Oleh: Alfian Tanjung

FPI Online, Jakarta - Adalah simposium dengan baju menguak peristiwa 1965, yang sejatinya adalah konsolidasi kalangan PKI untuk kembali membangun kekuatan untuk kudeta yang III, Gerakan mereka akan berujung dengan Kudeta yang lebih ganas dari tahun 1965. Infiltrasi, Agitasi Propaganda, Memencilkan Musuh, Aksi sepihak dan kerja dikalangan Musuh sudah dilakukan secara efektif.

Selama 2015 kita mencatat beberapa upaya kalangan PKI ini,
Pertama, Pertemuan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 yang dipimpun oleh Bejo Untung (titisan PKI), mencoba melakukan pertemuan nasional kader PKI di Surakarta pada tanggal 24 Februari 2015, berhasilkan digagalkan oleh Patriot Anti PKI Solo, gerombolan PKI ini mencoba mengulangnya tanggal 14-16 pril 2016, berjalan tidak sesuai rencana mereka, akhirnya mereka melaksanakan di Markas PKI di Jakarta yakni dikantor LBH Jakarta.

Kedua, Kongres PRD yang ke VIII di Hotel Acacia Kramat Raya Jakarta Pusat pada tanggal 24-26 Maret 2015, PRD adalah generasi kader PKI yang lahir bersamaan dengan era reformasi, AD/ART PRD merupakan pengejewantahan dari AD/ART PKI hasil kongres 1954

Ketiga, rangkaian acara kaum PKI dalam memperingati HUT Kemerekaan RI ke 70, berkirbarya bendera dan umbul-umbul dengan gambar Palu arit di Pamekasan Madura Jawa Timur, Jember Jawa Timur, Payakumbuh Sumatera Barat dan TMII Jakarta Timur.

Memasuki tahun 2016 kita bia membaca dengan jelas bagaimana mereka terus bergerak bagaikan Kanker Ganas:
Pertama, Belok Kiri Festival, mulanya mereka melakukan di TIM Jakarta Pusat pada tanggal 28 Februari- 5 Maret 2016, setelah digagalkan oleh Barsian Anti PKI, mereka pindah ke Markas PKI di Jakarta yakni Kantor LBH Jakarta.

Kedua Simposium PKI, itulah acara yang sesungguhnya mereka merancang empat hari, yakni 18-19 April 2016 acara untuk umum, tanggal 20-21 mereka membahas secara tertutup langkah-langkah untuk menggolkan rencana mereka dengan berbagai argumentasi yang ujungnya adalah agar pemerintah meminta maaf pada PKI.

dimana posisi pemerintah ?
Pemerintah pada rezim ini sudah masuk pada frame negara Demokrasi Komunis, kolaborasi antara PKI dengan beberapa pihak di pemerintahan semakin kentara (yang masih anti PKI, diantaranya Menhan, Menag dan beberapa orang menteri yang memilih pasif), sementara pihak Kepolisian secara kelembagaan belum pernah menegaskan bahwa PKI masih dilarang, sajak awal reformasi sampai detik ini. secara umum aparatur pemerintah belum bahkan tidak menganggap gerakan PKI itu membahayakan negara, hal ini persis dengan keadaan tahun 1963-1964. Yang masih jelas melawan PKI adalah TNI/ABRI, Umat Islam dan Angkatan 66, yang lainnya ada sebagai sikap pribadi dan tidak mewakili kelembagaan.

Apa sikap sikap Kita ?
Gerakan PKI semakin mewujud, sikap yang harus dilakukan baik secara bertahap atau bersamaan adalah sebagai berikut:
Pertama, Penyadaran bahwa PKI atau pengasong idiologi Komunis dalam catatan dan fakta sejarah merupakan gerakan yang membahayakan hajat hidup orang banyak, yakni orang yang tidak sepaham dengan mereka, sejak revolusi Bolsevyk 1917 sampai 1976 kaum Komunis telah membantai 120.000.000 nyawa manusia, dan hal itu pasti dilakukannya manakala mereka berkuasa.

Kedua, Gerakan Perlawanan, untuk kasus Indonesia, diputar kembali film G30S/PKI disemua stasiun Televisi, hal ini harus disampaikan pada seluruh Fraksi yang berada di DPR dan menjadi ketentuan nasional sehingga film ini diputar diseluruh sekolah,pesantren, seminar, sekolah Budha, kampus, instansi pemerintah, perusahaan nasional. Perusahaan swasta sampai perusahaan multinasional. Bahaya Komunisme dangan baju PKI sedanga dalam gerak cepat dan percepatan, Gerakan Perlawanan menjadi suatu keharusan dengan digemblengnya kader-kader militan dengan Multimedia, Multi metoda dan Multi strategi.

Ketiga Gerakan Pembasmian, yang tahun 1960-an dikenal dengan pengganyangan. Komando pembasmian PKI harus kembali berfungsi, dengan landasan Konstitusi yang kuat, maka KOKAM, Komando Kesiapsiagaan Angakatan Muda Muhammadiyah, Banser, Pasukan Pemuda NU, Brigade PII, Pelajar Islam Indonesia, Pemuda Persis, Pemuda PUI, Pemuda Al washliyah, Pemuda Wahdah berkolaborasi dengan FPI, Taruna Muslim juga dengan satuan gerakan lokal seperti BARAK Banten, Kobar, PERMAK, Bandung dan organiasi yang beskala nasional khusus melawan PKI yakni GNPI dan Gerakan Bela Negara (GBN).

KALAU TAHUN 1957 TEPATNYA TANGGAL 8-11 SEPTEMBER DI PALEMBANG PARA ULAMA KITA TELAH BERSIKAP TENTANG PKI, MAKA SUDAH SAATNYA ULAMA SECARA NASIONAL UNTUK BERKUMPUL MENSIKAPI GERAKAN PKI YANG SUDAH SANGAT MENGANCAM KEBERLANGSUNGAN DAKWAH ISLAM DAN KEUTUHAN NKRI, AYO PARA ULAMA BIMBINGLAH UMAT DAN BANGSA INI.

* Pimpinan Taruna Muslim
Wakil Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Pusat dan
Ketua Departemen Kajian Strategis DPP GBN
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.