung makan buka selama 24 jam selama Ramadhan.
 
Dedi memberi kelonggaran kepada pemilik warung untuk buka nonstop itu dengan menamai “Ramadhan Toleran”, kebebasan untuk warung diberikan dengan alasan diperuntukkan bagi mereka yang mendapat rukhsoh (keringanan) dalam ibadah puasa. Keringan tersebut untuk non muslim, dalam keadaan sakit, dalam keadaan hamil, sedang menyusui, sedang datang bulan (menstruasi), anak (belum dewasa), dalam keadaan uzur (usia lanjut), dalam perjalanan jauh (musafir), dan sakit ingatan (gila).
 
Menurut Joban, Dedi berlindung dengan kata toleransi dengan maksud menihilkan aturan syariat Islam. "Jika ia mengkampanyekan toleransi, seharusnya mengeluarkan peraturan yang menghargai kaum mayoritas yang sedang menjalankan ibadah puasa," jelas Joban melalui pesannya yang diterima Suara Islam Online, Kamis (9/6/2016).
 
"Orang yang beriman walaupun ia mendapatkan rukhsoh untuk tidak berpuasa, ia tidak akan membeli makanan di jalanan apalagi makan ditempat umum karena akan malu sama Allah dan menghormati orang yang sedang berpuasa disekitarnya. Justru dengan membolehkan rumah makan buka 24 jam di bulan Ramadhan akan memberi peluang bagi orang yang lemah iman untuk membatalkan puasanya padahal mereka bukan orang-orang yang memiliki udzur syar’i," jelasnya.
 
Selain itu, lanjut Joban, peraturan Bupati tersebut memiliki kerancuan dan permasalahan. Pertama, pada umumnya orang tidak akan melihat isi banner yang bertuliskan 9 poin kriteria yang mendapat rukhsoh tersebut, tapi orang malah langsung memanfaatkan rumah makan yang buka di siang bolong untuk memenuhi hasrat perut lapar mereka.
 
Kedua, bagi pemilik rumah makan tidak mungkin bertanya kepada setiap pembeli apakah bapak sakit? apakah ibu haid? gila? atau bapak ibu ini masuk poin ke berapa ya? Lalu jika tidak masuk ke sembilan poin tersebut pemilik warung makan tidak akan melayani. "Itu sesuatu yang tidak mungkin ditanyakan oleh pemilik rumah makan," kata Joban.
 
Lalu yang ketiga, rumah makan buka 24 jam di bulan Ramadhan itu berarti tidak menghargai umat islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, sedang mereka menahan makan, minum dan syahwat. "Jadi dimana letak toleransinya?" tuturnya.
 
Dan permasalah keempat, Jika rumah makan buka 24 jam di bulan Ramadhan, akan menjadi alasan bagi pengusaha warung-warung makan untuk ikut buka juga dan akan semakin banyak orang yang lemah iman untuk tidak berpuasa. Ini mengantarkan kepada perbuatan dosa dan maksiat!
 
"Jadi sebetulnya, program Ramadhan Toleran ala Dedi ini adalah mendorong orang untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat," tandas Joban.
 
Suara-Islam.Online
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.