Oleh: Abdul Aziz Jazuli al-Jawi Lc*


Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia, bapak Proklamator Bangsa berkata "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya"(Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961). Di dalam sejarah perjuangan bangsa, disanalah kita juga mencari hikmah. Hikmah yg merupakan pelajaran kemanusiaan, yang dapat menentukan nasib kita di masa mendatang.

Pro-kontra tentang kepemimpinan sudah menjadi buah bibir publik. Acapkali disangkut-pautkan dengan kesukuan, keagamaan, ras, etnis dan bangsa. Kita tidak boleh buta dengan sejarah; karena bagaimanapun sejarah itu, tetap sejarah, mau tidak mau pasti akan berulang. Tentunya kita harus pintar dan cerdas dalam mengaplikasikan nilai-nilai positif dari sejarah tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia di masa silam didatangi oleh berbagai ras dan etnis: Cina, Arab, India, Pakistan dan sebagainya. Tapi dalam masa penjajahan apakah kesemuanya juga ikut berjuang dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi ??. itu yang patut diteliti, untuk kemudian dipetik buah pelajaran bagi kita semua.


Cina dan Sejarah Indonesia.

Salah satu artikel terkait Tionghoa, serta perannya terhadap penjajahan kolonial Belanda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Penulis yang bernama Bilik Sukma mengungkapkan: "Sikap mayoritas etnis Tionghoa adalah mengharapakan perlindungan Republik Tiongkok, yang selepas Perang Dunia II ikut menjadi salah satu anggota “The Big Five”, lima Negara pemenang perang. Dengan demikian, mayoritas etnis Tionghoa akhirnya memilih sikap netral dalam konflik Indonesia Belanda" [sumber: http://m.kompasiana.com/biliksukma/sumbangsih-tionghoa-dalam-revolusi-kemerdekaan-indonesia_550005e7a333112c7050fa0a]

Walaupun masih ada beberapa simpatisan untuk melawan penjajahanan Belanda dari Indonesia, seperti yang diungkap di dalam beberapa artikel [seperti:
http://peradaband.blogspot.in/2012/08/peran-bangsa-cina-dalam-kemerdekaan.html. ]
Tapi kalangan mayoritaslah yang menjadi barometer penentu. Mungkin mereka belum merasa menjadi "bagian bangsa Indonesia". Sebagaimana barometer umat Islam adalah mayoritas mereka, bukan minoritasnya. Karena ada beberapa umat Islam yang perlakuannya tidak terpuji, maka vonis tidak layak diucapkan kepada umat Islam secara keseluruhan.  

Sejarah mencatat bahwa pribumi tidak hanya ditindas oleh pemerintah Belanda, tapi ada bawahan mereka, ada tuan-tuan tanah. Dan tuan-tuan tanah itulah yang secara langsung menjebak, menjerat, dan kemudian berujung pada kedzaliman yang  luar biasa. Jika ada perlawanan dari pribumi, maka sang "big bos" akan segera menanganinya dengan tindakan tegas. Dari sanalah ada yang terjerumus ke dalam penjara, kerja paksa,  ataupun lainnya. Walaupun terkadang, ada penyebab lain yang mengantarkan seseorang kepada kerja paksa atau penjara.

Sejarah pernah mencatat kejadian memilukan yang sangat disayangkan dan patut direnungi. Mari kembali pada tahun 50 an, ada seorang cina yang bernama Po An Tui dan laskarnya, yang membantai, membunuh dan membakar para perjuang kemerdekaan, sebagaimana kesaksian Madomiharna (Organisasi Persatuan Rakyat Desa) di dalam pidatonya di hadapan Sidang Pleno Konstituate tahun 1959. Laskar Po An Tui sendiri merupakan satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal dengan Belanda di Indonesia. Dan tugas dia adalah memata-matai dan meneror para pejuang pribumi, bahkan dia lebih kejam dari pada tentara belanda. Penghianat pribumi memang berwarna-warni, sehingga tak dianggap aneh lagi dengan gaya mereka yang seperti ini.

Tapi, tak semuanya etnis tiong hoa seperti yang saya lukiskan; karena pembahasan diatas mengarah  pada mayoritas. Di antara mereka ada yang muslim, serta berbaur dengan masyarakat Indonesia, membantu pribumi sebagaimana membantu saudara sendiri, menyatu dengan kehidupan pribumi. Sehingga, yang demikian itu tidak masuk dalam kategori mayoritas yang telah kami paparkan.


Arab dan Sejarah Indonesia.

Adapun etnis Arab, mereka berbeda dengan etnis sebelumnya. Dengan rasa simpatik luar biasa terhadap rakyat Indonesia dan bangsa Indonesia, bahkan –lebih dari itu-   mereka menganggap dirinya sebagai penduduk "asli Indonesia ". Sehingga, mereka dengan suka rela memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Kolonial Belanda serta bergerak memajukkan pendidikan bangsa.

Banyak hal yang mereka tempuh dalam perjuangan, dari ekonomi, politik, pendidikan dan sosial. Salah satu bukti konkret adalah dengan mendirikan beberapa organisasi seperti: Jam'iyyat Khoir (yang merupakan pendidikan Formal pertama yang berdiri di Indonesia), Serikat Islam, Sarekat Dagang Islam, ataupun Al-Irsyad. Tentunya organisasi-organisasi tersebut tak hanya beranggotakan etnis Arab saja. Tapi dengan beraliansi dengan pribumi untuk bersama-sama membangun bangsa dari segi pendidikan, perekonomian dan bidang lainnya. Serikat Dagang Islam misalnya, tujuan berdirinya organisasi ini untuk melawan monopoli perdagangan Cina dan mamajukan pendidikan agama Islam. [Lihat : http://peradaband.blogspot.in/2012/08/peran-bangsa-cina-dalam-kemerdekaan.html]

Dari situlah nampak betapa merekatnya hubungan mereka dengan Indonesia dan bangsa Indonesia. Tidak untuk mengumpulkan kekayaan ataupun kepentingan pribadi, tapi dalam rangka mengajak bangsa Indonesia untuk menerima ajaran Islam (berdakwah) dan mengembangkan aspek-aspek kehidupan.

 Sebagai bukti untuk hal itu, ada beberapa prinsip yang menjadi dasar organisasi PAI (Persatuan Arab Indonesia) yaitu:
"Persatoean Arab Indonesia (1) menjadikan Islam sebagai dasar organisasi ini: (2) Menetapkan dan mengakui bahwa tanah air orang Arab peranakan adalah Indonesia; (3) Hadramaut diakui sebagai tanah air nenek moyang; (4) Bahasa Arab harus digunakan sebagai bahasa Islam sehingga bahasa ini harus diperhatikan seperti bahasa Indonesia …". Ditambah dengan berapa banyaknya pahlawan dari kalangan etnis Arab yang gugur di medan perang melawan Belanda. Dan mungkin belum dicatat oleh buku-buku sejarah. 

Pahit dan Manis Sejarah Bangsa.

Bukan maksud artikel ini untuk mengadu domba antar etnis, menebar permusuhan dan menanamkan rasa dendam. Tapi, itulah sejarah, manis pahitnya haruslah diterima dengan lapang dada. Untuk diambil pelajaran bagaimana kita menghadapi masa mendatang. Memilah-milah mana yang benar, mana yang salah. Mana yang hanya mengambil keuntungan pribadi dan mana yang membangun bangsa dan Negara. Mana yang penjajah dan mana menyejahterakan. Mana yang harus diambil dan mana yang harus dibuang. Kita sebagai umat Islam harus bangga dengan ke-Islam-an yang mengakar dan mendarah-daging di dalam diri kita. Jangan sampai mau diinjak-injak dan direndahkan oleh orang lain; karena agama adalah hal yang terdepan dibanding dengan lainnya.

Mungkin obyek dan tujuan tulisan ini dengan mudah dapat diterka kemana arahannya. Dengan ini, saya mengajak saudara-saudara saya agar sadar serta intropeksi diri supaya tidak salah melangkah, Karena konsekuensinya berat dan akibatnya fatal. serta bersama- sama kita harus ingat dengan perkataan presiden Soekarno "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya".


*Penulis adalah Penasihat Divisi Kajian Literatur Islam FMI Jatim & Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas al-Ahgaff

Red : FPI Online / Abdullah

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.