FPI Online, Bogor - Sepulang dari perjalanan Isra Mi'raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, ada peristiwa menarik yang bisa diambil pelajaran dalam rangka mempertahankan keimanan.
 
Peristiwa tersebut adalah ketika Abu Jahal melakukan provokasi agar masyarakat tidak mempercayai perjalanan Isra Mi'raj oleh Nabi. Salah satu sahabat yang diprovokasi oleh Abu Jahal adalah Abu Bakar as Shiddiq.
 
Kepada Abu Bakar, Abu Jahal mengatakan bahwa mustahil Muhammad melakukan perjalanan yang jauh dalam waktu singkat. Nabi dianggap pendusta oleh Abu Jahal, dan Abu Bakar diminta untuk tidak mempercayai peristiwa Isra Mi'raj tersebut.
 
Akan tetapi, Abu Bakar menjawab dengan lantang, andaikata nabiku Muhammad bercerita yang lebih dahsyat dari Isra Mi'raj pasti aku akan percaya dan membenarkannya. "Subhanallah, itulah kenapa beliau dijuluki as Shiddiq karena membenarkan Nabi," jelas Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab saat berceramah di lapangan Padjajaran Kota Bogor, Sabtu malam (7/5) lalu.
 
Berdasarkan cerita tersebut, ada pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik yaitu ketegaran prinsip keimanan yang ditunjukkan oleh Abu Bakar as Shiddiq. "Beliau tidak peduli, kalau kata orang betawi, masa bodoh, mau diprovokasi bagaimanapun juga ia tetap dalam keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya," katanya.
 
Dalam kondisi saat ini, di zaman penuh fitnah, ketegaran prinsip sangat diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dan godaan.
 
Ia mencontohkan, ketika setan menggoda manusia untuk meminum minuman keras (miras). Setan menggoda kalau miras itu enak, gaya hidup modern, legal, resmi, diizinkan pemerintah, dan seterusnya. "Tetapi kalau pemuda yang tegar dia pakai ilmu masa bodoh. Mau enak, mau legal mau apa saja, masa bodoh, haram tetap haram," tegasnya.
  
Contoh lainnya terkait kepemimpinan yang saat ini sedang marak dibicarakan. Kenapa tidak boleh memilih pemimpin non muslim, jawabnya karena kafir dan dilarang Allah. "Walaupun dia itu cerdas, rajin, pintar, santun, bertanggung jawab, dan sebagainya. Masa bodoh, kalau haram ya haram, titik," tegas Habib.
 
"Kenapa saya kasih contoh seperti itu, karena sampai sekarang masih ada seorang tokoh yang membolehkan pemimpin non muslim dengan alasan baik dan jujur," tambahnya.
 
Menurutnya, kita tidak usah pedulikan hal semacam itu. "Mau kyai, habib, ustaz, profesor atau siapapun yang mengajak memilih pemimpin non muslim, jawab saja kami tidak akan pilih karena mereka kafir, itu dilarang Allah dan RasulNya, titik!" pungkas Habib Rizieq.

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.