Oleh : Muhamnad Hanif Alatas*

 Apa dan Bagaimana "Kasrusseif" ?

Al-Ustadz al-A'dzhom Sayyiduna al-Faqih al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba'Alawi ra (Wafat 653 H) seorang ulama agung yang merupakan datuk dari mayoritas Dzurriyyah Nabi saw dari Bani Alawi, membuat perubahan besar pada masa hidup beliau. Hadhromaut yang pada saat itu sarat dengan pertumpahan darah antar suku dll, membuat beliau mengambil sikap penting yang merubah haluan sejarah. Demi meredam peperangan yang berkesinambungan dan demi tersebarnya iman, ilmu dan ikhlaq, beliau "mematahkan pedang" sebagai simbol perdamaian ditengah-tengah umat Islam, dan hal ini menjadi pedoman hidup yang dipegang teguh oleh Bani Alawi sepeninggalan beliau, dari masa ke masa hingga detik ini dan dikenal dengan konsep "Kasrusseeif".

Namun apa yang dimaksud dengan konsep "Kasrusseif"  tersebut ? Pedang mana yang harus dipatahkan ? Menjawab pertanyaan ini, Guru Mulia Prof. al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun ( Hafidzhohullah wa nafa'ana bih) Rektor Universitas al-Ahgaff, Hadromaut, Yaman, menegaskan; bahwa pedang yang dipatahkan oleh Sayyidunal Faqih al-Muqoddam adalah pedang yang dihunuskan kepada sesama Umat Islam. karena Umat islam adalah saudara, Harom mereka saling menumpahkan darah meski hanya setetes. Dalam konteks Ini, Rosulullah Saw bersabda :

إذا التقى المسلمان بسيفيهما، فالقاتل والمقتول في النار. فقيل: يا رسول الله هذا القاتل، فما بال المقتول؟! قال: إنه كان حريصاً على قتل صاحبه. رواه البخاري ومسلم.


"Jika dua orang muslim berduel dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh bertempat di Neraka. Kemudian, Nabi saw ditanya : wahai Rosulullah saw, ini jelas bagi yang membunuh, lalu bagaimana dengan yang terbunuh (bagaimana mungkin juga masuk ke Neraka? ) ? Rasul saw menjawab : Karena sesungguhnya ia berambisi untuk membunuh saudaranya".


Pembenturan Antara Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan "Kasrusseif".

Ironis, sebagian kalangan kurang cermat dalam memahami  konsep "Kasrusseif". Konsekwensinya, mereka justru membentur-benturkan antara upaya Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang digalakkan oleh FPI dsb, dengan konsep " Kasrusseif". Ketegasan yang dilakukan dalam berAmar Ma'ruf Nahi Munkar / Hisbah ( tentunya dengan prosedur dan mekanisme yang sesuai dengan apa yang digariskan oleh ulama Ahlusunnah wal Jamaah dalam literatur mereka) dianggap kontradiktif serta bertolak belakang terhadap konsep "Kasrusseif" yang digariskan oleh Sayyiduna al-Faqih al-Muqoddam.

Menyikapi hal ini, Guru Mulia Prof. Al-Habib Abdullah Baharun dalam diskusi ilmiah yang digelar pada Jum'at 4 Maret 2016 di Markaz Syariah Mega Mendung, Bogor, menegaskan; bahwa Para Salaf Soleh, Khusunya dari kalangan Alawiyyin, TIDAK PERNAH meninggalkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar sekalipun. Meraka selalu berada pada garda terdepan dalam melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Hisbah).

Al-Guthb al-Imam Ahmad bin Umar bin Smith ra ( 1258 H), saat mempertegas esensi dari konsep "Kasrusseif" beliau mengatakan :


الفقيه ما كسر السيف و إنما كسر الحيف


"Sesunguhnya al-Faqih al-Muqoddam ra tidak mematahkan pedang, namun yang beliau patahkan adalah KEDZHOLIMAN"

Atas dasar ini, Guru Mulia, al-Habib Abdullah Baharun menyatakan dengan tegas, bahwa siapapun yang bergerak melawan kedzholiman dan menumpas kebathilan, pada hakikatnya telah berjalan mengikuti jejak Sayyidunal Faqih al-Muqoddam. Begitu pula, setiap Mu'min yang  menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, sungguh telah berjalan di Jalur Sayyidunal Faqih al-Muqoddam. Dan setiap muslim yang menyebarkan agama Allah, menegakkan syiar-syiar Allah dan mengajak kepada Allah sesungguhnya telah menempuh Jalan Sayyidunal Faqih al-Muqoddam. Rodhiallah ta'ala 'Anhum Ajma'in.


Salaf Alawiyyin dan Hisbah.

Lembaran sejarah Salaf Soleh, jika kita telaah dengan baik, sungguh banyak memuat potret Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Hisbah) sebagai kewajiban Agama. Salah satunya, al-Imam al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Al-Athos  ra yang dimakamkan di kota Pekalongan. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat gigih, tidak mengenal kompromi dalam mengatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, termasuk memberantas kemunkaran dengan tangan beliau sendiri. Padahal, situasi saat itu sangat berbahaya, bangsa hidup dibawah jajahan Kolonial Belanda,  namun sulitnya kondisi tidak membuat beliau gentar dalam menjalankan kewajiban Hisbah. begitu juga, al-Imam Hasan bin Sholeh al-Bahr, al-Habib Muhsin bin Alwi as-Seggaf, al-Imam Thohir bin Husein bin Thohir dan Saudara beliau al-Imam Abdullah bin Husein bin Thohir, serta  al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, dll, mereka semua dikenal sangat tegas dalam menjalankan Hisbah yang merupakan  Fardhu Kifayah atas Ummat Nabi Besar Muhammad saw.

Lebih dari itu, salah satu referensi paling utama dalam menjelaskan   keutamaan, prosedur, mekanisme serta etika Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah karya Monumental al-Imam al-Ghozali; Ihya Ulumuddin. Dalam juz 2 (Rub'ul Mu'amalaat) dari kitab yang memiliki kedudukan sangat tinggi dihati salafuna solihin ini,  secara detail dan gamblang al-Imam al-Ghozali  berbicara tentang al-Hisbah ( Amar Ma'ruf Nahi Munkar ) dan semua sisi yang berkaitan dengannya. Bahkan tepat rasanya, jika kita katakan bahwa tidak ada satupun Ulama yang membahas amar makruf nahi munkar sedetail pemaparan Imam al-Ghozali dalam bab ini.  Tidak hanya al-Imam al-Ghozali, Guthbul Irsyad al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Kitabnya an-Nashoih ad-Diniyyah, serta al-Imam Abdullah bin Husein bin Thohir dalam Majmu' Rosailnya berbicara secara lugas dan tegas tentang Amar Makruf Nahi Munkar.

Ini semua menjadi bukti nyata, bahwa  antara Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Salafuna as-Sholihun tidak pernah bisa dipisahkan. Dan kitapun  dapat menarik kesimpulan bahwa pembenturan antara konsep "kasrusseif" dan  Amar Ma'ruf Nahi Munkar merupakan  sebuah kekeliruan yang sudah sepatutnya diluruskan.


Umat Islam, Rapatkan Barisan !

Guru Mulia, Prof. Al-Habib Abdullah Baharun mengingatkan kepada Muslimin, bahwa pola perjuangan umat tidak mungkin hanya satu warna, pasti ada macam-macam warna. mereka yang berjuang melalui jalur Amar Makruf Nahi Munkar, minimal telah menunaikan sebuah Fardhu Kifayah. Bukan berarti kita harus ada pada barisan mereka, namun paling tidak, doa kita semua menyertai mereka. Setiap muslim yang berjalan diatas kebaikan, harus kita dukung bersama-sama.

 Oleh karena itu, meski berbeda pola juang, mari bersama-sama kita rapatkan barisan, saling bahu-membahu demi Kejayaan Islam dan Muslimin.


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum al-Ahgaff University dan Waketum DPP FMI.


Red : Abdullah ( FPI Online)

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.