FPI Onine, Purwakarta - Tabligh Akbar yang digelar Majelis Dakwah Manhajus Sholihin pada 25 Maret 2016 secara khusus mengundang penceramah KH Fachrurozi Qurthubi yang merupakan Keturunan asli dari Prabu Siliwangi ke-21 sekaligus Ketua DPD FPI Provinsi Banten.

Kali ini untuk kedua kalinya Kyai Fachru datang ke Purwakarta, beliau menceritakan pengalaman datang ke Purwakarta ketika pertama kalinya, waktu itu beliau hendak menghadiri Tabligh Akbar Habib Rizieq di Purwakarta dan sempat dikejar-kejar oleh preman-preman yang tidak menghendaki digelarnya tabligh akbar tersebut.

Kyai Fachru mengkritisi dan meluruskan pemahaman Dedi Mulyadi tentang sejarah Baduy dan Sunda Wiwitan. Menurutnya dalam ajaran Sunda Wiwitan tidak mengenal pembuatan patung, begitupun dengan adat baduy juga tidak pernah sekalipun mengenal budaya patung. Hal ini terbukti dengan banyaknya candi-candi di tanah Pasundan namun tidak ada satupun patung di sekitar Candi tersebut. Oleh karena itu, Dedi Mulyadi dianggap hanya jualan nama baduy dan Sunda wiwitan untuk membenarkan perbuatannya. Sehingga ini merupakan penistaan budaya Sunda menurut Kiyai Fachru.

Sejarah membuktikan para keturunan Prabu Siliwangi tidak pernah membawa budaya musyrik dan budaya patung. Almarhum Tubagus Bakri (Mama Sempur), seorang ulama besar di Plered Purwakarta yang juga keturunan Prabu Siliwangi dari jalur Maulana Hasanudin merupakan ulama Istiqomah yang senantiasa menjaga Aqidah para santrinya untuk menjauhi dosa Syirik. Sedangkan Dedi Mulyadi hanya berimajinasi tentang Prabu Siliwangi berdasarkan syahwat pemikirannya.

Selanjutnya Kyai Fachru memberi dukungan untuk para ulama Purwakarta untuk bersatu melawan budaya-budaya yang dilarang oleh ajaran Islam.


Sumber : FPI Banten

Red : Abdullah

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.