Terkini

FPI Online, Jakarta - Sekjen Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustaz Bachtiar Nasir menentang keras kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) terkait penggusuran di Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Ulama yang kebetulan berasal dari Luar Batang ini, tidak rela kampung halamannya digusur dengan semena-mena oleh Ahok. 
 
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini tanah di DKI Jakarta mayoritas dikuasai oleh segelintir orang, dan itu dilakukan secara "legal" lewat aturan yang dibuat penguasa. 
 
"Masuk akal gak sih gara-gara anda taat hukum, akhirnya tanah di Jakarta 70 persen dikuasai oleh segelintir orang, ini yang disebut taat hukum. Lewat perda, lewat undang-undang, inilah hukum di negeri ini. Negara dirampok masih saja bilang ini hukum," ujar Ustaz Bachtiar Nasir dalam sebuah video ceramahnya yang dikutip Suara Islam Online, Kamis (28/4/2016).
 
Menurutnya, yang membuat negara ini merdeka dan luasnya tidak terkira adalah karena luasnya jiwa dan keikhlasan para pendiri bangsa ini, luasnya keberanian mereka untuk bangsa ini sehingga setiap jengkal tanah ini dibayar darah dan nyawa.
 
"Padahal dahulu belum ada jenderal, tetapi sekarang khususnya TNI Angkatan Darat dan Polri, kok mau dipakai Ahok atas nama undang-undang dan peraturan. Apa tidak melihat reklamasi itu mau kemana? kata Ustaz Bachtiar.
 
"TNI dan Polri melakukan itu karena taat aturan kan, ikuti saja terus aturan itu, habis lama-lama Jakarta ini. Silahkan saja ikuti aturan, anda jadi anak manis saja, akan habis Indonesia," tambahnya.
 
"Seandainya Diponegoro, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol dahulu taat aturan pada saat itu, jadi berjuang gak? terus ada Indonesia?" tanyanya.
 
Oleh karena itu, kata Ustaz Bachtiar, kita harus melawan hukum dengan hukum yang lebih tinggi, hukum yang lebih kuat. Ia berpesan agar jangan pernah takut dengan penguasa manapun selama kita yakin bahwa Allah satu-satunya penguasa di muka bumi ini.
 
Sumber : Suara-Islam.online

FPI Online, Jakata - Warga Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, akhirnya bisa bernapas lega. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, mengabulkan seluruh gugatan warga terkait lokasi sodetan Kali Ciliwung. 
Panitera pengganti PTUN, Eni Nuraeni, membenarkan kemenangan warga Bidara Cina tersebut. "Ya pada sidang kemarin, hasil amar putusannya majelis hakim mengabulkan seluruh gugatan warga Bidara Cina," ujar Eni kepada awak media di PTUN, Rabu (27/4/2016).
Adapun sejumlah pertimbangan majelis hakim dalam amar putusan tersebut antara lain, pihak tergugat, Pemprov DKI Jakarta tidak hadir saat persidangan. Meski demikian, berkas salinan putusan tersebut belum bisa dipublikasikan.
"Ya itu (tergugat tidak hadir) salah satu poin pertimbangannya. Salinan belum bisa dipublikasikan," ujar dia.
Eni menyebut, berkas putusan itu belum ditandatangani oleh majelis hakim. "Karena belum ditandatangani oleh Majelis Hakim," tuturnya.
Seperti diketahui, warga Bidara Cina mengajukan gugatan dengan nomor 59/G/2016/PTUN-JKT. Gugatan tersebut terkait dengan penetapan lokasi sodetan Kali Ciliwung yang berubah tanpa sepengetahuan warga.
Dalam pembacaan putusan di PTUN Jakarta, Senin 26 April 2016, majelis hakim memenangkan warga Bidara Cina karena menganggap SK Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama terkait penetapan lokasi untuk pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur telah melanggar asas-asas pemerintahan yang baik.
Atas kemenangan warga ini, kuasa hukum warga Bidara Cina, Yusril Ihza Mahendra pun langsung menyindir Ahok.
"Ahok menyadari ketika kami membela masyarakat di Bidara Cina (Jakarta Timur), dia kan kalah sama kita. Sementara ini sudah 1-0," kata Yusril yang kini juga menjadi bakal calon gubernur DKI Jakarta.
Sementara itu atas kekalahan telaknya melawan warga Bidara Cina di PTUN ini, Ahok enggan mengomentarinya. "Biasa aja," kata Ahok di Balai Kota, Rabu (27/4/2016).
Meski kalah di PTUN, Ahok mengatakan, sodetan Ciliwung-Kanal Banjir Timur (KBT) tetap berlanjut. "Jalan aja," kata Ahok. 
Sumber : Suara-Islam.online

FPI Online, Jakarta - Kasus pembelian lahan Sumber Waras nampaknya mulai kehilangan arah. KPK yang pernah memanggil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beberapa waktu lalu tidak menunjukkan hasil signifikan.
Padahal data pelanggaran yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Kuangan (BPK) ataupun lainnya menunjukkan telah ada pelanggaran. Gerakan Tangkap Ahok (GTA) pun tidak tinggal diam. Mereka yang menurut informasi akan melakukan demo di depan KPK berharap kasus tersbut segera diselesaikan.
Mereka pun mengeluarkan tuntutan, di antaranya KPK harus menuntaskan penanganan Sumber Waras. “Mendesak KPK agar serius dalam menangani kasus korupsi berjamaah pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras,” demikian yang terlampir dalam undangan.
GTA juga meminta kepada KPK, melihat bukti-bukti yang ada, Ahok sudah dapat dijadikan tersangka. “Segera tetapkan Ahok sebagai tersangka, karena terlibat korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras, yang menyebabkan kerugian negara sebanyak Rp. 191 Milyar.”
Bila tuntutan itu tidak diamini oleh KPK, maka gerakan ini meminta lima pimpinan KPK untuk segera mengundurkan diri. “Apabila tuntutan ini tidak segera ditindak lanjuti oleh ke lima Pimpinan KPK, maka kami atas nama Gerakan Tangkap Ahok (GTA) meminta ke lima Pimpinan KPK untuk mundur dari jabatanya.”
Sebelumnya telah banyak membuka bahwa adaya beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta di dalam membeli lahan tersebut. Misalkan saja yang kentara ialah tidak sesuainya antara tanah dengan alamat tanah yang dibeli.

Sumber : Voa-Islam.com



KPK harus tuntaskan KORUSI TRALALA TRILILI yang merugikan negara trilyunan rupiah dalam Reklamasi Teluk Jakarta. Periksa dan Tangkap semua pihak yang terlibat, baik Pengusaha mau pun Pejabat, baik Eksekutif mau pun Legislatif, TANPA TERKECUALI, walau pun harus ada 1001 Tersangka, jebloskan semuanya ke Penjara.

KPK tidak boleh kalah dengan Korupsi ... !!!



AHOK TIDAK ADA NIAT KORUPSI ???!!!

KPK tidak mau jadikan AHOK sebagai TERSANGKA dalam Kasus RS SUMBER WARAS dengan dalih TIDAK ADA NIAT, walau pun negara telah dirugikan 191,3 milyar rupiah.

FAKTANYA :

1. Penunjukan dan Pengadaan Lahan RSSW serta  Penganggaran Dana pembeliannya "sengaja" tidak sesuai ketentuan.

2. Penetapan lokasi Lahan RSSW "sengaja" tidak melalui Studi Kelayakan dan Kajian Teknis yang wajar.

3. NJOP Lahan RSSW "sengaja" di Mark-Up dari 7,4 juta jadi 20,7 juta.

4. Alamat Lahan RSSW "sengaja" disulap dari Jl. Tomang Utara jadi Jl. Kyai Tapa.

5. Pembayaran Lahan RSSW "sengaja" disegerakan, padahal RSSW masih ada tunggakan pajak PBB senilai 6,6 milyar rupiah.

6. Lahan RSSW masih ada ikatan jual beli dengan Ciputra senilai 564,3 milyar, lalu "sengaja" ditelikung dengan pembelian 755,6 milyar, sehingga negara rugi 191,3 milyar rupiah.

Apakah semua "kesengajaan" ini bukan indikasi kuat adanya NIAT JAHAT ... ???!!!

FPI Online, Jakarta - Respon atas beberapa pihak yang mengklaim dirinya seolah-olah seorang Muslim dengan bangga memperlihatkan dukungannya terhadap Ahok.

Maaf ya jika ada yang tersinggung. ini bukan sara.. saya juga ada keturunan darah Cina nya kok.. Tidak ada SaRa dalam ajaran Islam, semua anak Adam, bukan anak Tuhan karena Tuhan kami tidak beranak apalagi diperanakkan. Subhanallah..

Bapak saya Jawa, ibu WNI keturunan Cina, berhubung saya muslim, jadi di kitab suci saya, tepatnya di surat Ali Imran ayat 28, saya dilarang pilih pemimpin seperti Ahok.

Ingat ini bukan sara, ini soal keyakinan, pilihan dan ajaran agama. Kami umat muslim punya hak sepenuhnya menjalankan ayat tersebut, dan punya kewajiban untuk mengingatkan sesama umat Islam yang terlena dan gak sadar ada perintah Allah tersebut..

Singkat saja, kenapa anda menikah? kok gak kumpul kebo aja? pasti karena di kitab suci disuruhnya menikah. Demikian pula urusan memilih pemimpin..

Jadi hargailah pilihan politik sesuai keyakinan kita.. dan menjalankan apa yang di ajarkan di kitab suci kita adalah hak kita sebagai umat muslim.

Sama halnya seperti kita tidak melarang anda untuk merayakan natal, waisak, nyepi dll..

Jangan bilang kita yg mulai bawa bawa agama duluan ya..

Soalnya ada tim kampanye si Ahok yg non muslim, pura pura pake jilbab jadi muslim, untuk mengelabuhi pemikiran umat muslim lainnya bikin tulisan “saya muslim dan saya pilih ahok”.

Mereka yang mulai duluan, asal kalian tau ini bentuk propaganda busuk..

Kalo sekedar bikin tulisan, siapapun bisa asal sesuai fakta seperti ini, bukan katanya..

Kalo bingung lantas siapa calon pemimpin yang mumpuni?

Saya gak khawatir, meskipun belum memutuskan mau milih siapa, tapi saya sudah tau ada Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Salahuddin Uno dan Adhyaksa Dault yang dari dulu sudah hebat bahkan sebelum Ahok belum ada apa apanya dan terbuka sedikit demi sedikit kebohongannya..

Calon pemimpin selain Ahok mereka sudah hebat tanpa dibantu pencitraan media yang berat sebelah.

Kalau ahok kan sudah jadi rahasia umum dia terkenal karena bantuan pencitraan media media yang tidak netral belakangan ini.. intinya kita tidak kekurangan calon pemimpin muslim yang bagus kok!

Jadi himbauan untuk anda umat muslim di jakarta untuk tidak memilih Ahok datangnya bukan dari FPI atau Habib Rizieq, melainkan datangnya dari Kitab Suci Al-Quran sendiri..

Jadi berhentilah menyalahkan, mengkambing hitamkan FPI dan Habib Rizieq atau Ustad-ustad lainnya karena mereka hanya mengingatkan umat islam lainnya dan mendukung GMJ..


Hanny Kristianto

FPI Online, Jakarta - Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo dalam postingan akun facebooknya mengungkapkan Yang RASIS itu siapa ? Yang bawa-bawa AGAMA itu siapa ?

Menurutnya ahok Terlalu etrims dalam berstatement dan anti kritik yang menggambarkan Ahok anti demokrasi. 

Karena ahok gak mau di kritik, Jika ada yang kritik ahok sedikit aja dengan membawa etnis kecinaannya dia lansung marah dengan mengatakan orang tersebut rasis. Seolah-olah Ahok berlindung di balik isu rasis, Padahal seperti yang kita tahu banyak pendukung ahok yang menyebut Onta arab tak ada yang bilang rasis. Kenapa begitu orang menyebut dengan etnis cina ahok lansung bilang rasis.

Berikut Petikan postingan Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo pada akun facebooknya.

"Yang RASIS itu siapa ?
Yang bawa-bawa AGAMA itu siapa ?
Mengapa #Ahok dgn pakaian dinasnya, di kantor Gubernur DKI, koq bersama istrinya sampai buat pencitraan di TV Negara China, pakai Bahasa Tionghoa dan 'menyombongkan' kepada leluhurnya, bahwa dia tidak melupakan leluhurnya, dan seolah-olah dia itu pemberani, anti mainstream, anti korupsi, pahlawan Demokrasi dan Bhinneka Tunggal Ika.

Hmmm ...
Seharusnya #TemanAhok mengingatkan ada nya UU 24/2009 yg diantaranya mewajibkan pejabat Negara menggunakan Bahasa Indonesia. Serta UU 9/2010 ttg Keprotokolan utk mengetahui posisi #Ahok sebagai pejabat negara.”

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar template oleh johnwoodcock. Diberdayakan oleh Blogger.