FPI Online, Jakarta - Di genggamlah tangan mungil si anak kecil bertubuh kurus itu dengan sangat kuat hingga si anak sadar bahwa ada suatu masalah yang sedang menghinggapi ibunya. dengan perlahan si anak berusaha menengadah, melihat wajah ibunya yang sedang menjerit sambil meneteskan air mata. si anak heran apa gerangan yang terjadi? kenapa air yang biasa keluar dari keran sekarang malah keluar dari mata ibunya yang agak sembab? kenapa teriakan sang ibu terdengar tak seperti biasanya ia diteriaki jika pulang main ketika maghrib hari?

Saat melihat wajah ibunya, seketika itu pula si anak yang baru belajar sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, di paksa memahami realitas keras yang terjadi depan matanya, bercak kotor yang bekasnya akan selalu bersemayam dalam sejarah hidupnya yang seberapa itu. Ya, si anak baru tahu kalau tembok bata tempat ia bersembunyi selama ini dari jahatnya hidup perkotaan, telah dirobohkan polisi. Si anak baru sadar kalau atap genteng tanah liat, tempat ia biasa berteduh dari siraman hujan dan sengatan terik matahari, telah ditumbangkan tentara. si anak baru engah kalau kamar tidur miliknya, tempat ibunya menceritakan kisah nabi yusuf sampai dagelan pemberantasan korupsi yang tidak kunjung habisnya, luluh lantah dijebol Satpol PP.

"Pak, tolong pak...anak saya bentar lagi mau ujian sekolah, mana bentar lagi mau puasa pula, tolong pak jangan digusur dulu pak..." pinta si Ibu sambil nangis meraung, menggenggam lengan pegawai kecamatan yang berdiri pas depan si ibu.
"Apaan nih...., nggak bisa bu....ini jelas-jelas ibu melanggar aturan, menduduki tanah negara!" teriak pegawai kecamatan sambil memaksa tangan si ibu lepas dari lengannya.
"Kalau digusur saya mau tinggal dimana pak...?, tolonglah pak..."
"Kan sudah dibagikan itu jatah rumah susun sewa..."
"Iya pak...tapi saya nggak kebagian..."

"Yaudah...mau gimana lagi udah nasib ibu tidak dapat jatah" jawab si pegawai kecamatan.
Kalimat tersebut enteng saja terucap dari mulut si pegawai kecamatan, tapi bagi si ibu mendengar keluarnya kalimat tersebut bak disambar petir ditengah hari bolong. si anak pun melihat lutut ibunya yang sedikit gemetar menandakan lemas ketakutan. Takut bukan kepada si pegawai kecamatan, tapi takut akan kenyataan yang akan dihadapi bila digusur maka hutang sembako dengan toko Aliong, tunggakan perabotan, cicilan motor, belum lagi harga sembako biasanya naik saat puasa dan nantinya harus belikan baju baru buat anaknya untuk menyambut lebaran serta pengeluaran lainnya, harus semuanya dipenuhi dengan kondisi menjadi gelandangan.

Dengan tidak menyerah sambil mengusap bekas tangisannya, si ibu berkata "saya rakyat biasa pak, orang miskin sewa saja sudah nggak mampu apalagi beli rumah...suami sudah meninggal, di kampung tidak ada saudara lagi, nggak tahu musti kemana lagi pak..."

"Itu urusan ibu, dari awal ibu sudah salah menempati tanah negara, melanggar perundang-undangan. Kalau tidak digusur, nanti negara tidak bisa melaksanakan pembangungan bu" kata si pegawai kecamatan kepada ibu sembari seolah-olah menunjukan dirinya birokrat intelek.

Si Ibu akhirnya makin pucat, diam seribu bahasa, tidak tahu harus membawa dalil-dalil mana lagi, hanya bisa memandangi wajah anaknya, sambil mengubur jutaan harapan si ibu kepada anaknya yang masih kecil itu, salah satunya agar bisa sekolah tinggi sampai universitas dan hidup leebih mapan dibanding ibunya. Si ibu pun menggenggam makin erat tangan anaknya supaya tidak lari kemana-mana apalagi diseruduk back hoe yang sedang menggilas rumahnya, yang hanya berukuran dua petak dan bertingkat itu.

Si anak pun baru mengerti konsep tambah dan kurang dalam berhitung, tapi dituntut memikirkan ekonomi pembangunan akibat curi-dengar apa yang tadi didiskusikan oleh ibunya dan pegawai kecamatan. tiba-tiba si anak teringat perkataan guru pendidikan kewarganegaraan sekolahnya yang bilang kepadanya bahwa di Indonesia ini bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tetapi setahu si anak dari cerita ibunya selama ini, buminya tempat ia tinggal harus menyewa, air bersih selama ini musti dibeli, dan kekayaan alam boleh jadi sudah menjadi hak prerogatif segelintir konglomerat untuk mengeksploitasi.Si anak berpikir kalau memang benar-benar kekayaan alam Indonesia ini digunakan untuk kemakmuran rakyat, tidak mungkin rumahnya digusur. Apakah rumahnya yang ukurannya tidak seberapa itu kalau tidak digusur maka pembangunan nasional langsung mandeg jalan ditempat, tidak bisa makmur? bukankah Indonesia sangat luas dari sabang sampai merauke? Apalagi dalam pembukaan UUD 45, yang biasa dibacakan pada upacara di sekolahnya si anak, dikatakan kalau negara bertujuan melindungi segenap tumpah darahnya, tapi sekarang bagaimana bisa melindungi segenap tumpah darahnya, melindungi dirinya saja dari panasnya terik matahari dan dinginnya guyuran hujan saja tidak dilakukan.

Memikirkan itu semua yang sebenarnya tidak pantas pada usianya, si anak mulai tak kuasa menahan tangis. Air mata mulai keluar dari dua buah bola mata mungil miliknya, mengalir ke pipinya. Si anak mulai menangis kencang, air mata pun jatuh ketanah seperti jatuhnya harapan dan cita-cita selama ini yang ingin jadi dokter.
"Bagaimana mau sekolah kedokteran yang mahal, rumah saja tidak punya." kurang lebih begitu pikir si anak kecil itu.

Melihat kejadian itu, langit pun mulai ikut meneteskan air matanya, mengguyur si anak beserta ibunya dan puing-puing sisa gusuran yang dengan sigap dipunguti oleh juragan puing. Si Ibu mulai mengangkat anak kecil itu, digendongnya dia untuk ikut ibu pergi dari lokasi penggusuran takut basah kuyup karena hujan. Pergilah si Ibu membawa anaknya dari akuarium menyusuri bekas puing rumahnya dan tetangga, meninggalkan segala memori, harapan dan cita-cita, mencari perlindungan entah kemana.

Jakarta, 27 Mei 2016
Oleh : Habib Ali Alatas Ketua Front Mahasiswa Islam
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.