FPI Online, Bogor - Ulama kharismatik asal Cirebon, Buya Yahya memberikan pandangannya soal Islam Nusantara yang sedang marak dibicarakan saat ini. 

Seperti dikutip dari Suara Islam Online, Buya mengatakan bahwa secara istilah Islam Nusantara sebenarnya tidak masalah, akan tetapi saat ini sedang digunakan sebagian orang untuk tujuan jahat, katanya saat ditemui di di Masjid Raya Bogor, Rabu (9/9). 

"Islam Nusantara yang dibangun oleh Walisongo dengan penuh kelembutan keindahan, dan Walisongo yang manhajnya kembali kepada ulama Hadromaut itu jelas indah bukan ekstrim. Cuma istilah ini sedang digunakan orang liberal, jadi ini penjahatnya," kata Buya.

Menurutnya, kalau Islam di Indonesia atau Islam di Nusantara maksudnya Islam disebarkan di Nusantara bukan berarti tidak mau dengan Arab. "Tapi manusia liberal ini memfitnah menggunakan istilah ini untuk memasukkan macam-macam yang ngaco itu," ujar Buya.

Kalau seandainya tidak ada liberalisme, tidak ada orang-orang liberal kita mengucapkan Islam Nusantara memang indah, lanjutnya.

Sederhananya, menurut pengasuh lembaga dakwah Al Bahjah ini, Islam Nusantara itu ada dua makna. "Kalau menurut orang yang paham syariat itu maknanya kelembutan tapi kalau dimaknai orang-orang liberal itu jadi beda," jelas Buya.

Ia mencontohkan seperti halnya ajaran yahudi versi Nabi Musa. "Saya terima agama yahudi tetapi yahudi yang dulu sebelum ada perubahan. Jadi, kita bicaranya yahudi sesuai agamanya Nabi Musa Alaihissalam tetapi orang liberal bicaranya yahudi yang hari ini sehingga harus diterima agamanya, persis seperti itulah Islam Nusantara," ungkapnya. 

Karena itu, menurut Buya, semuanya harus jelas, karena ada sebagian masyaikh yang menerima Islam Nusantara atas dasar defisini tadi seperti halnya orang Islam menerima yahudi versi Nabi Musa. 

"Kita tidak menerima ajaran yahudi sekarang yang sudah rusak, tapi orang batil ini, orang liberal ini mendefinisikan Islam Nusantara itu Islam yang jauh dari Arab, tidak ada cadar, tidak ada menutup aurat, nanti bisa jadi ada Islam eropa pakai bikini," tandasnya.

"Maka lebih bijak tidak menggunakan istilah Islam Nusantara itu karena banyak penjahatnya," tegas Buya.

Sumber: Suara Islam
Red: Farhan
Label: ,

Poskan Komentar

  1. saya setju dengan argumen buya Yahya ,, banyak klompok liberalisme yang anti Islam yang membelokan makna positif yang ada dalam Islam

    BalasHapus
  2. Perbedaan jgn d pertajam .. selagi nabi fan kiblat nya sama .. ulama jgn jd pemecah

    BalasHapus
  3. Perbedaan jgn d pertajam .. selagi nabi fan kiblat nya sama .. ulama jgn jd pemecah

    BalasHapus
  4. Walau sama sama menggunakan alquran,tp Kalau Ulama mulai memihak,maka ulama mulai menikmati peran kepentingan yg salah

    BalasHapus
  5. sampah islam nusantara!... arab bukan islam, dan indonesia juga bukan islam. cukup islam gausah ditambah "nusantara".

    BalasHapus
  6. Untuk anda2 para ulama yg terlalu pintar, Islam adalah agama yg penuh Toleransi,namun bukan Toleransi untuk membuka aurat. Pikir Said Agil..,mana yg budaya dan mana yg perintah..!!

    BalasHapus
  7. Untuk anda2 para ulama yg terlalu pintar, Islam adalah agama yg penuh Toleransi,namun bukan Toleransi untuk membuka aurat. Pikir Said Agil..,mana yg budaya dan mana yg perintah..!!

    BalasHapus

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.