Oleh: Abdul Aziz Jazuli. Lc
Penulis adalah penasihat Divisi Kajian Literatur Islam
FMI Jatim dan Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas al-Ahgaff.


Dengan mendengar kata "sekularisme" makan akan timbul dua kata: politik dan agama. Politik adalah "Pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti sistem pemerintahan, dasar pemerintahan" [KBBI]. Dengan kata lain, politik itulah yang mengatur urusan-urusan kenegaraan. Sementara, Islam, ad-din, atau syariat, para ulama telah mendevinisikannya sebagai:

وضع إلهي سائق لذوي العقول باختيارهم المحمود إلى ما يصلح معاشهم ومعادهم

"Uraian ketuhanan yang mengarah kepada orang berakal dengan keinginan mereka yang positif kepada kemaslahatan mereka baik kehidupan (duniawi) maupun tempat kembali mereka (ukhrowi)". [Tuhfatul Muhtaj, Ibn Hajar (1/21), Al-Minhajul Qowim, hal 8, dan Tajul Arus, Muhammad Murtadlo Az-Zabidi, (35/36), Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at, al-Buthi, hal 53] hal ini tak hanya disebutkan oleh ulama yang saya sebutkan saja. Akan tetapi puluhan –jika bukan ratusan ulama- yang menyebutkan devinisi tersebut.

Dari devinisi tersebut, agama membawa sebuah ajaran yang mencakup segala aspek, duniawi dan rohani, ketata-negaraan dan urusan peribadatan serta segala hal yang dijalani oleh semua manusia. Jika agama Islam mengandung arti demikian, saya rasa tidak perlu saya paparkan panjang-lebar mengenai kepemimpinan orang kafir untuk muslimin. Dalam ajaran Islam sudah jelas bagaimana kriteria seorang pemimpin dan apa saja aturan main yang harus dilaksanakan. Tapi, sekarang umat Islam terkecoh oleh propaganda yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam.

Sehingga, banyak umat Islam yang tertipu dengan proyek tersebut. Dan tak mengherankan, jika guru saya Prof. Dr. Abdullah Muhammad Baharun (Rektor Univ. Al-Ahqaf, Yaman) mengatakan: "saya bingung untuk menjelaskan kepemimpinan Orang kafir terhadap muslim; karena seperti seseorang yang disuruh menjelaskan matahari. Matahari yang berada di depan kita yang kita rasakan dan kita temui setiap harinya. Jika dijelaskan, pastilah penjelasannya tidak mungkin sama dengan hakikat matahari itu sendiri. Makanya, ada pepatah yang mengatakan: "minal musykil an tuwadhdhih asy-syai' al-wadhih" (termasuk daripada kemusykilan adalah menjelaskan perkara yang jelas)".

Dan dalam masalah ini beberapa sahabat saya sudah menuliskan artikel untuk mengcounter pandangan saudara-saudara kita yang rela membela "pemimpin kafir" -Kita tak tau apakah dukungan mereka atas dasar kepentingan atau dasar ketidak-tauan tantang hukumnya??- Diantaranya adalah artikel Muhammad Hanif al-Attos dan Ali Abdurrahman As-Seggaf, dan saya rasa tulisan mereka berdua sudah sangat mencukupi.
Tapi bukan masalah itu yang ingin saya paparkan disini. Tapi saya ingin membandingkan dua hal di atas (Islam dan Politik), dan bagaimana pandangan ulama kita mengenai kedua hal tersebut.

Yang memisahkan antara dua komponen tersebut ialah satu faham yang bernama "Sekularisme". Dalam pemaknaannya, saya sebutkan beberapa versi: 
(1) "Paham atau pandangan yg berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama" [lihat: KBBI]. Disini ada kejelasan yang sangat, bahwa sekularisme merupakan upaya pemisahan antara agama dan Negara.
(2) "Perhatian manusia terhadap keduniaan dengan memutuskan tali dari wahyu ilahi". [Malzamah Firoq dan tayyaroot, Prof. Dr. Abdullah Muhammad Baharun, hal 31]. Nah, berarti dengan faham ini, manusia ingin membebaskan diri dari belenggu agama dengan ingin melakukan segala hal atas dasar keinginan dan hawa nafsuya.
(3) Dr. Muhammad Said Romadhom al-Buthi, mengartikannya sebagai: "al-laadiniyyah" (ajaran anti agama). [Al-Madzahib At-Tauhidiyyah, Al-Buthi, hal 319] dan ternyata ungkapan beliau terkait sekularisme lebih fulgar daripada yang lain.

Sejarahnya: Secara singkat, faham ini merupakan upaya ketidak-puasan sebagian kalangan dengan tindakan penguasa yang berkiblat kepada pemuka agama di Eropa. Sehingga, dengan rasa ketidak-puasan tersebut mereka melakukan revolusi yang mengupayakan pemisahan peran agama Kristen dengan pemerintahan. [Malzamah Firoq & Tayyaroot, hal 31-32 dan Al-Madzahib At-Tauhidiyyah, Al-Buthi, hal 320].

Dan hasil dari revolusi itu: Agama Kristen tidak memiliki andil dalam jalannya roda pemerintahan. Syeh al-buthi menegaskan: "Tujuan dari revolusi tersebut ialah membatasi validitas Gereja hanya khusus pada hubungan manusia dengan tuhannya dengan menjauhi urusan-urusan politik" [Al-Madzahib At-Tauhidiyyah, Al-Buthi, hal 320]

Singkatnya, timbulnya faham ini berasal dari ketidak-beresan tokoh-toko gereja. Tapi di kemudian hari para musuh Islam ingin menanamkannya kepada pemuda Islam guna diterapkan di seluruh penjuru dunia. Tak mengherankan, beberapa tokoh di Indonesia yang diagung-agungkan oleh pemujanya mengadopsi dan menanamkan faham ini kepada para pengikutnya. Terlebih masalah kepemimpinan orang kafir terhadap muslim. Dengan dalih bahwa "seorang yang adil walaupun kafir itu lebih baik daripada yang tidak adil walaupun muslim." Dengan artian: pemimpin kafir tapi adil dari pada muslim tapi tidak adil. Apakah semua muslim itu tidak adil sehingga dapat diklaim sedemikian rupa…??.

Sedikit saya kutipkan pandangan Dr. Muhammad said Romadhon al-buthi di dalam karya spektakulernya yang berjudul fiqh al-Siroh, beliau menyatakan: "Sesungguhnya agama ini, yang diturunkan kepada semua nabinya, merupakan proses keluarnya manusia dari kekuasaan manusia kepada kekuasaan Allah dan hukum-Nya belaka" [Fiqh Al-Siroh, hal 71]

Pada bagian yang lain, di dalam pembahasan Piagam Madinah, beliau menolak pandangan bahwa: "...Islam tidaklah terkecuali hanya agama yang mengatur urusan hamba dengan tuhan saja, dan tidak ada sangkut pautnya dengan kenegaraan dan perundang-undangan" [Fiqh Al-Siroh, hal 152]. Padahal, -menurut beliau sebelumnya- Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali, bahka ketatanegaraan pun syariat memiliki aturan di dalamnya. Maka, tuduhan yang diusung oleh para musuh Islam, sama sekali tidak dibenarkan.

Masih berreferensi kepada penulisan Dr. al-buthi, tapi di dalam bukunya yang berjudul "Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at" (Islam adalah suaka seluruh masyarakat). Beliau menyebutkan sub bab "ayyuhuma aqomahullah li ri'ayati ats-tsani: ad-din lid-dunya am ad-dunya liddin" (manakah dari dua hal yang Allah dirikan untuk menegakkan yang kedua??: agama untuk dunia ataukah dunia untuk agama). Dan pemaparan untuk masalah ini cukup panjang. Dan ikhtisharnya adalah: tentunya ungkapan yang kedua (Yaitu dunia untuk agama), sebagaimana anda bisa telaah sendiri di dalam buku tersebut. [Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at, al-Buthi, hal 49].

Red : Abdullah / FPI Online


Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.