Solusi Ilahi & Nabawi Untuk Atasi Bencana Asap (Bagian 1)
Oleh: Habib Mahdi bin Syahab *

Beberapa bulan terakhir ini, Sebagian wilayah di Indonesia dilanda dengan bencana asap yang hebat. Sebagian penduduk negeri ini terpaksa hidup dengan menghirup udara yang tidak sehat, tercemar asap kebakaran hutan. Sekolah-sekolah dilibuarkan, bandara ditutup, serta aneka kegiatan lainnya terganggu. Puluhan ribu orang harus menderita sakit pernapasan. Beberapa bahkan dilaporkan sudah meninggal dunia. 

Aneka upaya pemadaman sudah dilakukan pemerintah. Ribuan tentara dan relawan sudah diterjunkan, berbagai peralatan sudah dikerahkan, namun nyatanya asap tak kunjung hilang, bahkan kian hari kian menjadi-jadi. 

Udara bersih yang selama ini dinikmati gratis selama bertahun-tahun, kini jadi sesuatu yang langka. Nikmat udara yang selama ini melimpah ruah, kini jadi dambaan. Dari peristiwa ini pula kita baru menyadari, bahwa selama ini kita bergelimang nikmat Allah, udara segar yang setiap hari kita hirup cuma-cuma.

Dari kejadian inipun kita harus mengakui bahwa sekuat apapun usaha kita, sehebat apapun teknologi dan fasilitas kita tidak bisa membendung asap yang telah menyiksa mayoritas penduduk negeri. Kita harus sadar bahwa Solusi Insani sangat terbatas juga memiliki banyak kendala dan kita harus mengakui itu semua, walaupun itu harus terus dilakukan sebagai bentuk ikhtiar kita.

Lantas apa solusi lainnya?  Solusi yang kita tunggu bersama saat ini adalah turunnya hujan yang bisa memadamkan api penyebab kabut asap yang menyesakkan. 

Bagaimana upaya yang mesti kita lakukan? Berikut ini kami sajikan dua solusi mujarrab, Solusi Ilahi dan Solusi Nabawi.

SOLUSI ILAHI : TAUBAT NASIONAL, PERBANYAK ISTIGHFAR

Ketika Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah sedang duduk-duduk di dalam masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba ada seorang yang datang menghampirinya dan berkata dengan nada mengeluh, "Ya Taqiyuddin, hujan belum juga turun."

Mendengar perkataan tersebut Hasan Al Bashri menasehati, "Perbanyaklah istighfar kepada Allah."

Tak lama kemudian datang lagi seorang lainnya yang juga mengadukan keluh kesahnya,"Ya Taqiyuddin, aku menderita kemiskinan yang parah." Maka Imam Hasan Al Bashri berkata,"Perbanyaklah istighfar kepada Allah!"

Seorang yang lain juga datang mengeluhkan keadaan dirinya, "Ya Taqiyuddin, istriku mandul, tidak bisa melahirkan anak!" “Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala," kata Hasan Al Bashri rahimahullah masih dengan jawaban yang sama.

Tak lama kemudian ada seorang lagi yang datang, "Ya Taqiyuddin, bumi sudah tidak memberikan hasil bumi dengan baik." Maka sekali lagi Hasan Al Bashri pun berkata, "Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala."

Beberapa teman yang sedang berkumpul bersamanya di tempat itu terheran-heran dengan jawabannya. Mereka bertanya, kenapa setiap ada orang yang mengeluhkan hal-ikhwalnya kepadamu, selalu selalu anda perintahkan kepadanya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah?

Maka Imam Hasan Al Bashri menjawab, "Apakah anda tidak membaca Firman Allah Ta′ala?” (yang artinya :

"Maka Aku katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun (istighfar) kepada Rabbmu. Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuknya kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."(QS. Nuh:10-12).

Bersambung ...

* Penulis adalah ketua DPD FPI Sumatera Selatan, Alumni Ma'had Darul Musthofa Tarim Hadramaut Yaman.
Label:

Poskan Komentar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.