Oleh: Dr. Adian Husaini
(Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor)


“Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96).

“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-Hakim).

Al-Quran Surat al-A’raf ayat 96 tersebut dengan sangat gamblang memberi kabar gembira, bahwa jika suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja, itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga, kelompok, atau pun pada tataran kenegaraan.

Pemimpin yang beriman dan bartaqwa adalah pemimpin yang bertauhid, yang berkomitmen menegakkan misi utama kenabian, yaitu menegakkan Tauhid. (QS 16:36). Pemimpin semacam ini yakin bahwa hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu, tiada anak atau diperanakkan. Hanya Allah yang berhak disembah. Ia pun yakin, bahwa Allah telah mengutus para Nabi — mulai Adam a.s. sd Muhammad saw – yang diberi tugas menyampaikan ayat-ayat-Nya dan mensucikan jiwa mereka. Ia pun yakin, bahwa semua amal perbuatannya akan diminta pertanggung jawaban di Hari Akhir nanti.

Maka, pemimpin yang bertauhid dan berkomitmen menegakkan misi kenabian seperti itu, pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan tidak akan tertawa atau berpesta pora ketika rakyat susah dan sengsara.

Pemimpin berkomitmen pada misi kenabian itu, tidak mau munafik; tidak berpura-pura beriman dan baik di hadapan manusia, sedangkan hatinya benci kepada Islam, lebih memuja jalan dan aturan setan, ketimbang jalan Allah Yang Maha Pencipta. Pemimpin taqwa akan malu kepada Allah, jika berpura-pura bersimpati pada rakyat padahal itu hanya untuk pencitraan di depan manusia. Ia sadar benar, bahwa keberadaan dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin sangatlah berat. Jika ia menzalimi rakyatnya, maka ia akan diazab oleh Allah SWT dengan azab yang pedih. Nabi Muhammad saw bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang diamanahi untuk memimpin rakyat oleh Allah, lalu ia mati dan pada saat mati ia berkhianat pada rakyatnya, kecuali Allah SWT mengharamkan surga baginya.” (HR Muslim).

Karena itu, kita, umat Islam, diperingatkan oleh Rasulullah saw agar sangat berhati-hati memilih pemimpin. “Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-Hakim).
Jadi, kita tidak patut sembarangan tentukan pemimpin. Apalagi pemimpin pada level kenegaraan. Ada tanggung jawab dunia akhirat. Jika memilih pemimpin bukan yang terbaik menurut kriteria Islam, maka bisa dikategorikan telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya; na’udzubillahi min dzalika. Maka, sepatutnya, kita TIDAK memilih pemimpin karena hubungan keluarga, hubungan kesukuan, hubungan kelompok, dan sebagainya, dengan meninggalkan prinsip iman dan taqwa. Sesuai arahan Rasulullah saw, kita pilih pemimpin karena memang ia orang yang terbaik ketaqwaannya – yang juga mencakup aspek profesionalitasnya. Sebab, pemimpin kita itu adalah IMAM, yang bertanggung jawab urusan dunia dan akhirat!

Dalam pandangan Islam, pemimpin bukan sekedar mengurus masalah dunia. Pemimpin bukan sekedar mengurus KTP, pajak, dan kesejahteraan ekonomi. Tapi, pemimpin akan dimintai tanggung jawab apakah ia telah berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan rakyatnya, atau justru ia merusak keimanan rakyatnya. Indonesia adalah negeri penuh berkah, amanah para wali dan para pejuang Islam yang beratus-ratus tahun berjuang di negeri ini; menyemai benih Tauhid, hingga negeri yang sebelumnya 100% penduduknya tak tersentuh Risalah kenabian, kemudian menjadi hampir seluruhnya muslim.

Pemimpin bertaqwa bukan hanya mengusahakan agar rakyat bisa terpenuhi sandang, pangan, dan papannya, tetapi juga sungguh-sungguh dalam membangun jiwanya sendiri dan jiwa rakyatnya, agar mereka terbebas dari penyakit-penyakit jiwa, seperti sombong, serakah, rakus dunia, riya’, iri hati/dengki, dan sebagainya. Sebab, Allah SWT sudah mengabarkan bahwa sangatlah beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sangatlah celaka orang yang mengotori jiwanya. (QS 91:9-10). Mungkin bukan kebetulan, jika penggubah lagu Indonesia menyerukan: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!

Kita syukuri nikmat Allah, bahwa kita menjadi Muslim, dan tinggal di negeri yang indah, subur dan makmur. Tentu menjadi tanggung jawab kita semua untuk memakmurkan negeri ini, melaksanakan tugas kita sebagai khalifatullah, menjadikan negeri anugerah Ilahi ini menjadi negeri adil-makmur di bawah naungan ridho Ilahi (baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur).

Saudara-saudaraku para politisi Muslim, pimpinan Partai Islam, dan segenap umat Islam Indonesia, kita akui, saat ini, panggung politik Indonesia didominasi oleh wacana politik sekuler. Wacana-wacana duniawi, urusan ekonomi, janji-janji kesejahteraan hidup, menjadi wacana yang sangat dominan. Wacana keimanan, akhlak, dan pembangunan jiwa menjadi terpinggirkan; dianggap “tidak laku dijual”; bahkan dianggap tidak relevan. Seolah-olah, semua masalah bangsa ini akan bisa diselesaikan dengan akal dan materi. Agama dianggap tidak penting. Panduan Nabi saw dalam berasyarakat dan bernegara diabaikan begitu saja. Kadangkala, untuk basa-basi politik, Nabi hanya diingat saat perayaan Maulid. Kyai atau ulama jadi pelengkap untuk baca doa dalam upacara bendera.

Padahal, sebagai Muslim, kita diajarkan, bahwa manusia itu bukan sekedar kumpulan tulang dan daging. Manusia beda dengan binatang. Manusia punya jiwa, ada Ruh. Tujuan manusia adalah hidup bahagia. Kekuatan manusia pun terbatas. Kita diajar oleh Nabi kita: Ihrish ‘alaa maa yanfauka, wasta’in billahi, wa-laa ta’jizan…. (Bersemangatlah selalu untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali merasa lemah dan tidak mampu!”)

Masalah bangsa kita sangat besar dan komplek. Dengan utang luar negeri di atas Rp 2.000 trilyun, kerusakan sumber daya alam yang makin meluas, pragmatisme dan fragmentasi masyarakat yang sangat mengemuka, dan setumpuk masalah bangsa lainnya, diperlukan solusi yang bukan hanya bersifat “rasional” tapi juga “supra-rasional” dengan memohon rahmat Allah Yang Maha Kuasa, sebagaimana telah begitu indah ditegaskan oleh para founfing fathers dalam Pembukaan UUD 1945 dalam pencapaian kemerdekaan negara kita.

Karena itu, sepatutnya, kita malu kepada Allah, jika mengaku-aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi pada saat yang sama juga membiarkan berkembangnya kemusyrikan di negeri kita. Padahal, kita tahu, syirik adalah dosa besar yang tak terampunkan. Syirik adalah kezaliman yang sangat besar. (QS 31:13). Kita sepatutnya malu, menengadahkan tangan kepada-Nya, memohon negeri kita diberkati Allah, sementara pada saat yang sama, kita membiarkan berbagai tindakan yang jelas-jelas melawan perintah dan larangan Allah SWT.

Tuan-Tuan penguasa memberikan kebebasan seluas-luasnya wanita mengumbar auratnya, sementara di sebagian instansi pemerintah, muslimah justru dilarang menutup auratnya. Pada berbagai kesempatan, kontes-kontes yang mengumbar aurat justru dikembangkan. Bagaimana para pemimpin kita nanti harus bertanggung jawab, saat mereka dihadapkan kepada Hakim Satu-satunya di Hari Kiamat? Apa jawab mereka kepada Sang Khaliq?

Saudaraku, seluruh kaum Muslimin Indonesia, para politisi Muslim, dan pimpinan Patai Islam…. Kita sangat mafhum, bahwa hidup di dunia ini sangatah singkat. Kuasa dan harta yang kita kejar sekuat tenaga, tak akan membawa bahagia, bahkan bisa menjadi bencana, jika tidak kita niatkan untuk ibadah kepada Allah SWT. Betapa banyak pemimpin dunia yang — di dunia pun — tak mengenyam bahagia, selalu dirundung masalah demi masalah, dan di akhirat ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Tanggung jawabnya sangatlah berat.

Saya paham, demi pertimbangan untuk meraih suara dalam Pemilu, jargon “menegakkan Tauhid” mungkin kini dianggap tidak layak untuk dijual. Jargon pemberantasan korupsi dianggap lebih layak dijual kepada rakyat untuk meraih dukungan mereka. Tapi, sebagai pelanjut perjuangan para Nabi dalam penegakan misi kenabian, kita hanyalah satu mata rantai dari serangkaian derap langkah panjangnya para Nabi utusan Yang Maha Kuasa.

Kita tatap dengan semangat dan penuh optimis masa depan perjuangan Islam di Indonesia. Kita arahkan pandangan kita ke ufuk cakrawala yang jauh, tanpa mengabaikan realitas kondisi dan situasi yang terjadi. Realitas penting untuk menjadi pertimbangan kita. Tetapi, misi abadi kenabian, penegakan kalimah Tauhid dan menebar rahmat ke seluruh alam, tidak boleh tenggelam oleh kepentingan pragmatis kekuasaan semata. “Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ad-Din yang Haq untuk dimenangkan atas berbagai agama lainnya, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS ash-Shaf:9).

Nabi Ibrahim (a.s.) yang begitu mulia dan selalu kita panjatkan doa untuknya, memang diusir dan dibakar oleh sang penguasa. Tapi, al-Quran lebih membela Ibrahim, dan sama sekali tidak bersimpati kepada raja yang musyrik dan zalim, meskipun sang raja itu besar kuasanya. Meskipun Firaun jauh lebih kuat dari Musa (a.s.), tapi al-Quran tidak pernah sedikit pun memberikan pujian untuk Fir’aun. Ketika kecil dan ketika kuat, Daud a.s. tetap dipuji karena keteguhannya memperjuangkan kalimah Tauhid.

Jika tidak ingin dimusuhi kaumnya yang musyrik, logikanya, lebih aman dan nyaman, jika Nabi Muhammad saw tidak mendahulukan seruan tauhidnya dan mengkritisi kemusyrikan yang telah menjadi tradisi bangsanya. Meskipun ditentang keras, dimusuhi, diboikot, diancam dibunuh, dan sebagainya, Nabi saw tetap mengajak kaumnya untuk meninggalkan agama mereka yang syirik dan memeluk Islam, mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan mengakui Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang terakhir.

Mungkin, jika ingin dakwahnya diterima secara luas, tidak dimusuhi kaum dan keluarganya sendiri, dan bisa hidup lebih nyaman, Nabi Muhammad saw hanya akan mengangkat isu-isu ekonomi dan kesejahteraan, dengan – misalnya — membentuk semacam koperasi atau Perseroan Terbatas. Bangsa Arab akan menerima ajakan itu, karena Rasulullah saw juga pedagang yang sukses dan manusia terpercaya. Meski pun al-Quran memerintahkan kepedulian sosial yang tinggi sejak dakwah di periode awal di Makkah, tetapi seruan untuk menegakkan Tauhid adalah isu utama dalam dakwah Nabi.

Hanya dengan Tauhid, iman kepada Allah dan rasul-Nya, maka manusia menjadi mulia, di dunia dan akhirat. Kita camkan benar peringatan al-Quran: “Jangan merasa hina dan jangan berduka! Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kalian mukmin!” (QS 3:139).

Umat Islam adalah ummatur-risalah. Kita mendapatkan amanah dari Allah SWT. Kita kibarkan panji Tauhid, panji jiad fi-sabilillah dalam berbagai lini kehidupan, meski banyak yang enggan melirik, bahkan ada yang sinis dan mencibirnya. Sebab, hanya dengan IMAN kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad fi-sabilillah, maka manusia akan selamat dari siksa neraka. (QS 61:10-11).

Mari kita pilih PEMIMPIN TERBAIK, berdasarkan kriteria IMAN dan TAQWA-nya, yang kita percayai memiliki ilmu dan pribadi unggul, yang mampu memimpin dan membawa negeri ini kepada keberkahan Ilahi; pemimpin yang cerdas, yang tawadhu’, tidak angkuh, tidak jumawa, tidak munafik, tidak rakus dunia, tidak silau gemerlapnya dunia, yang bersedia memadukan panca indera dan akalnya dengan wahyu Allah SWT.

Sekali lagi, jangan sampai kita salah pilih, karena Rasulullah saw sudah memperingatkan:
“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-Hakim).


Memilih pemimpin adalah urusan penting dalam agama kita. Sepatutnya kita bersikap hati-hati. Semoga kita dan keluarga kita mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah SWT. Amin. 


Red : Abdullah / FPI Online

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.