FPI Online, Jabar - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Sihab dinyatakan tidak terbukti melakukan penghinaan terhadap budaya Sunda. 

Penegasan ini disampaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Sulistio Pudjo, Rabu (23/12/2015) lalu. 

Pudjo mengatakan, polisi telah selesai meminta pendapat ahli bahasa untuk bahan penyelidikan pelaporan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) terhadap Habib Rizieq.  Berdasarkan keterangan saksi ahli linguistik (bahasa) tersebut, Pudjo mengatakan, ungkapan "campur racun" yang disampaikan Habib Rizieq dalam ceramahnya di Purwakarta, Jumat 13 November lalu dinyatakan tidak ada unsur penghinaan terhadap budaya Sunda. 

Menurut Pudjo, keterangan saksi ahli mengatakan, telah terjadi kesalahpahaman tentang pemahaman sampurasun sebagai budaya Sunda. "'Sampurasun' tidak bisa disamakan dengan ucapan 'assalamualaikum' dalam ajaran Islam," ujar Pudjo melalui pesan singkat, Rabu (23/12/2015) seperti dikutip Tempo.co.

Pudjo menjelaskan, saksi ahli berpendapat secara tata bahasa dan gimmick, ungkapan 'campur racun' yang dilontarkan Habib Riezieq tersebut tidak ditujukan pada obyek 'sampurasun' sebagai budaya masyarakat Sunda. Melainkan, ungkapan Riezieq tersebut bentuk ketidaksukaan Habib Rizieq terhadap tindakan-tindakan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. 

"Secara keseluruhan bukti yang ditelaah ahli bahwa ucapan 'campur racun' tidak diarahkan kepada penghinaan terhadap ucapan 'sampurasun'," ujar Pudjo.

Pudjo mengatakan, barang bukti yang dijadikan bahan penyelidikan adalah rekaman video Habib Rizieq saat berceramah di Purwakarta, 13 November 2015 lalu. 

Dijelaskannya, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi tersebut, diperoleh kesimpulan sementara, Habib Rizieq tidak terbukti melakukan penghinaan terhadap budaya Sunda seperti yang dilaporkan AMS.

"Kesimpulan sementara bahwa tidak terbukti adanya penghinaan terhadap budaya Sunda tapi bukti tersebut ditujukan untuk penghinaan kepada Dedi Mulyadi," ujar Pudjo.

Kendati demikian, pihaknya masih menunggu serangkaian hasil penyelidikan lainnya yamg meminta keterangan dari pakar informatika. "Untuk pengunggah menunggu data dari Kemenkominfo. Nanti setelah diperiksa dari saksi DPD FPI Jabar sekaligus menanyakan alamat admin pengunggahnya, akan diundang Mohammad Syahid Joban," ujar Pudjo.

Sebelumnya, AMS membuat laporan polisi pada 24 November 2015 lalu ke SPKT Polda Jabar dengan nomor surat LPB/967/XI/2015/JABAR tertanggal 24 November 2015. Kasus ini tengah ditangani Subdit II Ditreskrimsus Polda Jabar.  Habib Rizieq dilaporkan dengan tuduhan menghina budaya Sunda atas guyonannya memelesetkan "sampurasun" menjadi "campur racun".

Sumber: Suara Islam Online
Red: Farhan
Label: ,

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.