Oleh: Dr. Adian Husaini

TAMPAKNYA, pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2017 kini menjadi salah satu ajang pertarungan pemikiran yang sangat menarik dan dinamis.  Beberapa hari belakangan ini, muncul berbagai tulisan yang membuat penafsiran baru tentang kepemimpinan non-muslim.  Dengan berbagai alasan sejumlah pihak kemudian memaksakan tafsir baru, bahwa memilih pemimpin non-muslim untuk memimpin masyarakat muslim, tidaklah terlarang dalam al-Quran.

Selain mengutip ayat-ayat al-Quran, mereka juga mengutip kata-kata Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, yang biasanya dianggap sebagai sosok ulama radikal. Tetapi, entah kenapa, untuk menyokong kepemimpinan non-muslim, kata-kata Ibnu Taimiyah justru rajin dikutip.  Syukurlah, Jurnal Islamia-Republika (Kamis, 17/3/2016) menampilkan tulisan Dr. Syamsuddin Arif dan Dr. Tiar Anwar Bahtiar yang meluruskan berbagai usaha penyesatan opini seputar kepemimpinan non-muslim ini. (http://www.republika.co.id/berita/koran/islamia/16/03/17/o46jwb-ibnu-taimiyyah-tentang-pemimpin-nonmuslim, http://www.republika.co.id/berita/koran/islamia/16/03/17/o46jwb1-nonmuslim-di-pentas-politik).

Dalam Muktamar NU ke-30 di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, sudah pernah dibahas permasalahan:  “Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam?”  Jawabnya: “Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam, kecuali dalam keadaan dharurat. (Lebih jauh, lihat buku “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), terbitan LTN-NU Jawa Timur, cetakan ketiga, 2007, hlm. 551-552).

Jadi, sebenarnya, urusan kepemimpinan non-muslim itu sudah begitu jelas.  Yang patut disimak, selama ini kalangan sekuler-liberal membawa jargon: “Jangan membawa-bawa agama dalam urusan politik!”  Ternyata, jargon kaum sekuler-liberal itu tidak ditaati sendiri. Dalam mengemukakan pendapat, mereka pun tak segan-segan memanipulasi dan menyelewengkan makna ayat-ayat al-Quran, untuk mencapai tujuan politik.  Mereka termakan opini bahwa pemimpin non-muslim itu lebih sukses dan lebih hebat dari seluruh pemimpin muslim yang ada.

Sampai-sampai dibuat mitos: pemimpin kafir yang tidak korupsi lebih baik daripada pemimpin muslim yang korupsi. Tentu saja, itu sebuah propaganda politik. Itu mudah dibaca oleh orang-orang yang memahami dunia politik dan jurnalistik. Itulah dunia  politik dalam sistem demokrasi. Pencitraan sangat dipentingkan, karena dapat membangun persepsi publik, meskipun seringkali melebihi realitas sebenarnya. Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro, misalnya, menilai kinerja Gubernur DKI Jakarta saat ini termasuk buruk. Banyaknya konflik dengan DPRD, penyerapan anggaran yang sangat rendah, dan juga kata-kata kasar yang sering diucapkan, menunjukkan buruknya kualitas kepemimpinan. (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/03/18/07515171/Antara.Kritik.dan.Apresiasi.Kinerja.Ahok.Pimpin.Jakarta).

Padahal, faktanya, di Indonesia, saat ini dikenal sejumlah kepala daerah dengan tingkat kesuksesan yang diakui nasional maupun internasional, seperti Kota Surabaya, Propinsi Jawa Barat, Kabupaten Banyuwangi, dan sebagainya.  Para kepala daerahnya juga tidak banyak menabur kontroversi dan kebencian di tengah masyarakat.

Al-Quran sebagai Solusi

Di tengah hiruk-pukuk pencalonan bakal gubernur DKI Jakarta, muncul irama sejuk yang disuarakan oleh komunitas “Muslim cinta Jakarta” (McJak), yang mengusung jargon: “SAATNYA JAKARTA DIPIMPIN AL-QURAN”.  Dalam wawancara yang dimuat  oleh laman www.sharia.co.id,  Presiden McJak Adnin Armas MA, menjelaskan bahwa ia sangat serius dengan semboyan “Saatnya Jakarta dipimpin al-Quran”.

Menurut Adnin Armas,  dalam memahami masalah Jakarta dan solusinya, diperlukan pemikiran yang filosofis, yang mendasar dan komprehensif.  “Jangan terjebak pada hingar-bingar opini yang menggiring masyarakat pada pemikiran-pemikiran superfisial.  Anda ingat ciri utama manusia Indonesia yang disebutkan oleh budayawan Mochtar Lubis tahun 1970-an, yaitu MUNAFIK. Apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dikerjakan.  Maka, kalau ingin membangun Indonesia, ya bangun manusianya dulu. Intisari manusia itu ya jiwanya. Kalau jiwanya munafik, bagaimana manusia bisa sehat? Kalau manusianya sakit, maka bagaimana bangsa ini bisa maju?,” kata Adnin Armas, yang juga pemimpin redaksi Majalah Gontor.

Seperti diketahui, budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis, dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977, menyebutkan sejumlah ciri-ciri umum manusia Indonesia adalah:  munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya.

Kata Mochtar Lubis, ”Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS alias MUNAFIK. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya atau pun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.”  (Lebih jauh lihat, Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Gagasan komunitas McJak ini perlu direnungkan dengan serius oleh umat Islam, dan khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim.  Sebab, selama ini, jika disebut kata “Pembangunan” , maka yang tergambar kemudian adalah hal-hal seputar  jalan tol, jembatan layang, bendungan, gorong-gorong, fly over, gedung sekolah, dan sebagainya.  Konsep pembangunan yang sangat materialistik inilah yang telah menyeret Jakarta menjadi kota seperti tanpa jiwa.  Karena itu, Adnin Armas mengajak untuk merenungkan ulang makna pembangunan di Jakarta.

“Padahal, kita sering menyanyikan lagu Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya! Nah, jiwa yang sehat itu yang harus kita pahami dan harus kita bangun,” kata Adnin, yang selama ini banyak menulis dan memberikan kuliah tentang konsep jiwa menurut Fakhruddin al-Razi.

Menurut Adnin Armas,  Al-Quran itu adalah obat.   Al-Quran menyebutkan, bahwa “Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya!”   (QS 91: 9-10).

“ Nah, kita orang Islam, jangan menjadi munafik. Mengaku-aku muslim, baca syahadat, tetapi tidak mau menjadikan al-Quran sebagai Imam, sebagai pemimpin.  Jadi, tema yang kami usung “Saatnya Jakarta Dipimpin al-Quran” adalah solusi yang paling mendasar bagi problem kemunafikan.  Kalau orang Islam yang mayoritas di Jakarta, khususnya para elite-nya,  sudah mengikis sifat munafik ini, maka mereka akan sehat jiwanya. Dan itu modal utama membangun Jakarta,” tambahnya.

Adnin Armas sangat menekankan pentingnya pembangunan “manusia seutuhnya” di wilayah Jakarta.  Kondisi Jakarta yang saat ini telah menjadi belantara beton,  langganan banjir,  dan aneka kejahatan sosial, adalah buah dari konsep pembangunan yang  salah.  Dalam kebijakan yang kapitalis, materialis dan sekuleris, maka yang lemah secara ekonomi akan semakin tergusur dan harus hengkang dari Jakarta.  Dan itu sudah terjadi sekian lama dan terus dibiarkan. (BERSAMBUNG)

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Sumber : Hidayatullah.com /Admin Hidcom
Red : FPI Online/ Abdullah


Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.