Bohong Yang Bilang Islam Di Indonesia Tanpa Perang
Oleh : Ustadz Abdul Aziz Jazuli, Lc *

FPI Online - Begitulah dakwah Wali Songo menurut pandangan al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, Pendiri serta Imam Besar FPI (Front Pembela Islam), ketika saya bersilaturrahmi ke pondok pesantren beliau "Markaz Syariah" yang bertempat di Mega Mendung, Puncak, Bogor. Beliau mengatakan hal demikian ketika mengomentari pandangan Ketua Umum PBNU, KH. Said Agil Siroj yang mengatakan bahwa "Islam Indonesia berbeda dengan Islam Arab, kalo Islam Arab tersebar dengan pedang/perang. Sementara Islam Nusantara tidak."

Beliau menegaskan, "Said Agil itu kurang membaca sejarah. Kalau dia belajar sejarah Indonesia, dia tidak akan berkata demikian. Coba kita teliti lagi! Maulana Malik Ibrahim misalnya, yang menikah dengan salah satu putri Brawijaya, beliau diusir bahkan diancam dibunuh mati karena menyebarkan Agama Islam dan berdakwah kepada rakyatnya. Juga dengan kerajaan Mataram Islam yang diajak perang dengan kerajaan Majapahit lantaran berbeda agama dengan agama leluhur majapahit yaitu agama Hindu.

Begitu juga dengan kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati (cucu dari Prabu Siliwangi dari pihak ibu) yang berperang dengan kakeknya sendiri Prabu Siliwangi dari kerajaan Siliwangi lantaran berbeda agama.

Banyak dai-dai Islam yang mati dibunuh oleh tangan-tangan orang-orang Hindu yang dengan terang-terangan memusuhi dan membunuh secara keji. Oleh karenanya, mau tidak mau para dai lebih khususnya para dai Wali Songo membela diri mereka dengan perlawanan serupa.

Jihad dilakukan dalam keadaan tertentu. Ketika terdesak misalnya, atau membela diri dari kedholiman musuh Islam. Sebagaimana yang tertera di dalam literatur-literatur fiqih. Dakwah mereka asalnya adalah dengan akhlak, santun, dan budi pekerti yang luhur, namun ketika didholimi jihad menjadi jawabannya.

 Jadi jelaslah salah apa yang mereka kemukakan bahwa dakwahnya Wali Songo tenang-tenang saja, damai, tanpa ada perlawanan baik dari rakyat ataupun para penguasa tanah Jannatud dunya (surganya dunia ini) yakni Indonesia tercinta ini.


Makna Wali ?

Ada PR yang perlu dikaji secara ilmiah dengan cermat oleh Umat Islam, khususnya para ulama dan sejarawan. Yaitu seputar kata "Walisongo" Radhiallahu 'Anhum. Apa yang dimaksud dengan Wali? Setidaknya, Disini timbul 3 opsi :

  1. Berarti "Waliyyul Amr" yaitu pemimpin bagi daerah-daerah yang mereka dakwahi dan mereka kuasai?? Karena mereka membuat semacam Dewan Perwakilan yang berjumlah 9 orang untuk mengeksekusi Syeh Siti Jenar, karena fahamnya yang melenceng dengan faham Walisongo. Sehingga ada semacam kekhawatiran kepada Umat Islam dengan faham yang ia bawa. Dan menurut mereka faham itu hanya khusus baginya dan tidak layak untuk disebarkan di kalangan umum.
Tapi, Syeh Siti Jenar tidak mengindahkan ancaman dari para wali songo. Maka dihukumlah Syeh Siti Jenar dengan mengeksekusi alias hukuman mati [jika memang benar demikian. Hal ini perlu kajian khusus]. Sementara, proses pengeksekusian itu tidaklah mudah, tidak dilegalkan kecuali dari pihak Waliyyul Amr."

Begitu pula dengan perintah Sunan Gunung Jati kepada Sultan Hasanuddin untuk melawan Portugis yang mau menjajah dan menguasai tanah Jawa. Perintah yang seperti ini tidaklah datang kecuali dari Waliyyul Amr yaitu penguasa. Apalagi mayoritas Walisongo itu memiliki hubungan darah dengan raja-raja Jawa. Sehingga dengan demikian dakwah yang mereka sebarkan dapat begitu mudah diterima oleh rakyat Jawa. Karena jika mereka berasal dari kalangan rakyat jelata biasa maka tidak dengan mudah diterima. Apalagi dengan keadaan Jawa waktu itu yang memitoskan raja mereka.

2. Atau berarti "Waliyullah" (kekasih Allah, ashhabul karomat) yang memiliki kedekatan luar biasa kepada Allah dan mempunyai martabat khusus di sisi Allah swt. Tapi yang sangat disayangkan adalah khurofat-khurofat yang bertebaran di masyarakat menganai karomah para wali songo. Dan asal-muasalnya adalah dari cerita rakyat, sedangkan cerita rakyat itu banyak mengandung khurofat-khurofat. Maka, kita harus cerdas memilah mana sejarah dan mana cerita rakyat. Sayangnya, bangsa ini suka dengan hal-hal yang seperti itu. kita sebagai Ahlusunnah wal Jama'ah tidak mengingkari karomah para wali, karomah wali adalah HAQ. Para wali memang memiliki karomah dhohir terlebih bathin yang luar biasa. Akan tetapi tak bisa semua yang beredar diterima mentah-mentah, perlu ada sumber periwayatan yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Jangankan karomah, mukjizat nabi saja tidak bisa diterima kecuali dengan sanad (mata rantai periwayatan)  yang shohih. Begitu juga dengan karomah, Tidak ada bedanya. Bahkan kita lebih berhati-hati dalam hal ini.

          3. Atau berarti kedua-duanya "waliyullah" dan "waliyyul amr"??".
Makna yang terakhir ini tidak jauh; karena dengan terkumpulnya dua unsur ini, dakwah Islam dapat diterima dengan mudah oleh kalangan masyarakat Jawa. Tapi tidak ada referensi yang jelas dan gamblang dalam penyebutan maknanya.

Apapun itu, hal ini tidak bisa dipastikan mana makna yang sebenarnya dari tiga makna tersebut; karena memiliki problematika yang rumit serta referensi-referensi otentik yang sulit didapat.

Adapun rujukan sejarah yang mungkin dapat ditelaah dalam permasalahan ini –sebagaimana anjuran beliau- adalah beberapa nama buku yang Habib Riziq sebutkan di dalam buku beliau "Amar Makruf Nahi Munkar" hal 93-104 dan hal 236-241. Dapat anda telaah sendiri di dalam buku tersebut.

Bogor, 14 Jumadal Ula 1437.


* Penulis adalah Penasihat Divisi kajian literatur Islam FMI (Front Mahasiswa Islam) Jatim & Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas al-Ahgaff Yaman.
Label:

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.